Pesan untuk Aktivis Mahasiswa
Pesan ini saya tuliskan karena kecintaan saya pada negeri dan kepercayaan saya pada peran penting segelintir mahasiswa yang (sering kali dianggap) “sok peduli”, “sok mengatasnamakan rakyat”, “sok jagoan”, “sok gaya”, dan “sok-sok” lainnya: aktivis mahasiswa. Jika kalian memiliki adik, kakak, teman, atau kenalan yang merupakan aktivis mahasiswa, tolong sampaikan, saya punya pesan untuk mereka.
Saya ingin memanggil kalian sebagai kawan. Umur kita tidak berbeda jauh. Belum lama saya pun masih berada dalam posisi seperti kalian.
Tetaplah berpihak dan bergerak! Berapa banyak pun kawan kalian yang ditangkap dan dikriminalisasi. Betapa pun sepinya jalan yang sedang kali tapaki. Betapa pun minimnya apresiasi. Betapa pun riuhnya hujatan dan cemoohan dari bangku penonton. Betapa pun tulinya telinga-telinga pembesar yang ingin kalian ingatkan.
Meski tujuan gerakan tak selalu berhasil bertemu dengan kenyataan. Setidaknya bagi diri kalian masing-masing, sudah ada goresan cinta pada negeri ini yang tertulis tulus dalam jiwa kalian. Negeri ini punya janji pada seluruh warganya dan kalian ingatkan para pengemban amanah untuk tunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Tapi kawan, kecintaan kalian yang tulus pada negeri ini itu tidak cukup. Romantisme berlebihan hanya akan membawa kalian pada “patah hati”. Kalian harus belajar untuk melihat bukan hanya negeri ini, tetapi juga diri kalian (dan saya beberapa tahun lalu) secara lebih realistis. Mari saya tunjukkan.
Waktu kalian itu hanya sebentar! Status kalian sebagai mahasiswa itu hanya sementara. Di zaman ketika lulus cepat tidak menjadi tuntutan, toh pada akhirnya mahasiswa tetap harus menanggalkan juga status mahasiswanya. Entah dengan ijazah dan toga atau selembar surat keputusan saja.
Waktu sebagai aktivis mahasiswa pun juga begitu. Kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa hanya 1 tahun. Aktivis mahasiswa dari organisasi lain dengan periodisasi yang berbeda pun juga terikat dengan kesementaraan status sebagai mahasiswa. Perubahan apa sih yang bisa kalian wujudkan? Mari lebih realistis, tetapi jangan sampai pesimis.
Dengan waktu yang begitu singkat, kalian mungkin pada akhirnya lebih memilih untuk fokus pada persoalan-persoalan besar, monumental, dan media-friendly. Imaji peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun bersejarah dalam gerakan mahasiswa dalam skala nasional pun terus terngiang-ngiang dalam kepala kalian dan terucap dalam orasi-orasi kalian. Begini, saya tidak ingin mengatakan apa yang kalian lakukan itu salah. Tapi saya ingin kalian membuka pikiran pada alternatif lain untuk mengoptimalkan waktu yang singkat.
Cobalah kawan. Fokuslah pada persoalan-persoalan yang “kecil”, dekat, dan memungkinkan kalian untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ingin kalian wakili suaranya. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa di UI yang saya ketahui, pendampingan terhadap pedagang korban penggusuran oleh PT. KAI dan sekolah Master Depok adalah dua contoh pilihan gerakan yang bisa replikasi. Meskipun keduanya masih bersifat reaktif. Walaupun bisa jadi kalian memang berpikir bahwa pilihan yang tersedia untuk gerakan mahasiswa memang harus reaktif. Seperti ungkapan yang dulu sering saya dengar saat mengikuti demo mahasiswa, “jika mahasiswa turun ke jalan, berarti kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.”
Variasikan referensi untuk mengembangkan cara pandang dan metode gerakan. Waktu yang singkat ini harus kalian manfaatkan untuk sebanyak mungkin melakukan eksperimentasi untuk menemukan cara-cara paling efektif dalam mempengaruhi kebijakan agar seiring berjalan dengan keberpihakan kalian pada orang-orang tertindas.
Modifikasi kegiatan sosial kalian agar juga memiliki dimensi politik kewargaan. Orang-orang miskin yang kalian beri pelayanan atau pemberdayaan itu juga merupakan warga negara yang bisa jadi tidak dipenuhi seluruh haknya oleh negara. Sewaktu menjadi Korbid Sospol BEM UI, saya arahkan panitia Gerakan UI Mengajar 4 untuk tidak hanya mengajar selama sebulan tetapi juga mengumpulkan data dan menyusun laporan rekomendasi untuk Pemerintah Daerah setempat. Karena pelembagaan melalui kebijakan lah yang akan membuat praktik baik dapat terus berjalan secara berkelanjutan. Meski belum terwujud, saya pun sempat mengarahkan agar Rumah Belajar BEM UI dapat menginisiasi gerakan bersama dengan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) lain di Depok.
Karena waktu yang singkat ini pula, jangan pernah lupakan masa depan kalian. Rencanakan karier kalian dan pikirkan bagaimana caranya agar kalian bisa tetap berjuang untuk orang-orang yang tertindas setelah tak lagi jadi mahasiswa. Rawat terus kecintaan kalian pada negeri ini! Bekerja di NGO memang lebih cocok untuk kalian, walaupun bekerja di tempat lain pun sesungguhnya juga tidak menutup pintu kalian untuk tetap terlibat dalam gerakan.
Jika kalian gagal menyadari kesementaraan status kalian, memanfaatkan waktu yang singkat dengan sebaik-baiknya, dan memikirkan bentuk aktivisme yang tepat saat pascakampus, kalian bisa jadi hanya akan menjadi seperti orang-orang yang hari ini terus menerus nyinyir pada kalian: “Ke mana mahasiswa?”
Mereka adalah orang-orang yang gagal menemukan bentuk aktivismenya saat pascakampus dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat perubahan kini. Semoga itu bukan saya dan juga bukan kalian, kawan.
Muhammad Alfisyahrin

















