Undangan
Dear, kamu. Apa kabar? Sepertinya aku lupa menanyakan kabarmu dan melewatkanmu begitu saja. Bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya sedang melatih kesabaranku untuk menunggu hari itu, dimana kita bisa berbicara lebih lama. Sudah lama sekali ya kita tak bersua? Seperti katamu, lebih baik kita bicarakan secara langsung, tidak bisa lewat chat atau telepon. Ah, aku mulai tidak sabar mendengarkan cerita panjangmu. Hal apa gerangan yang membuatmu begitu resah? Dear, kamu. Aku masih menunggu hari itu dan percaya sebentar lagi kita akan bertemu. Sebentar lagi kamu akan dapat undangan. Tenang saja, bukan dariku.
Sudahkah kamu dengar? Ada kabar baik dari teman kita akan menyempurnakan separuh agamanya. Bukankah kita akan bertemu disana? Perasaanku mengatakan kita akan berjumpa.
Aku hanya takut akan suatu hal, terlalu terbuai dengan perjumpaan itu. Dan membiarkan perasaanku mengalir mengikuti iramamu.
Dear, kamu. Aku sudah sejauh ini mencoba berdamai dengan dirimu yang ada dalam diriku.
Aku pendiam,kalo kamu juga pendiam nanti rumah kita sepi
Aku pemalu,kalo kamu juga pemalu....
Ah.. aku juga belum mengenalmu
Begitu katamu.
Dear, kamu. Jangan diam ya. Aku tidak pandai memulai. Aku hanya tidak ingin pertemuan itu hanya menjadi sebuah jejak digital.
Ah.. Sudahlah. Sepertinya itu hanya angan-anganku.
Dear, kamu. Tolong, jangan buat badai lagi ya jika kamu belum atau bahkan tidak bisa memberikan rumah sebagai tempatku berlindung. Bertahan di tengah badai sendirian itu tidak nyaman.
Dear, kamu. Sampai bertemu.









