Keyla nama akrabnya. Di kalangan teman kuliahku, ia dikenal ramah dan tak enggan memberikan bantuan. Tak banyak yang memahami bahwa di balik sikap baiknya, sahabatku ini menyimpan luka yang sangat dalam dari keluarganya. Bahkan, baginya itu juga bukanlah hal yang besar, tapi aku menyadarinya sejak kita masih di bangku sekolah menengah atas.
"Key, tumbenan diem terus?", celetukku.
Kudapati sikapnya aneh belakangan. Tak biasa, dia banyak diam saat bertemu denganku. Sebulan belakangan dia selalu berbinar membicarakan persiapan pernikahannya dengan Rio. Yap, usia kami 25 tahun dan Keyla akan segera menikah dengan Rio yang ditemuinya sejak 11 tahun lalu.
"Gakpapa Chi, lagi capek aja akhir-akhir ini". Ah, ini bukan jawaban yang sering kudengar. Tanpa babibu biasanya Keyla akan langsung bercerita tanpa kuminta.
"Ada apa?", kami terdiam cukup lama. Keyla tampak ragu akan berbicara.
"Key, aku di sini, aku siap dengerin semua yang ada di kepalamu", kuucapkan sambil memeluknya. Keyla menangis parau. Punggungku basah dibuatnya dan dia memelukku semakin erat, tetap diam seribu bahasa.
Kupisahkan diriku dengannya dan kugenggam kedua tangannya. Lengan bajunya menyibak dan kudapati tangannya lebam di beberapa tempat, juga darah kering membentuk garis tipis di atas pergelangan tangannya.
"Key, tanganmu kenapa? Diapain lagi kamu sama Rio?", ucapku sedikit membentak dengan nada meninggi. Keyla yang awalnya sudah tenang, mendadak menangis kembali. Aku menunggunya memberi penjelasan sambil kuguncang bahunya sesekali.
"Rio marah Chi kemaren…" (diam) "...dan aku nggak bener-bener tau apa yang bikin dia marah". Keyla diam, satu menit, tiga menit, lalu melanjutkan cerita dengan helaan napas panjang. "Dia datang ke rumah, diam, begitu kutanya kenapa dia diam, dia langsung mencengkeram lenganku dengan sangat kencang. Aku protes karena sakit dan dia mengambil gunting di meja. Katanya aku berani melawannya". Keyla tidak melanjutkan ceritanya, dia menangis lagi, lebih parau dari sebelumnya.
Aku tahu ini sudah entah keberapa kalinya Keyla mendapatkan perlakuan seperti ini, ah sudah tak terhitung dengan jari tangan. Aku peluk tubuh mungilnya, kubiarkan dia menangis di pelukanku, sebagaimana yang tak pernah ia dapatkan dari ibunya yang dingin. Dalam hatiku, aku geram, sangat geram dengan perlakuan Rio kali ini. Bagiku tingkahnya kali ini sudah di luar nalar. Ingin rasanya Keyla kuculik saja.
"Aku ingin pisah Chi, tapi…", Keyla tidak melanjutkannya, dia lanjut menangis. Ck, saking sehatinya kami, dia bahkan tahu apa yang kuinginkan.
Kulepaskan pelukanku, kugenggam jari jemarinya, dan meluncurlah kalimat yang selama tujuh tahun terakhir sudah aku tahan.
"Key, lakik kayak begitu yang mau kamu nikahi? Kamu serius? Bisa babak belur hidupmu Key!", ucapku tajam menusuk. Kami sama-sama terdiam dalam waktu yang lama.
Aku, si pemilik cerita ini, terdiam seribu bahasa. "Rasanya seperti hati kecilku sedang bicara, yang selama ini kutahan seorang diri. Tapi aku tahu, aku sedang tidak berdaya melawan, sekalipun aku sangat ingin pergi. Aku terlalu malu mengakui bahwa hubungan sebelas tahunku ini sebetulnya sangat berantakan. Rencana ini semu, karena nyatanya aku tidak cukup berani bergerak", batinku dalam hati.