Dear, aku :)
Peluk hangat untuk diri sendiri. Mari berdamai, menerima selayaknya, melepaskan dengan keikhlasan. Selamat istirahat wahai raga dan jiwa tangguhku :)

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Moldova
seen from Yemen
seen from Yemen
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Moldova
seen from Uzbekistan
seen from France
Dear, aku :)
Peluk hangat untuk diri sendiri. Mari berdamai, menerima selayaknya, melepaskan dengan keikhlasan. Selamat istirahat wahai raga dan jiwa tangguhku :)
Orang bilang, diri kita adalah kendali terbesar untuk diri kita sendiri. Seperti kata Michael Josephson, "you are the captain of your own ship". Di satu sisi, hal ini membuat kita merasa aman dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang kita ambil. Namun, di sisi lainnya hal ini bisa membuat kita menyalahkan diri sendiri ketika ada satu dan lain hal yang ternyata nggak bisa kita kendalikan sendiri. Menyadari bahwa diri kita punya kendali, tapi nggak semuanya hal bisa kita kendalikan, mungkin adalah pemikiran terbaik. Seperti kata Dr. Jessamy, "You can't control everything!" Nyatanya hal tersebut lebih realistis, daripada menganggap segala hal bisa dikendalikan sendiri. Ada banyak kepentingan yang saling bertabrakkan, ada hal-hal yang harus diperjuangkan bersamaan, tapi nggak bisa berjalan beriringan. Letting go doesn’t mean that everything will always work out well, but that’s OK. Melepaskan apa-apa yang nggak bisa kita kendalikan, bukan berarti bahwa semuanya akan selalu berjalan dengan baik, tapi nggak apa-apa kok! Kadang sesuatu terlihat salah ketika kita sudah berusaha keras tapi hasilnya nggak sesuai harapan, tapi kita lupa hal itu seringkali hasilnya lebih baik. Selesaikan saja dulu bagianmu, apa-apa yang bisa kamu kendalikan. Sisanya, biar semesta yang menentukan. Jangan lupa, doanya yang tulus, aamiin-nya yang serius~ #JurnalBaiq #selfreminder #CatatanBaiq #selfconfidence #selfgrowth https://www.instagram.com/p/CRLIB4qJfkE/?utm_medium=tumblr
Manusia itu seperti hujan, kalau sudah jatuh, yaaa harus ngalir. Kalau hujan punya muara, kita punya bahagia. Kalau hujan punya lautan, kita punya tujuan. . Jangan jatuh, tanpa mengalir. . . #JurnalBaiq #catatanbaiq #catatanbaik #selfreminder #selflovequotes #SahabatBaiq #salingjaga #psytalk #reminder #keepgoing #letitflow (di Daerah Istimewa Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/B_ztcBUpWg1/?igshid=kbfnis3sozts
Kita terlalu lucu untuk banyak hal, dan kita yang menertawakannya sendiri.
Setiap kita butuh menjelma menjadi apa yang tidak kita inginkan hingga suatu ketika bisa memahami sesuatu ada lebih penting ketika dibutuhkan, bukan tentang keinginan-keinginan yang melelahkan.
Setiap kita butuh tersesat di jalan hingga mengerti, banyak jalan menuju tujuan, banyak alasan untuk tetap berjalan.
Setiap kita ingin segalanya disegerakan, tapi tak mau menyegerakan. Kadang lupa sepeda harus terus dikayuh supaya cepat sampai tujuan. Mengaku sedang berproses tapi enggan memproses. Sibuk mencari manfaat tapi enggan menjadi manfaat.
Setiap kita telah jatuh cinta, tapi sibuk mencari alasan mengapa. Padahal alasannya ada pada diri kita sendiri. Mencari yang paling sempurna, tapi melewatkan yang mau menerima apa adanya. Mudahnya menetapkan kriteria tapi kalah dengan rasa nyaman. Bahkan kadang lupa, standar keimanan padahal benang cinta terpintal pada Tuhan.
