Siang! Sudah lama rasanya tidak berceloteh bebas di sini. Review film? Spoiler? Hmmm…sebetulnya sama sekali engga, well, hanya mau blabbering aja~
Jadi ceritanya berapa hari belakangan agak sedikit jenuh dengan rutinitas sampe akhirnya jadi ngerasa ‘kosong’. Gimana ya ngejelasinnya, intinya mah tau ada yang mau dikerjain, tau harus ada yang diselesaiin, bahkan tau harus apa tapi rasanya engga ada semangat dan gatau harus mulai darimana. Kosong yang hampa, kosong yang bener-bener kosong, ngerti dan pernah mengalami engga? *yaa Allah bel nerjemahin kata aja susah amat*
Someone once said, ketika lagi jenuh tuh kita emang harus keluar dari aktivitas kita yang biasanya. Melakukan kegiatan lain yang sebelumnya jarang atau bahkan engga pernah dilakukan. Oleh karenanya, hal itu juga yang melatarbelakangi aku menghabiskan malam dengan nonton salah satu tv series yang sudah selesai season 1 nya sejak 2016 lalu. Sebenernya rekomendasi untuk nonton film ini udah dari lama, tapi emang dasar anaknya susah untuk konsisten nonton series jadi aja engga pernah kelar nontonnya.
Setelah beberapa hari menepi dengan meminimalisir pegang handphone untuk chit-chat dan cuma menghabiskan hari dengan leyeh-leyeh gabut, film ini seolah menjadi pesan untuk segera doing something setelah sadar dan mendapat pencerahan. Meski sekarang isi kepala jadi berasa penuh banget untuk ditumpahin, makanya jadi nulis lagi.
Finch, bukanlah siapa-siapa sebelum dia mengonsumsi NZT-48. Manusia seperti kita pada dasarnya juga bukan siapa-siapa, sampai akhirnya ada posisi, jabatan, harta, dan segala bentuk pengkotak-kotakan lainnya yang bikin kita ingin dilihat menjadi ‘siapa’ bagi orang lain.
To be honest, kamu yang berusaha untuk dilihat sebagai 'siapa’ tuh merasa capek dan terbebani engga sih? Hidup yang semestinya bisa sederhana dan menyenangkan malah ribet karena secara engga langsung berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Sedangkan yang kita tau dengan jelas, keinginan setiap hati dan kepala itu banyak, lalu kalikan aja dengan jumlah orang-orang yang kamu kenal. Banyaaakkkk banget, kan?
Lalu mau main salah-salahan? Mau nyari kambing hitam untuk dipersalahkan? Padahal yang salah bukan orang lain, yang salah adalah diri kita sendiri yang mau dikalahin sama ego. Ego untuk bisa menjadi seseorang yang dilihat 'wow’ oleh orang lain, sebab kita seringnya ngeliat hal seperti itu ke orang lain. Sampai akhirnya kita lupa untuk bersyukur dengan kehidupan kita yang ada saat ini, kita lupa untuk berada di saat ini menghargai apa yang sedang dititipkan untuk menjadi kepemilikan sementara kita; pertemuan, keluarga, persahabatan dan sebagainya.
Yang menarik dan bikin mikir beberapa hari belakangan adalah betapa menyenangkannya seorang Finch yang bisa ngeliat suatu masalah dari beragam sudut pandang, karena untuk saat ini sepertinya banyak yang engga bisa melakukan itu, termasuk aku.
Lalu, kepikiran bahwa sebetulnya kita juga bisa dengan amat sangat memecahkan suatu masalah dengan beragam perspektif. Pertanyaannya adalah, maukah kita untuk sedikit lebih sabar dan engga nurutin emosi serta ego? At least menjadi lebih tenang dulu ketika menghadapi segala sesuatu. Bukan fokus memikirkan gimana menghasilkan jalan keluar tercepat, tapi fokus ke bagaimana menemukan jalan keluar yang paling tepat.
