January
Kita ketemu di awal bulan Januari. Bukan benar-benar bertemu dan bertatap mata. Melainkan berdialog dalam sebuah percakapan di dunia maya yang berujung saling mendengar suara satu sama lain. Ketika itu kamu membiarkan aku bercerita padahal itu saat jam kerjamu. Kamu dengan rutinitas pagimu. Sayup-sayup terdengar hiruk pikuk ruanganmu. Sesekali kamu membiarkan aku mendengar percakapanmu dengan rekan kantormu. Kemudian berulang kali aku memastikan apakah aku tidak mengganggumu, kamupun berkata tidak. Mungkin kamu tidak tau tapi dari situ aku belajar mempercayai setiap ucapanmu. Di akhir telp kamu pun menanyakan bagaimana agar kita saling berkomunikasi. Aku bilang nanti malam kita online okay.
Tak sabar menunggu malam, saat kamu tiba di rumah sepulang kerja. Percakapan kita pun terus mengalir. Kali ini kamu terdengar lebih santai, aku bisa mendengar suaramu dengan jelas. Dan aku suka. Aku jatuh cinta sama suaramu. Aneh memang tapi aku memang menyukainya. Aku lupa apa saja yang kita perbincangkan malam itu yang pasti kita mencoba saling mengetahui latar belakang masing-masing. Aku pun tahu dimana kamu tinggal, apa pekerjaan orang tuamu, berapa jumlah saudaramu, dimana kamu bekerja. Aku tak mau ini berakhir begitu saja. Ku beranikan diri memberikan nomer What’sApp ku padamu, padahal aku tidak pernah melakukan ini kepada orang asing di internet. Cukup gila dan berbahaya, tapi entahlah apa yang membuatku percaya padamu.
Memiliki nomermu saja ternyata tidak cukup. Aku tau aku bukan siapa-siapa, hanya teman untuk mengisi waktu luang saat kamu butuh tempat bercerita. Kamu tidak pernah menelponku, padahal aku rindu mendengar suaramu. Aku rindu obrolan kita. WA ku pun dibalas seadanya, sering tidak terbalas atau baru dibalas beberapa hari kemudian. Membuatku bertanya-tanya, apakah kamu sudah menikah sebenarnya dan takut ketahuan, atau kamu punya nomer WA lain. Entahlah. Tapi aku selalu menunggu balasan chatmu.
Kamu dan candaan recehmu yang selalu menyebalkan tapi membuatku senang. Merayuku dan membuatku tersenyum sendiri melihat handphone. Ku merasa diperhatikan walau hanya sebatas kata. Membuat melayang tapi harus jatuh kembali karena kamu tidak nyata buatku. Aku tidak pernah tau bagaimana bentuk rupamu. Ku pun mencoba mencarimu di berbagai social media, tapi tak kunjung ku temukan informasi tentangmu. Ku beranikan diri menanyakan IG mu tapi kamu bilang kamu tidak ada waktu bermain itu. Ku tanya kenapa tidak kamu panjang fotomu sendiri di profile picture WAmu, kamu jawab untuk apa, aku bukan orang yang eksis. Tapi aku ingin lihat kamu, kataku. Nanti akan ada saatnya kamu tau aku, katanya.
Tak terasa sudah dipertengahan Januari. Terasa sangat lama dan sendu bulan ini. Waktu itu aku menanyakan nama lengkapmu. Terdiri dari dua kata namamu, entah benar atau tidak karena aku tidak pernah menemukannya di Google. Sudah lama kita tidak bertegur sapa di udara. Terakhir saat kamu ketiduran karena menungguku pulang reunian dengan teman-teman SMAku. Padahal sudah aku bilang jika kamu mengantuk bilang saja. Tapi kamu tetap menungguku hingga akhirnya terlelap. Aku belum bisa tidur waktu itu dan tiba-tiba kamu membalas chatku. Tanpa perlu waktu lama, ku putuskan untuk langsung menelp subuh itu. Ku dengar suara bangun tidurmu sayup-sayup dan tidak jelas. Yang pasti saat itu kamu takut aku menilaimu sebagai pria mesum. Kamu bilang padaku, jangan tanya, aku mau tidur lagi. Aku diam dan mengakhiri pembicaraan kita. Dua hari lalu seperti biasa aku belum terlelap dan chat balasanmu pun masuk. Aku bilang aku belum bisa tidur. Rayumu aku belum bisa tidur karena menunggu pelukmu. Dasar gombal! Kamu bilang aku kangen kamu. Bagaimana aku bisa kangen denganmu kalau kamunya saja hilang-hilangan. Aku rindu obrolan kita itu saja, ujarku. Kamu engga kangen orangnya? katamu. Bagaimana ku bisa merindu pada sosok yang tak ku ketahui, kataku. Belum tau aja tapi kamu kangen, hayoo jujur, katanya. Engga! Ku alihkan dengan bilang, kita sudah lama tidak telpan. Akhirnya malam itu kamu menelpon aku. Kita berbincang sampai jam 3 subuh. Awalnya kita menentukan hingga sampai jam 2 saja kemudian kita tidur. Tapi sepertinya kita terlalu merindu hingga tak mampu menyudahi.
Kini aku mengerti kenapa kamu begitu. Kamu menjelaskan setiap batasan yang kami punya. Dan kamu tidak ingin kita melewati itu dan terlalu jauh. Namun ku rasa kamu sendiri yang tidak sanggup. Kamu bilang kamu nyaman sama aku dan tak pernah seperti ini dengan perempuan lain. Aku bingung aku harus bagaimana. Aku senang seperti memiliki pacar khayalan tapi aku harus kembali ke realita. Aku tidak tau kamu siapa. Aku bahkan tidak mengenal kamu. Tapi aku juga merasa nyaman sama kamu. Kenyataan bahwa kita berbeda itu lebih menyakitkan karena kita tau kita tidak pernah bisa saling memiliki. Walaupun subuh itu berulang kali kamu mengucapkan aku punya kamu dan kamu punya aku. Tapi hanya saat itu. Percayalah. Aku tak mau kamu berjanji karena aku takut kamu tidak bisa menepati atau aku takut aku kecewa. Kamu berjanji tidak akan hilang-hilang lagi, selalu ada buat aku. Padahal aku tau kamu tidak punya waktu untuk itu, untuk aku. Janjimu kita suatu hari nanti akan bertemu, kamu akan menjemputku pulang kerja, kemudian ke cafe yang ingin aku kunjungi lalu kamu mengantarkanku pulang. Saat aku bilang bagaimana saat ketemu orang tuaku, katamu ya ketemu saja.
Candamu suamiku kerja, bagian HRD. Konyol karena itu kerjaanmu. Ahh seandainya saja kita satu keyakinan. Ya seandainya saja hingga tidak akan serumit ini. Pagi itu kubiarkan kamu memelukku erat, mengecup wajahku. Mendengarkan suara nafasmu dan jantungmu, membuatku semakin tidak ingin terbangun dari semua ini. Tapi aku harus bangun. Setidaknya sampai aku tau kamu seutuhnya. Peluk aku dengan erat jangan lepas.
Aku rindu kamu tapi aku tidak ingin membiarkan kamu tau. Tapi aku tau, kamu tau aku merindumu. Aku tidak tau apakah kamu bersungguh-sungguh rindu padaku. Aku tidak tau. Jangan tanya aku! Apa ini salah? Nyaman dengan orang yang tidak kamu kenal seperti apa. Aku takut. Semua ini berkecamuk dipikiranku saat ini.















