SEMOGA
Satu tahun penuh menarik napas panjang dalam satu gelas penuh dengan makna. Dengan yakin aku sematkan;
Hidup itu mengerikan.
Bahaya. Tidak semua hal bisa diterima dengan pasrah karena harus dicegah. Lebih dari itu? Gila adalah jawabannya. Terlalu banyak hal yang terlihat, serta terlalu banyak hal yang dipendam. Terlalu lebar nurani terbuka, pula terlalu rapat logika tertutup. Mereka semua berteriak dalam kehampaan di sudut-sudut ruang yang akan segera meradang.
Tidak sedikit mendengar tentang keluhan. Tentang raga yang ada di mana, tapi nurani hanya bisa merana. Semua bilang ini perbudakan, antara yang menari-nari di tengah tanggungan yang terus membebani dan yang terus berlari tanpa ada kata untuk berhenti agar cepat-cepat diadili. Terlalu lebar mulut terbuka, terlalu rapat telinga tertutup. Percayalah, egoisme sudah jadi makanan sehari-hari.
Semua yang tidak kenal apa artinya kalah, semua yang tidak kenal apa artinya damai selalu menggerogoti sukma seakan-akan haus apresiasi dari sebuah prestasi tanpa peduli baik buruknya satu eksekusi. Sungguh sangat gaduh hidupnya, habis satu malam dalam dalil "dengan gaya". Telan semua derita di atas lantai dansa tanpa tahu dirinya milik siapa.
Sungguh sangat gaduh di luar sana. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang tidak pernah tenggelam di makan masa. Apakah terasa familiar? Ya, ini bukan hanya tentang kamu, kalian, atau mereka. Ini juga tentang aku, kita semua. Tidakkah mengerikan? Melihat semua orang dengan baju zirahnya, bersiap untuk perang, menumpahkan darahnya demi satu masa yang disebut kebahagiaan.
Semoga harapan masih selalu ada.
Semoga ketenangan selalu milik kita.
Semoga ada damai di ujung bahagia.
Semoga.
Semoga.
Semoga.












