Terima Kasih (Bisa Bernapas)
Akhir-akhir ini bisa bernapas dengan normal itu sangat disyukuri. Padahal seharusnya sudah sejak dulu mensyukuri nikmat tersebut.
Memang benar, segala sesuatu itu ada hikmahnya. Salah satunya adalah sesak (sulit bernapas).
Sesak membuat aku mensyukuri atas kenikmatan yang sebelumnya tak terlalu menjadi perhatian.
Kurang lebih sejak 6 bulan yang lalu, aku merasakan sulit bernapas di malam hari. Dan saat memeriksakan diri ke dokter, katanya itu hanya reaksi tubuh karena cuaca dingin.
Saat itu, aku bersyukur karena ketakutan dibayang-bayangi oleh penyakit asma ternyata terbantahkan. Mulai saat itu, bapak dan ibu mulai overprotektif terhadapku. Apalagi soal jaket dan kaos kaki. Kedua barang tersebut tak boleh aku lupakan. Namun kenyataannya aku masih ‘nakal’ akan hal itu.
Dan anehnya, sesak itu berlanjut akhir-akhir ini. Dan aku memutuskan untuk memeriksakan kembali ke dokter.
Namun sayang, hasil pemeriksaan dokter kali ini mengejutkan. Dokter mengatakan bahwa aku mengidap penyakit asma.
Asma bukan penyakit serius yang pertama menyerang tubuhku. Sebelumnya aku juga pernah mengidap penyakit serius, yakni bronkhitis.
Kalau dipikir secara logika, baik bronkhitis maupun asma, keduanya sama-sama penyakit yang menyerang paru-paru. Apakah asma ini muncul karena penyakit bronkitis yang dulu menyerangku?
Tapi bronkitis yang aku alami sudah lama sembuh. Setelah melakukan perawatan selama 6 bulan.
Aku bukan marah karena penyakit asma yang menyerang tubuh, tapi lebih tidak sanggup melihat kedua orangtuaku khawatir.
Pak bu, maafkan anakmu ini. Meski luarnya terlihat kuat, namun nyatanya didalam ia sangat ringkih.
Maaf jika di malam hari , ikut terbangun melihat anakmu ini sedang mengeluarkan suara 'unik’ saat susah bernapas.
Meskipun ringkih, tapi anakmu ini akan sembuh atas izin-Nya. Mungkin penyakit ini sebagai tamparan dari Allah untuk lebih mensyukuri atas apa yang telah kita punya.