Ku kira aku sudah jatuh hati pada orang yang tepat. Ternyata tepat menurutku belum tentu tepat menurutnya.
- R

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United States
seen from China

seen from Indonesia

seen from Argentina
seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from China

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Poland
seen from Germany
seen from United States
seen from Croatia
Ku kira aku sudah jatuh hati pada orang yang tepat. Ternyata tepat menurutku belum tentu tepat menurutnya.
- R
Niatmu Lo...
Nalorbo Modnar #5
"Art is not about showing off, it's about reflection of yourself"
Pernah gak se yumak ngerasa setelah bikin sesuatu yang menurut kalian itu oke banget, terus akhirnya pingin nunjukin hal itu ke orang banyak, dengan harapan dapet apresiasi yang bagus. Eh malah kenyataannya gak sesuai sama apa yang yumak harapkan. Jauh banget malah. Pernah kan?
Saya baru ngerasain kayak gitu. Lagi.
Ceritanya, kemarin setelah melewati bedrest selama semingguan lebih, akhirnya saya bisa mulai nggambar lagi. Ya walaupun stamina belom maksimal, saya bisa nggetu nggambar selama 2-3 jam. Nah, dengan kondisi yang belum fit bener kayak gitu, ternyata saya bisa menyelesaikan satu karya hand lettering ukuran A3 dalam waktu 3 hari. Woh! Sebuah hal yang bikin saya sendiri kaget. Seneng dong ya sayanya.
Karena ngerasa saya udah bikin sesuatu yang oke banget, di dalam hati saya udah mulai rame, “Wah, harus cepetan saya upload nih”, gitu.
Dengan perasaan seneng yang lagi tinggi-tingginya itu, saya keluar kosan, saya tata gambar saya tadi biar keliatan artsy instagrammable. Pret! Jepret! Pret! Saya sodrek pake kamera hape. Edit sana-sini. Bikin caption yang menjelaskan prosesnya. Eh hapus lagi, lebay ah kalo kayak gitu. Caption standar aja deh. Oke. Fix. Upload. Bret!
Lakok ternyata, responnya gak sesuai sama apa yang saya bayangkan. Loh, kok gini, ada yang salah sama gambarku ya, kurang apa sih, ah mbujuk’i pasti, krowak’e weci!. Gitu-gitu wes isinya di kepala saya. Kecewa sih emang. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi. Saya malah ketawa sendiri. Tiba-tiba kayak ada yang ngomong di kepala saya, “miiid mid, kon iku lo upload konok’an niatmu lak ate pamer se? makane olehmu yo sakmono mek’an. Pek’en iku. (kamu itu lo upload kayak gitu niatnya cuma mau pamer kan? Ya dapetmu cuma segitu. ***** ***)”
Kadang lucu sih emang ya. Perasaan terlanjur seneng sama apa yang udah selesai kita bikin kadang emang bisa membawa kita jadi pingin pamer, jadi sombong gitu ujungnya. Apalagi jaman sekarang kan, kayak didukung banget buat menunjukkan apa yang kita punya, apa yang lagi kita kerjakan, malah udah jadi tuntutan kayaknya. Dikit-dikit pret! upload, apdet stories, status, ngetwit, bikin quote baper. Susahnya disini sih emang. Gimana kita bisa membedakan mana yang emang sekedar pamer dan mana yang emang pingin berbagi ilmu, keresahan, dan hal lainnya. Saya sendiri juga masih kesusahan.
Di tengah-tengah kepikiran soal ini, saya tiba-tiba dapet rekomendasi video yang waksi dari om yutub.
Di akhir-akhir video Naufal bilang, "Art is not about showing off, it's about reflection of yourself". Saya setuju. Karena memang seni seharusnya menjadi medium bagi setiap orang untuk berekspresi. Karena tiap orang juga pasti berbeda, karya seni yang mereka ciptakan juga pasti berbeda, baik dari segi konsep, bentuk, eksekusi, pesan yang ditampilkan, dan elemen-elemen lainnya. Itu yang membuat sebuah karya seni menjadi sesuatu yang spesial. Sebab berangkat dari diri sendiri, dari keresahan dan pengalaman yang kita alami.
Beda lagi kalo berkarya hanya untuk pamer. Pasti hasilnya tak pernah bisa spesial. Jatuhnya malah terkesan sama dengan yang lain. Karena kalo pamer kan berarti ada parameter yang ingin ditunjukkan, ada hal lain yang ingin dikalahkan, pasti hasilnya gak bakal jauh-jauh dari hal itu. Akhirnya, karya yang dihasilkan gak bakal begitu dilihat sama orang banyak. Karena ya itu, gak begitu beda sama karya-karya sebelumnya. Mirip. Identik. Asaib ae.
Itulah kenapa kita perlu benar-benar berkarya, berkesenian, dengan berangkat dari keresahan ataupun pengalaman yang kita alami. Dengan berangkat dari hal itu, akan muncul interpretasi yang memang unik, yang bener-bener “wah ini aku banget”. Karena jika berangkat dari hati, dari pengalaman dan keresahan diri sendiri, karya yang kita hasilkan pasti akan bisa memberikan value baru bagi orang lain yang melihat karya kita. Itulah akhirnya yang akan memberikan pembeda antara karya kita dengan karya orang lain.
Ini semua tentang proses. Tentang gimana kita peka sama keadaan sekitar dan peka sama pemikiran kita sendiri.
Jangan berkarya karena pingin pamer. gak bakal dapet apa-apa. Berkaryao karena pingin membagikan apa yang menjadi keresahanmu.
