Kalimat Pertama
Seperti biasa, dinginnya kota kembang mengetuk kembali pintu kamar di sela-sela keheningan pertengahan malam. Dingin yang biasanya begitu mengusik, kali ini sama sekali tak terasa di permukaan kulit. Sepertinya malam ini tubuhku hanya memberikan kekuatannya kepada mata, pikiran dan jariku yang tertahan cukup lama di atas papan huruf itu.
“Ah, kesal!” gerutuku bersamaan dengan terlentangnya badan di atas kasur yang sedari tadi menjadi alas duduk.
Duduk, berfikir, lalu terlentang kembali. Entah sudah berapa kali aku mengulang kegiatan yang sama. Namun, aku tak peduli. Kali ini aku membiarkan tulang belakangku lebih lama untuk menikmati kembali posisinya semula—meninggalkan segaris hitam yang kelap-kelip di atas kertas digital. Sepertinya ia lebih teramat lelah menuliskan banyak kata demi kata, namun tetap berakhir pada posisi yang sama. Tidak menuliskan apa-apa.
“Kamu lelah?”
Pertanyaan itu datang. Aku tidak menggubrisnya. Kupindahkan tatapanku pada jarum jam yang perlahan berputar dengan irama yang pasti. Konsisten.
“Apa yang sedang kamu cari?”
Aku masih tidak peduli. Mataku masih mengikuti setiap jejak putaran jarum jam.
“Mau sampai kapan?”
Tiba-tiba jarum jam itu berhenti. Berselisih sedikit dengan pertanyaan yang baru kudengar. Aku sedikit tersentak.
“Hah, mau sampai kapan?” kali ini aku bergumam, mengulang pertanyaan itu di dalam hati.
“Iya, mau sampai kapan?”
Ia melanjutkan pertanyaannya,
“Mau sampai kapan membiarkan pikiranmu seperti itu? Menganggap bahwa kamu tidak mampu.”
“Emang benar, kan? Aku tidak mampu.”
“Itu hanya egomu saja.”
“Egoku?”
“Sudah berapa banyak kata yang kamu tulis tadi, tetapi akhirnya kamu hapus kembali? Bukankah sudah kubilang dari kemarin, tulis saja dulu. Biarkan perasaan dan pikiranmu mengeluarkan isinya. Tapi, malah kamu membunuh mereka.”
“Membunuh mereka?”
Sepertinya ia mulai terlihat kesal.
“Kalau niatmu benar-benar ingin menyampaikan, sampaikan saja. Tidak perlu kamu pikirkan bagaimana reaksi mereka. Kamu tidak akan pernah memenangkan hati semua orang.”
Kamu tidak akan pernah memenangkan hati semua orang.
Kali ini aku sepakat. Dan tiba-tiba aku tersadar, kuhapus angin kosong di depan wajah. Obrolan dalam lamunan tadi sepertinya memiliki makna.
Kembali diriku membenarkan posisi duduk. Membangunkan kembali layar hitam yang menunggu. Kulakukan sedikit peregangan sambil memijat jari-jari. Lalu, kulihat jam di pojok kanan layar. Pukul satu lebih tujuh menit. Ternyata sudah dua jam lebih aku berusaha menulis.
Jemariku kuletakkan di atas papan ketik. Ia bergairah, siap untuk menari-nari. Namun, ketika satu kalimat baru saja tercipta, rasanya kepalaku seperti diikat kuat. Ah, kebiasaan lama, aku lupa minum. Terlihat segelas air di pojok meja masih penuh tak tersentuh.
“Sepertinya aku butuh istirahat.” aduku pada diri sesaat setelah meminum air.
Aku menutup layar laptop. Kutarik selimut bersamaan dengan robohnya badanku ke kasur untuk kesekian kalinya.
“Bodoh, jangan ditunda!”
Seruan itu muncul lagi dengan lebih lantang. Kali ini aku ingin peduli. Teringat akan kalimat yang baru saja aku tulis. Aku akan memulai semua ini walau mungkin kamu tidak akan menyukainya.
Tapi kepalang tanggung aku sudah di posisi siap untuk terlelap.
“Ah sudahlah, selamat malam!”













