Tidak ada petunjuk tentang berapa lama sang malam akan hadir. Berbeda dengan pagi, siang, dan sore, sang malam tidak mengizinkan adanya sang penguasa terang untuk hadir.
Berbekal nyawa yang masih tersisa, energi yang keluar secara terpaksa karena ditarik oleh penguasa dapat dibendung sesaat, meskipun saat malam akan ada yang harus dialami dengan bobot yang sama saat energi terkuras.
Sebagai simbol untuk menyamakan malam dengan terang, senyuman palsu digunakan sebagai media untuk menyatakan bahwa masih ada cahaya benderang. Siapakah yang tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi dibalik senyuman itu.
Bukanlah ilmu padi yang coba diterapkan dengan berkata bahwa semakin banyak berisi maka akan semakin merunduk. Bila benderang telah sekarat, ia akan redup untuk mencoba menyamakan dirinya sebagai sang malam.