___ Bandung, 210917 @dimazfakhr
Ada yang menemukan kekhusyu'an dalam riuh ramainya doa yang dipanjatkan bersamaan.
Ada juga yang menemukannya diantara kesunyian doa yang dia panjatkan jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Semua punya caranya sendiri untuk mengekspresikan bentuk cintanya pada Sang Kekasih. Kita terlahir berbeda, jangan dipaksa menjadi sama.
Karena bagi saya, tak ada yg benar-benar benar selain diriNya.
Jika tak sepaham, hargai. Jangan malah menjelekkan. Jika terpaksa berada di kondisi yang mengharuskan kamu bergabung dengan mereka yg tak sepaham, jalani saja. Kalau memang tak bisa, cari dan bergabunglah dengan yang sepaham. Tak perlu memaksakan. Tak perlu menjatuhkan.
Pada akhirnya, itu semua hanya media dengan versi-versinya yang berbeda untuk mengekspresikan bentuk cintamu pada Sang Kekasih. Bentuknya boleh berbeda-beda. Tapi yang paling penting, semua kembali lagi kepada bagaimana hatimu selalu mencoba untuk terus mendekatkan diri kepadaNya.
Menurut saya, kemampuan untuk mendeskripsikan karya melalui sebuah paragraf yang dapat mudah dimengerti oleh audiens yang akhirnya berperan penting dalam proses berkarya dan menikmati sebuah karya.
Kadang kita mikir, “ah cuma kayak gini”, “kenapa bentuk kayak gini bisa masuk pameran sih?”
Namun faktanya, setelah membaca deskripsi yang diberikan oleh sang seniman, kita semua tahu bahwa dibalik karya yang menurut kita “cuma kayak gini” terdapat pemikiran yang mendalam serta konsep yang sangat-sangat matang. Karena tentu hanya orang-orang yang hebat yang bisa memvisualisasikan sebuah fenomena yang rumit menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati setiap orang.
Pic : Salah satu sudut di Lantai 2 Artjog 10, 2017
Allah tuh mekanisme kerjanya gimana sih? penasaran aja, bukan nggak percaya Allah ada atau nggak percaya bahwa Allah itu berkuasa dengan cara-caranya sendiri. Hanya, aku sedikit keterlaluan kalau tidak mengerti mekanisme kerjanya Allah. kenapa begitu? Ya karena itu artinya aku tidak begitu peduli denganNya, hanya meminta, memohon, bertanya, yang terkadang harus ada jawabanNya saat itu juga.
Terkadang kita sibuk menuntut Allah untuk mengabulkan apa yang kita inginkan, padahal kita belum tentu membutuhkan hal terdebut. Menurutku mengerti mekanisme kerja Allah itu sama dengan menyenangkan Allah, ada feedbacknya, walaupun, mungkin, Allah nggak perlu feedback dari umatNya, tapi terkadang, aku sebagai umatNya, ingin sesekali memberikan feedback sama Allah.
Jadi, kalau ada yang bisa menjelaskan dengan singkat bagaimana mekanisme kerja Allah, silakan jawab di kolom komentar ya. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah Subhanahuwata'la. AAMIIN
Fanatisme.
Dari 2018 gue mendadak jd pengamat politik. Gue berusaha tdk memihak meskipun gue udh tau gue hrs milih siapa. Ketika org nnya gue selalu blg bebas dan rahasia. Gue gamau dimusuhin krna gue beda pilihan. In real life, berbeda itu udh kya sesuatu yg hrs dihindari. Pdahal itu yg hrs disyukuri. Akhirnya hidup lo ga monoton coy. Ketika org menjelek2an pilihan gue, gue diem aja. Apa yg diomongin langsung gue googling. Biar makin mantep aja gtu apa yg gue pilih haha sotoy. Ga sih, lbh ke pertanggung jawaban nnti di akhirat:)
Pernah baca kata2 bung karno " Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri". Ini bener bgt. Apalagi di era skrg yg 'mendekatkan yg jauh, dan menjauhkan yg dkt'. Org bully kapan aja dmna aja, bebas dan hanya bermodalkan jempol, hape, dan kuota. Yg pdahal klo ketemu ujungnya haha hihi bersama.
Gawainya smart. But penggunanya tidak--untuk beberapa org yg masih memikirkan diri sndri😣
Sama kya capres-cawapresnya. Mrka tdk bertengkar, tp bbrpa pendukungnya over fanatik. Pdahal klo ditanya emgnya situ bangga2in udh prnh jalan bareng? Kan klo disebut kenal ketika udh prnh jalan, udh prnh dibantu dan udh prnh kenalan si yg pasti wkwk.
Intinya ya. Jangan saling menghakimi karna ga satu pendapat. Jika saya salah, maapin.
Bagiku, menjadi sebaik baiknya manusia adalah pilihannya orang-orang pilihan
Part II : Begitupun dengan hati... Bukankah hati juga bagian dari nikmat Tuhan? Yang juga diberikan untuk kita? Juga untuk kita jaga... Meski mungkin kebanyakan orang masih merasa individual, tapi tak apa... Tapi mungkin alangkah lebih baik, Jika bukan hanya bumi yang kita jaga bersama. Begitupun dengan hati... Kita saling jaga... bukankah antara hati akan saling melengkapi? Akan saling merasa? Untuk itu alangkah baik juga untuk saling jaga... Bukankah jika saling, semua akan terasa ringan? Hidup ini kadang merumit karena kita sendiri.. 📷 : @dinnie_anggraeni #menurutku #chinotes #ochiernf #ochieberbagi #blogger #lovewriting #loveislam #loveindonesia #indonesiabagus #asikbandung #explorecicalengka #gunungmasigitkareumbi #menebarkebaikan #bersyukur #nikmathidup #jagabumi #jagahati #saveworld #saveheart #theexplorer