Bunica îmi zicea: " vreau să te știu om, să te știu domn"...
Doc

seen from United States

seen from Switzerland

seen from Switzerland

seen from Switzerland

seen from Poland

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Germany
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from Germany
seen from Germany

seen from Croatia

seen from United States

seen from France
Bunica îmi zicea: " vreau să te știu om, să te știu domn"...
Doc
Mengikatnya dalam bentuk tulisan, berdakwah melalui tulisan.
Dulu, ketika masih duduk di bangku kelas 10 (1 Aliyah), harapan bermunculan begitu deras, kemudian aku mulai mengabadikannya melalui tulisan. Semua ditumpahkan pada buku hijau ini, lengkap dengan kalender yang sudah ditempel pada salah satu lembar didalamnya.
Lembar tiap lembar terisi dengan harapan. Aku tahu, berharap kepada selain Allah itu menyesakkan dan aku tidak ingin hal itu terjadi, kemudian aku melibatkan Allah pada setiap harap yang aku tanam.
Kau tau apa saja harapanku?
Singkat. Harapanku dalam buku hijau ini adalah tentang berdakwah melalui tulisan, bukan hanya itu saja, harapanku sebetulnya banyak sekali, namun berdakwah melalui tulisan lebih dominan.
Kenapa begitu?
Aku ingin abadi, itu saja, cukup untukku selama diberi kesempatan ada di bumi Allah. Aku ingin abadi, sampai pada satu saat tugasku di bumi telah selesai, setidaknya ada hal baik yang terus mengalir meski aku sudah tiada.
Manusia itu sering lupa, daya ingat manusia itu lemah dan terbatas, karenanya, menulis adalah obat dari lupa, menulis adalah senjata bagi daya ingat yang seringkali tiba-tiba melemah.
Saya menulis dibuku hijau ini, tepat pada lembaran pertama "musuh terbesar saya adalah ketakutan saya sendiri" agar ketika saya sampai pada titik lemah, saya malu dengan tulisan saya sendiri. Itulah mengapa, pengingat untuk diri sendiri itu sangat diperlukan.
Ketika aku menulis dan berbincang dengan salah satu teman dikelas, aku berkata sembari menuliskannya. "Ingin buat buletin, biar orang lain seneng baca" kemudian, pada saat itu pula aku berkata "mau nyoba juga buat buku untuk santri, untuk wadah bagi mereka yang seneng nulis" aku dan teman mengaamiinkan hal itu.
Pada satu waktu, usahaku merancang buletin hampir sampai pada garis finis. Ternyata tak semudah yang aku bayangkan, perizinan sulit didapat ketika mengajukan kepada sekolah. Aku bertekad untuk mencetak sendiri untuk kembali diajukan. Lagi lagi, Allah memberi ku ujian, lembar buletin yang sudah dicetak ada yang terpotong, ini menyakitkan sekali.
Sebelum mengajukan kembali, aku berkata dalam hati "bismillah, jika memang masih tidak bisa diterima, atau tidak dibaca sama sekali, mungkin ini yang terbaik dari Allah, aku tidak bisa memaksakan" mungkin, malaikat mencatat hal itu.
Atas izinMu, Yaa Allah, wajah bahagia terpancar saat melihat guru tersenyum melihat hasil karya ku. Kemudian ia berkata "nanti kita revisi bareng-bareng, biar buletin nya terbit dengan segera" indah sekali, memang.
Tibalah saatnya, buletin edisi 1 terbit, bagiku, ketenaran bukanlah tujuan utama, terkenal disekolah bukan yang aku harapkan. Aku membuat buletin bukan karena itu semua. Melainkan, aku ingin bagi siapapun yang membacanya, semoga bibit-bibit semangat tumbuh dihati mereka, mendorong mereka untuk berbuat kebaikan.
Kenapa harus buletin? Begitu banyak inspirasi yang dipupuk dalam pikiran, ia harus ditumpahkan, dalam bentuk apapun itu. Namun aku memilih untuk ditumpahkan pada tulisan, sebab aku tau, menulis adalah cara berdakwah yang sederhana namun dapat mengabadikan satu nama.
Menuju Dzuhur, Jum'at, 06 Maret 2020.
My contribution to 413
I did go ham on the glow 😔🤙
Bagi dirimu yang ingin tahu apa saja yang saya dan kami lakukan satu tahun terakhir di BK MWA Undip UM, silahkan klik gambarnya nya dan baca buletinnya. :)
Belajar Ilmu, Lupa Adab
gaulislam edisi 952/tahun ke-19 (30 Rajab 1447 H/ 19 Januari 2026) Sekolah itu tempat belajar ilmu dan juga adab. Harusnya begitu. Tapi belakangan, soal adab sering dilupakan. Merasa udah punya ilmu, tapi adab malah dilupakan (atau malah nggak pernah diajarkan?). Kasus pengeroyokan guru oleh murid di SMKN 3 Berbak, Jambi bukan sekadar kabar viral yang numpang lewat di timeline. Ia seperti alarm…
Komedi Tepi Jurang
gaulislam edisi 951/tahun ke-19 (23 Rajab 1447 H/ 12 Januari 2026) Di zaman sekarang, orang bisa aja masuk penjara bukan karena korupsi, tapi karena udah bikin orang ketawa. Bukan ketawa di ruang sidang, tapi ketawa di ruang komedi. Satu panggung. Satu mic. Beberapa punchline. Lalu muncul kata sakti: “Dilaporkan.” Lucu? Iya. Ngeri? Juga. Indonesia 2026 memang unik. Negeri kita ini ramah sama…
Resolusi Banyak, Tobat Kapan?
Udah di akhir tahun aja, gimana kabar kamu semua? Makin happy atau malah makin beban? Semoga yang terbaik sesuai harapan, ya. Dan, di malam pergantian tahun umumnya dirayakan banyak orang. Malam tahun baru selalu punya pola yang sama. Jam mendekati angka dua belas, timeline mendadak ramai. Story berjejer. Ada angka mundur, ada emoji kembang api, ada caption reflektif yang ditulis sambil rebahan.…
Viral Boleh, Rusak Jangan
gaulislam edisi 948/tahun ke-19 (2 Rajab 1447 H/ 22 Desember 2025) Di media sosial, viral sering dianggap puncak prestasi. View naik, followers bertambah, nama makin dikenal. Cuma problemnya, nggak semua jalan menuju viral itu lurus. Ada yang memilih jalur karya, ada pula yang sengaja menabrak rambu—asal viral, urusan belakangan. Kalo model begini, nggak mikir jauh ke depan. Bahaya. Kasus yang…