Mewariskan Hal Baik
Tentang memaafkan. Aku tahu tidak semua orang bisa dengan mudah memaafkan kejadian-kejadian yang membekas dalam dirinya. Apalagi jika hal tersebut berdampak pada dirinya sendiri, bahkan kehidupannya.
Aku merasa orang tuaku telah mendidik dan membesarkan kami dengan sangat baik, biidznillah. Sejak kecil juga Mama selalu mengingatkan kami untuk melakukan ibadah, seperti sholat, mengaji, puasa, dan mengingatkan kami untuk bersedekah. Ya sekecil untuk sedekah jum'at di sekolah.
Namun belakangan ini aku kembali mengenang masa kecil dengan Abahku. Ada sebuah pernyataan darinya yang membuatku tersadar, ternyataa orang tua kami tidak mengajarkan kami suatu hal.
"Kita dulu enggak pernah diajarin bagaimana cara mengatur uang. Memang sih, Mama dan Ayah gak pernah banyak ngasih kita uang jajan. Tapi orang tua kita termasuk impulsif untuk membeli barang-barang. Sampai rumah full banyak barang." Ucap Abahku mengenang masa-masa kecil itu.
Mama memang sering sekali membeli perabotan isi rumah. Entah lah, aku juga heran dulu kenapa bisa begitu. Di dalam rumah ada dua kursi tamu, padahal untuk ruang tamu kami tidak terlalu besar. Dulu juga masing-masing kamar ada TV, sejujurnya memang sangat menyenangkan bisa menikmati siaran televisi di kamar masing-masing, bebas menonton apa yang disukai tanpa harus rebutan remot. Tapi setelah ku ingat-ingat lagi, "Untuk apa ya punya banyak televisi?" Lebih baik satu televisi dan berkumpul bersama di ruang keluarga. Pun juga masih ada beberapa contoh perabotan lainnya.
Dalam obrolan dengan Abah saat itu, beliau menutup sebuah pesan yang begitu menyentuh.
"Segala kebaikan yang diberikan, dikenalkan, oleh Mama dan Ayah ke kita, ga apa-apa kita terima dan kalau bisa diwariskan kembali ke keturunan kita nanti. Tapi kalau tidak baik, maka maafkanlah mereka. Zaman dulu belum ada belajar parenting, mungkin mereka juga belum paham. Jangan sampai kita turunkan hal-hal yang kurang baik itu ke anak-anak kita kelak ya,"
Para salafus shalih pun mengajarkan kita bahwa kebaikan harus dirawat dan diteruskan, sementara keburukan—sekecil apa pun—harus dijauhi dengan sungguh-sungguh. Hidup terlalu singkat untuk ditunda-tunda. Maka, ambillah kebaikan dari orang-orang sebelum kita, dan jadilah penyambung rantai kebaikan itu… bukan pemutusnya.











