“Bukankah Aku Juga Berhak Dicintai dengan Tulus?”
Zaki sedang dalam perjalanan pulang ke kos. Malam itu hujan, ia memutuskan untuk memesan taxi online seorang diri, pukul sebelas malam. Sudah sejak pukul tiga sore ia memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya setelah seminggu terakhir ia tidak melihat dunia luar.
Samar-samar suara hujan, perhatian Zaki teralihkan pada suara seorang perempuan pada radio yang sengaja dinyalakan dengan volume keras oleh pengemudi perempuan itu.
Bun, kalau saat hancur ku disayang
Apalagi saat ku jadi juara
Saat tak tahu arah kau di sana
Menjadi gagah saat ku tak bisa
Zaki terdiam lama, menyimak lanjutan liriknya.
Zaki tidak menyukai musik, tidak juga familiar dengan lagu-lagu kekinian. Tapi baginya, suara perempuan itu merdu, senada dengan suara rintik hujan pada kaca mobil. Tak terasa, bulir bening jatuh dari kedua pelupuk matanya. Bendungannya pecah, air matanya sederas hujan malam itu, hingga membasahi masker putihnya. Ia terisak. Diam-diam mencoba untuk mengendalikan suaranya agar perempuan di balik kemudi tidak mendengarnya. Dadanya semakin terasa sesak ketika ia teringat peristiwa tepat seminggu yang lalu. Pikirannya melayang ke masa lalu, tumpuk menumpuk hingga pada saat ia masih kecil.
Ada satu kalimat Ibuk yang selalu Zaki ingat hingga ia ulang berkali-kali. Sekalipun masih kelas satu SD, Zaki ingat cermat bagaimana ekspresi sumringah Ibuk saat mengatakannya.
“Anak lanang ki gak oleh nangis. Ibuk ki seneng, sayaaaang banget, lak anak lanang siji-sijine Ibuk seneng terus”.
Lalu antrian kalimat Ibuk selanjutnya adalah persis di hari Minggu pekan lalu. Zaki sedang mengalami patah hati pertamanya. Ia gagal mendapatkan pekerjaan pertamanya, setelah satu tahun belum bekerja.
Ia mengingat ucapan Ibuknya, “Anak Ibuk tu mesti berhasil, kudu kuat. Wes gak usah nangis”.
Zaki menyadari justru ia semakin ingin menangis, lalu ia akhiri telepon dan menangis sepanjang malam.
Ternyata ia menyadari bahwa menjalani usia dua puluhan tidaklah mudah. Zaki ingin segera mendapatkan pekerjaan, pun dia sudah berupaya sebisanya, namun memang tak kunjung datang. Hati kecilnya juga ingin terus menerus dan merasa candu dengan senyuman Ibuk saat ia kelas satu SD.
“Kak, Kak, sudah sampai”, Zaki tersadar dari lamunannya.
“Oh i i iya, Ka Kaa-kk”, jawabnya terbata-bata sambil membuka pintu mobil. Ia lupa kalau hari sedang hujan dan basahlah sekujur tubuh.
Sambil berdiri dan belum cukup sadarkan diri, tangis Zaki pecah.
“Bukankah aku berhak dicintai dengan tulus?”, ucap Zaki lirih.
Dalam hati kecilnya, suaranya semakin lirih.
‘Aku tidak meminta orang lain, aku hanya ingin Ibuk menjadi orang bak lirik lagu yang kudengar’.