Menua Bersama
Di samping tanah merah yang basah oleh sisa hujan semalam, Ia duduk bergeming. Telah kembali pada muasal separuh jiwanya. Duka yang terpancar dari wajahnya masih dapat samar terbaca. Segala sedih dan sepi Ia telan seiring waktu berjalan. Tiga tahun sudah status janda anak satu melekat pada dirinya.
"Aku dapat lamaran lagi," katanya sembari menaburkan bunga di atas pusara. "Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menolaknya. Lagi pula kenapa mereka lebih mengkhawatirkan masa depanku daripada aku sendiri?" lanjutnya.
Kombinasi keras kepala, setia dan mandiri membuatnya bertahan menghadapi setiap lamaran yang ada. Sudah terhitung tiga pria berbeda mendatangi ayahnya. Meminta izin untuk meminangnya. Keluarganya sungguh terbuka membuka pintu. Tetapi, mereka hanya singgah di depan pagar. Tak ada kesempatan mengetuk pintu hatinya.
Masa itu ia telan selama lima tahun kepergian suaminya. Hingga tak satu pun orang terdekatnya berani mengenalkan lelaki yang bermaksud menjadikannya istri.
"Aku datang membawa kejutan untukmu. Maaf, baru sekarang," katanya sembari mengusap nisan yang masih terawat selama tiga puluh tahun. Tangannya yang telah berkeriput mengandeng tangan mungil yang masih halus.
"Cucumu datang," bisiknya. "Cucu perempuan yang sama cantiknya dengan putri kita."
Tangan mungil itu ikut mengusap nisan dan menaburkan bunga di atas pusara. "Kay, kita berdoa untuk Opa," ajaknya pada si kecil yang baru menginjak empat tahun tapi sudah fasih membaca doa-doa.
"Opa, Kay akan temani Oma setiap berkunjung ke sini. Ya, kan Oma?" ujar si kecil selesai berdoa. Terpancar antusias dalam kedua bola matanya yang hitam jernih.
"Pasti. Besok kita ajak Bunda dan Ayah juga," imbuhnya disambut anggukan si kecil. Mereka berdua saling bercerita. Tidak berdua, tetapi bertiga. Menembus dimensi ruang, mereka bercengkerama.
Aku tidak pernah lupa pada janjiku menua bersamamu, meski engkau berpulang lebih dulu. Aku begitu yakin padamu sejak pertama berjumpa. Dan saat kau memilihku, telah kutetapkan engkau sebagai pemilik kunci hatiku. Selamanya.


















