Patah, Katamu; Kalah, Kataku.
Kenangan. Gugur dedaunan yang ranggas dari reranting hatiku, menunggui seseorang yang kian hari kian dirantas oleh waktu.
Pikiran. Melayang jauh menembus kenyataan, tentang seseorang yang kini tak lagi ada di sisiku. Ia yang telah menganggapku sebagai masa lalu.
Barangkali, hanya orang sial yang merengkuh perpisahan sebelum memulai pertemuannya. Dan bersama dia, aku menyaksikan pertemuan itu terbakar menjadi abu—bersama detik dan jarak.
Tetapi setidaknya aku pernah mencoba. Membahagiakan dia yang menjadikanku masa lalunya. Pernah merasakan masa dimana dunia hanya milik kami berdua. Setidaknya aku satu langkah di depanmu.
Dan langkah itu, dinding yang mematahkan jejakku satu-satu; saat aku berusaha tidak melewatkan hari untuk merawat jejak-jejak itu. Sekelumit perihal yang bisa kuselusupkan padanya.
Nyatanya, perihal yang kau coba selusupkan padanya tak berarti apa-apa. Dia terlalu takut untuk menerimamu—karena aku. Dia terlalu takut menghancurkan persahabatan antarkita.
Pun aku yang takingin perasaan ini menjadi sebuah dinding di antara kita bertiga—nyatanya, dinding itu benar-benar ada. Dingin dan bisu. Mungkin, seperti ini takdirku, yang menatapmu dari kejauhan saja sudah cukup.
Ketahuilah, kawan. Dia hanya pernah memilihku, bukan berarti dia masih memilihku kali ini. Dia juga tak memilihmu. Kita sama-sama tak dipilih. Kita sama-sama patah, kawan.
Patah, katamu. Kalah, kataku.
Untuk itu, aku setuju.
Jakarta — Pontianak, 30 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 17 [terakhir] Teman dekat atau masa silam? Pada akhirnya keduanya berakhir sama; takmemiliki dia.
@ariqyraihan dan @capekngetik











