Tak sekalipun mengeluh, pada riak gemuruh cemooh merendahkan
umpama lagu yang acapkali kudengarkan, nada-nadanya menyiratkan kehancuran.
melihat tiap kata tersusun
menjadi sajak sendu pilu yang ragu kutulis untuk mengatakan pada semesta
bahwa aku ini sedang setia bersama duka.
Ada lagi resahku pukul sembilan malam, sampai terlelap
adalah hening yang hening, cekam yang cekam, dan
Harapan hanyalah delusi, bagiku.
Suara teman yang hangat, salah satu memori yang menjadi halusinasi
Ruang ini semakin menghitam
sedang aku hanya mengalah pada mengeluh,
lelah juga perlahan luluh.
Kabur pandang pada kabar,
juga ikrar yang dulu akbar, kini
menghilang sebab terhalang.
Aku pergi ke warung remang yang mulai lapuk
dan bertanya berapa harga sebuah peduli,
anak kecil yang melayaniku itu sulit mendengar,
bunyi kertap itu... ditutupkah pintu untuk temanku singgah?
Amsalnya angin dari luar itu adalah musim semi yang mendekap hangat.