Finch, yang kata orang-orang udah berubah menjadi 'siapa’ itu justru kerap mempertanyakan ke dirinya sendiri, moral yang selama ini ditanamin sama keluarganya harus diperjuangin atau justru mengikuti sudut pandang orang-orang kebanyakan aja untuk memecahkan satu masalah. Thats why, dia jadi bisa menggunakan lebih dari sudut pandang untuk problem solving. Karena dia nyari yang paling tepat, bukan yang paling cepat.
Apa bedanya kita dengan Finch? Gini, kalo Finch selalu mempertahankan jati dirinya yang udah terbentuk dari kecil dan selalu mengedepankan kebaikan untuk orang lain, meski itu akan menyusahkan dirinya sendiri, he will take that risk. Sedangkan kita, begitu nemu hal yang akan merugikan dan bikin kita susah, kita lebih milih alternatif lain yang lebih mudah dilakuin. Dan, yang mungkin lebih fatal adalah kita rela untuk mengenyampingkan siapa diri kita sebenarnya agar bisa dipandang oleh orang lain menjadi 'siapa’, sehingga bisa diterima di suatu lingkungan.
Engga salah sih kalo kita punya keinginan untuk bisa diterima di suatu lingkungan, tapi yang seharusnya engga kita lupain adalah kita engga perlu merubah diri kita untuk bisa diterima. Manusia mah sering lupa itu udah pasti, karena itu juga akhirnya kita pasti punya satu dua orang yang kenal kita dengan baik. Yang begitu bisa kita percayakan, ngingetin kalo salah, ngedengerin kita cerita tanpa langsung nge-judge kita bersalah sebelum mereka bertanya why we do that. Rebecca-Finch, menurutku hubungan pertemanan di antara mereka yang kemudian bikin segalanya jadi lebih seimbang.
Di awal kekosongan yang kerasa kemarin aku sih milih untuk diam, nyari-nyari sendiri akar masalahnya apa, tapi setelah liat Rebecca-Finch, aku ngerasa butuh untuk cerita ke seseorang. Dan yak, akhirnya aku memilih cerita ke seorang sahabat tentang ke antah berantahan yang terjadi. Biasanya kalo lagi gini harus cerita sambil ketemu, face to face eye to eye, tapi karena ada satu dan lain hal yang menghalangi, jadi aja via chat. Bisa dibilang aku jarang chit-chat sama orang ini, tapi kalo udah ketemu mah semua bisa jadi tumpah. Karena udah sebulan lebih engga ketemu dan emang jarang chat, jadi dia engga tau dengan pasti apa aja yang terjadi sama aku beberapa waktu ke belakang. Jadilah aku menceritakan peristiwa apa aja yang terjadi belakangan secara lebih rinci dan boom! ada satu kesimpulan yang tercipta dan menunjukkan akar dari masalah kekosongan yang hesemeh ini.
Kepo yak mau tau apa akarnya? Ada deh haha. Intinya mah, kalo punya masalah ada baiknya cerita ke orang yang bisa untuk dipercaya. Bukan minta gimana mecahin masalahnya dan jangan mikir kita malah ngerepotin orang itu dengan cerita dan masalah kita. Cerita aja, ngeruntut hal-hal yang sudah terjadi dari awal, tapi cerita ke orang yang paling bisa bikin kita ngerasa didengerin. Melegakan dan pasti menemukan jawaban, bahkan kadang kita akan sadar sendiri ketika lagi cerita, percaya deh!
Karena tulisan ini udah kepanjangan dan point-pointnya akan semakin melebar dan makin engga ada korelasinya, mari kita sudahi saja~
Eh ada yang kurang, kalo Finch akan disuguhi pertanyaan sama si Edward Morra, “Ready to become somebody who matters?” sebelum dikasih suntikan kekebalan imun. Me, personally, akan bertanya ke diri sendiri dan ke kamu yang mungkin baca ini, “Siapkah untuk menjadi orang baik untuk lingkungan dan orang di sekitar? Even without NZT-48, tanpa harus menunggu untuk menjadi 'siapa’ karena sebenarnya kita ini tidak pernah menjadi siapa-siapa jika kita engga ngasih sumbangsih apapun untuk orang lain. Ready?”