Kita terlalu lucu untuk banyak hal, dan kita yang menertawakannya sendiri.
Ratna Asih | Banjarnegara, 1 April 2020
Barangkali kamu hanya butuh ‘jeda’ untuk segala beban yang melelahkan itu
Berhentilah dulu sebentar jika memang kelelahan. Lepas sepatumu, mungkin pegal di kakimu butuh sedikit pijatan ditambah beberapa tetes minyak urut yang hangat.
Letakkan dulu tasmu, pundak dan punggungmu pasti juga pegal dengan beban yang setiap hari kamu bawa.
Kalau matamu lelah, lepas juga kacamatanya nanti dikompres pakai kantung teh atau mentimun, itu cukup baik untuk mata yang lelah.
Ohya, coba lepas dan letakkan dulu apa pun yang membebani pikiranmu; meeting yang tertunda, target yang masih jauh, tugas yang belum tersentuh, atau tunggakan pembayaran. Simpan dulu sana di laci meja atau sekalian di dalam tas, supaya tidak tercecer, jangan sampai hilang sebab itu tanggung jawabmu.
Kelelahan memang menyakitkan, apalagi tidak hanya badanmu, pikiranmu, perasaanmu juga, kan? Tidak hanya satu hal pula yang harus kamu emban dalam perjalanan, ada tanggung jawab pekerjaan, ada impianmu sendiri, juga ada orang-orang terdekat yang harus kau jamin kebahagiaannya.
Barangkali kamu hanya butuh 'jeda’ untuk segala beban yang melelahkan itu. Dalam 'jeda’ kamu bisa melepas segalanya yang melelahkan, kamu bisa istirahat dari itu semua. Dalam 'jeda’ kamu bisa menyiapkan kekuatan untuk kembali berjuang. Dalam 'jeda’ kamu bisa berterima kasih pada dirimu sendiri.
Jadi, berhentilah sebentar. Ambil 'jedamu’. Jangan khawatir, aku ada di saat juang juga 'jedamu’. Aku akan memastikan semua baik-baik saja.
.
Banjarnegara, 14 Mei 2019
Barangkali benar, kamu hanya butuh 'jeda’.
Ratna Asih
Jika doa yang kita langitkan seumpama hujan, maka kita hanya perlu menjadi seluas-luasnya daratan dan lautan. Supaya di mana pun hujan turun, kita adalah muaranya.
Pernah baca, dengar, atau lihat siklus hujan? Ketika air di bumi berevoporasi (menguap) dan berkondensasi, membentuk partikel awan, kemudian beradveksi (berpindah secara horizontal karena arah angin), dan awan berpresipitasi (mencair), inilah di mana hujan terjadi.
Mungkin doa-doa yang kita langitkan seperti siklus hujan. Berevoporasi dengan khusyuk, kemudian berkondensasi dengan kuasa-Nya ketika begitu banyak doa yang bertemu di langit sana. Beradveksi, sebab kita tidak tahu kapan dan di mana doa-doa itu akan terkabulkan. Dan kita tidak tahu doa yang telah kita langitkan akan berpresipitasi dengan cara seperti apa.
Bisakah kita membayangkan ketika doa yang kita langitkan sampai pada Arsy-Nya, dan terkabul seperti hujan yang turun dari awan– Fabiayyiaalai Rabbikuma tukadzibaan. Indah bukan?
Jika doa yang kita langitkan seumpama hujan, maka kita hanya perlu menjadi seluas-luasnya daratan dan lautan. Supaya di mana pun hujan turun, kita adalah muaranya.
Menjadi selapang-lapangnya penerimaan adalah cara terbaik menanti doa-doa yang telah dipanjatkan. Bukankah melapangkan penerimaan, adalah memudahkan keikhlasan?
Banjarnegara, 3 Januari 2019 Mengingatkan kembali, ada doa yang bertarung di langit sana, ada hujan yang menuju muaranya. Jangan lelah berdoa!
Ratna Asih