Di suatu pagi, kau terbangun tanpa cahaya matahari rasanya pasti begitu berat. Kau lebih sulit menikmati seperti biasanya. Selimut akan terasa lebih nyaman ketimbang bergerak. Tak ada hangat yang menyapa mu di antara celah celah jendela. Tentu begitu kesepian yang amat panjang.
Di hari hari kau mampu masih nikmatinya, teguklah sebanyaknya cahaya. Agar kau cukup untuk mengembangkannya. Supaya kau tak buta di kegelapan dan tak ada sesak yang mengiringi. Semua ini ku tau, terlalu berat untuk di bayangkan namun pasti terjadi. Awan kelabu di sebalik tirai. Petir yang memekakan telinga atau serpihan salju yang membeku.
Ketahuilah apa yang harus kau ketahui. Bahwa yang bukan milikmu akan hilang termasuk kamu. Tak ada yang hampir kita miliki. Maka selayaknya ia akan pergi jua dan menghilang. Jangan pernah membenamkan dirimu akan kepalsuan.
Sejatinya kita sudah seharusnya siap merayakan kehilangan bahkan sebelum itu terjadi. Oh sakitnya, siapa yang lebih tau tentunya adalah aku. Hari hari awal saat milik mu hilang, kau tak sungkan berderai air mata. Tenanglah puan, ia hanya kembali pada tempat seharusnya. Lalu hari hari selanjutnya kau seperti hipotermia. Berusaha menciptakan panas dengan dinginnya perasaan mu sebagai upaya untuk melindungi diri atau bahkan menghindari. Tenanglah, ia telah bersama takdirnya yang terbaik.
Kau tau mengapa kita harus merayakan ini. Karena setiap kehilangan akan mengajarkan kita untuk merelakan sesuatu yang akan bahagia pada hal yang di peruntukan untuknya. Nyilu hatimu hanyalah sebuah keegoisan sahaja. Rayakanlah, biarkan obor penerang mu dan lupakan matahari. Kau telah ada bahkan tanpa nya. Menarilah, rayakan kehilangan untuk kebahagiaan kekasihmu. Berduka hanya bentuk ketidaktulusan mu.
Duhai hati ku, jangan menangisi yang bukan milik kita. Ucapkan selamat pada kekasih kita. Kini begitu jelas dia akan memperjuangkan siapa. Setumpukan mimpinya itu, yang dia sempat ceritakan pada kita sebentar lagi akan terwujud. Ukurlah sejauh mana ketulusan mu untuk ini. Kau tidak sedang melakukan pengorbanan apapun bahkan untuk diri mu sendiri.
Kita akan terus berjalan, keputusasaan ini tak boleh menggerayangi kita. Selayaknya kita memang harus berjalan belajar dengan krikil krikil yang membuat kita tersandung dan mengerti dengan menepi pada tempat yang terbaik
Ku katakan kepada mu sekali lagi. Rayakanlah. Ini bukan tentang kemenangan dan kekalahan siapa. Ini hanya sebuah mekanisme yang selalu berjalan dan menghampiri mu. Kau merayakannya bukan untuk suka cita atau kebahagiaan akan tetapi untuk kekasih mu.
Apabila kau berakhir menjadi payah. Meraung oleh keputusasaan. Tenggelam dalam memori rumpang. Terjebak diantara dilematisnya perasaan atau bahkan nyaringnya goresan di celah hati. Serta rasa yang tak berkesudahan. Kau telah mendustai 2 hal. Pertama adalah kekasihmu, bahwa kau tidak tulus mencintainya. Kau hanya mencintainya sebatas eksistensi dan entitasnya dan kau ingin maju hanya karena itu. Lalu kedua, Kekasih mu yang sebenarnya Dia yang telah kau duakan dengan ciptaannya. Ibarat kau lebih mencintai bunga di bandingkan pohonnya. Kau lupa darimana bunga itu bertumbuh.