Hidup Sementara dan Usaha Sia-sia untuk "Berbeda"
Pernah tidak terpikir bahwa kelak pada saat kita meninggalkan dunia ini (mati) apakah kita akan terus diingat orang lain? Pertanyaan tersebut tiba-tiba terbesit dipikiran, sepertinya kalau kita bukan seorang penemu yang luar bisa sukses atau tokoh bisnis besar yang membuat suatu perusahaan dan produk yang luar biasa, agaknya sulit diri kita diingat oleh orang lain, paling dekat mungkin oleh pasangan, anak atau orang tua, namun ketika orang terdekat kita tersebut, juga meninggal, akankah masih ada orang lain yang meningat kita?. Karena sebagian besar orang di dunia ini sepertinya bukan merupakan penemu yang besar atau orang yang luar biasa sukses untuk dikenang oleh orang banyak, bukan kah menjadi suatu kesia-siaan kalau kita berambisi untuk mendapatkan hal yang bersifat sementara?
Pernah tidak kita melihat orang yang bekerja tanpa kenal istirahat karena ingin mencapai posisi tertentu atau orang yang sampai membeli barang-barang mahal (apalagi dengan berhutang) agar viral dan dianggap "sukses" dalam hidupnya? Tetapi kalau kita ingat bahwa setelah kita mati nanti hanya sedikit kemungkinan orang ingat akan kita, apakah semua usaha tersebut masih terasa layak kita perjuangkan?
Mohon maaf kalau tulisan saya terlihat pesimistis, tetapi tulisan saya belum selesai sampai diatas saja, kalau kita sadari, banyak tokoh di dunia ini yang kemudian masih diingat sampai lama setelah mereka meninggal, orang-orang tersebut ialah yang berjasa untuk kebaikan orang banyak, contohnya, Mother Teresa, yang tentunya ia diingat bukan karena besar hartanya atau perusahaan miliknya, melainkan karena ia mampu memberikan teladan melayani orang yang miskin dan menderita, lebih-lebih daripada dirinya (selfless).
Sangat bertolak belakang dengan para influencer atau kebanyakan orang saat ini yang lebih asik mengejar hal semu seperti harta, penampilan atau pencapaian dalam pekerjaan agar mendapat "pengakuan", yang mungkin diharapkan membuat dirinya dikenang sebagai orang yang sukses ketika meninggal nanti, tetapi berapa banyak orang yang berpikir demikian juga?, terlalu banyak orang yang akan jauh lebih kaya, sukses dan ganteng/cantik untuk membuat kita keluar dari "rata-rata", yang menunjukkan betapa kita itu tidak berbeda dengan banyak orang lain, sehingga mentalitas yang mau selalu tampil beda mendorong orang untuk semakin konsumtif, semakin gila, semakin ambisius untuk tujuan semu yang sia sia.
Padahal sejatinya kualitas seseorang untuk bisa dikenang oleh orang banyak, tidak jauh-jauh dari sikap yang dimilikinya, dari kebaikan-kebaikan dirinya, dari apa yang bisa diberinya kepada orang lain, dan bahkan seorang Mother Teresa, yang seorang biarawati, dimana tentu tidak memiliki harta yang berlimpah, mampu memberi lebih banyak dari tokoh-tokoh beruang, dan lebih dikenal sampai waktu yang lama dibandingkan dengan orang yang beruang. Menjadi suatu kemirisan kalau disaat ini, banyak orang lebih suka membandingkan dirinya dengan orang lain dari tolok ukur harta, atau benda yang dimilikinya, dan menganggap orang lain rendah hanya karena tidak sama dengan dirinya, siapalah kita sehingga kita bisa menghakimi kualitas seseorang?
Semoga tulisan ini mampu menyadarkan kita, bahwa hidup ini sementara dan tidak melulu soal materi, melainkan bagaimana kita bisa membantu orang lain, terutama mereka yang berkekurangan atau yang tidak seberuntung diri kita, dan jangan membuang tenaga berusaha "berbeda" agar diingat, melainkan berbuatlah yang baik agar kita bisa dikenang sebagai orang baik.


















