Satu hal yang seringkali terlupa dari segenap proses melalui ujian adalah melibatkan Allah~
Kadang diri jumawa merasa sudah genap usaha mengubah sesuatu. Lelah mengusahakan yang tampak benar-benar tak dapat diubah. Entah itu penyakit yang tak kunjung sembuh, beban pekerjaan yang melelahkan, keruhnya lingkungan tempat tinggal, sikap pasangan yang mungkin mengganjal di hati, atau entah apalagi hal yang tak mampu diubah sebesar apapun usaha.
Kemudian yang terpikir adalah memotong buhul. Menyudahi saja. Pasangan tak elok, tinggalkan. Lingkungan tak teduh, beralih. Pekerjaan dirasa berat, resign. Sakit, suicide. Berharap bisa melenggang santai sesudahnya. Padahal tidak semudah itu.
Ada yang salah dengan proses melewati uji~
Bahwa sungguh diri lupa bahwa tidak semua ujian bisa dilewatkan dengan alasan 'ya udah lah ya'
Ada yang terlupa~
Sudahkah diri betul-betul membenahi bincang mesra dengan-Nya, yang kepadaNya berpulang segala urusan. Yang dengan kuasaNya bergantung semua makhluk?
Tangan kita sungguh hanya mampu menjangkau yang Ia izinkan untuk dijangkau, usaha kita hanya sebatas mampu mengubah apa-apa yang Ia izinkan bisa diubah. Maka, bergantung padaNya dengan sebenar-benar harap adalah yang utama, sebelum dan sesudah menggenapkan usaha.
Ia yang menggenggam hati makhluk, menguatkan langkah melewati ujian, dan kepadaNya lah segala urusan berkesudahan.
Kepada diri : Mintalah. Memohonlah. Berbincanglah dengan setulus-tulus harap🌱













