CERITA BEBAS: 7 YEARS OF LOVE, 7 YEARS WAITING
Bayangan dari 7 tahun yang lalu, seakan terputar kembali. Bisakah kau melihatnya dari sudut mataku? Sekarang aku menatap langit biru, seakan itu adalah layar putih berukuran besar. Film pendek tentang kita. Apa kau juga melihatnya? Akan ku ceritakan apa yang kulihat.
Tidak ada yang tahu kita akan mengatakan ‘Selamat tinggal’ semudah saat itu. Mereka bilang perpisahan adalah waktu tersulit, aku malah tak punya waktu untuk merasakannya. Mengingat keyakinanku untuk bersamamu setelah perpisahan ini lebih besar. Aku memutuskan melanjutkan studi ke luar negeri dan kau disini.
Untuk beberapa memori yang telah kita bangun, sekarang yang kulihat di langit tampak kabur, tapi aku akan menceritakannya lagi kepadamu, meskipun waktuku makin sempit.
Kita hanya tetangga awalnya, kemudian menjadi teman, dan berani mencintaimu. Aku memberikanmu bunga, apakah kau ingat itu? Padahal kau alergi bunga. Apa kau tahu aku mencintaimu?
Kenangan sejak 7 tahun yang lalu, aku bahkan tidak ingat bagaimana bisa aku mengenalmu. Sekarang aku menangis, film pendekku semakin kabur. Waktu yang telah lewat membuatku rindu.
3 tahun di luar negeri, kuhabiskan dalam kesendirian. Sangat sulit untuk punya teman. Berkenalan, berteman, dan jatuh cinta. Aku mengira cinta kita adalah yang paling murni. Meskipun kita bertemu dengan orang lain, atau mencintai orang lain, saat bersamamu tanpa kata pun airmataku akan jatuh dengan sendirinya. Sedih atau bahagia. Entahlah.
Kemudian aku mendapat kabar kau telah menikah, untuk setahun aku speechless. Hatiku hancur. Ingin segera pulang dan menemuimu. Sementara itu, aku berharap kau mengambil sisa-sisa cintaku, jangan sisakan sedikit pun.
Setahun kulalui dengan kebencian, maaf, perasaan bersalah sekarang kurasakan memenuhi dadaku. Untuk waktu yang singkat, aku mungkin akan kehilangan cintaku yang murni.
Cinta ternyata sangat menyakitkan. Aku tidak bisa bernapas. Aku kehilangan arah. Aku ke luar negeri untukmu. Aku ingin punya tambahan keberanian untuk mencintaimu. Kenangan yang telah kita bangun, saat itu semuanya hancur. Sewaktu aku kembali kesini, kenyataan yang ku ketahui ternyata lebih pahit daripada kabar kau telah menikah.
Hey, kau tahu, teman-teman kita sangat baik. Mereka menyayangiku. Aku tidak pernah sendiri. Ternyata kau tidak menikah, malah sedang berbaring disini. Mereka pembohong.
Hey, apa kau bahagia? Kau sangat tenang sekarang, dulu kau sangat cerewet. Mungkin karena tidak ada yang bisa kau perbuat sekarang. Aku sangat iri. Eh, aku bawa bunga, dengar-dengar kau sudah tidak alergi lagi.
Aku lelah, energiku hampir habis. Film ini pun semakin dekat ke akhir. Kata yang sejak dulu ingin kudengar adalah kau juga mencintaiku. Sangat ingin mendengarnya. Meskipun itu adalah kata terakhir yang kau katakan kepadaku. Aku akan menemuimu. Sebentar lagi… Sedikit lagi…
Sebelum kesini, aku singgah ke toko bangunan untuk membeli yang ada di tanganku ini. Isinya sudah kuhabiskan, maaf aku tak membaginya, kurasa tak perlu. Kita akan segera bertemu.
Cinta ternyata sangat lucu dan juga menakutkan. Maaf aku memilih jalan ini. Aku sangat merindukanmu. 7 tahun. Aku ingin mengakhirinya.
Huaahh, aku sangat mengantuk. Filmnya sudah habis. Sangat singkat. Kalaupun ini hanya mimpi dan aku terbangun, tidak apa-apa. Berharap dapat melihatmu lagi di supermarket. Bukan di kuburan ini.
Aku tidak akan ke luar negeri, hanya disisimu dan menjagamu.
Saat terbangun, aku berharap melupakan segalanya, dan berharap yang terjadi hanyalah kebohongan, kau meninggalkanku saat aku tidak bersamamu.
Cinta memang sangat menyakitkan. Untuk 7 tahun mencintaimu, 7 tahun menunggu untuk mendengar kau berkata kau mencintaiku juga. Tepat hari ini. Aku merasa bahagia, bersamaan dengan airmataku yang masih mengalir tanpa akhir. Aku tidak bisa lagi melihat langit tadi. Aku hanya akan berbaring disini.
Jantungku rasanya sudah tidak berdetak, aku memaksa air mataku berhenti agar dapat menemuimu dengan wajah yang bahagia.