D a g i n g.
Daging, merupakan sebuah grup dari aplikasi jejaring sosial dengan latar hijau, berawal dari celotehan bercada kawan-kawan seperjuangan semasa kuliah yang berakhir menjadi persahabatan. Grup yang berisikan 9 manusia yang humoris, gila, kendati demikian memiliki solidaritas yang tinggi.
Ini merupakan sepucuk tulisan tentang sebuah perpisahan dari seorang manusia untuk sahabat-sahabatnya. Empat tahun yang lalu aku bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Mereka adalah orang yang selalu mengisi hari-hariku, dari mulai senang dan sedih, solidaritas, bercanda, berdebat, hingga pertikaian pun pernah singgah di antara kita. Mereka adalah sekolompok manusia yang ku pikir merupakan teman seperjuangan dalam perubahan diri, sikap dan sifat menuju pendewasaan.
Agung, seorang kawan yang memiliki rasa solidaritas paling tinggi menurutku, bagaimana tidak, aku ingat kala itu, sepulang dari kumpul bersama kawan, bapak mengabari, tangan ibu kambuh lagi, dan memintaku mencarikan obat oles untuk syaraf. Ibu sedang sakit tangan, syarafnya terganggu dan itu menimbulkan rasa sakit yang amat sangat katanya, entahlah aku tidak begitu faham. Aku ingat orang ini menemaniku dengan motor tuanya mencari apotek yang masih terbangun di saat semua orang terlelap di kasur empuknya. Niatku sengaja menepi untuk mengambil uang di atm tanpa sepengetahuannya kala itu, tak disangka ia yang telah berjalan duluan berputar arah dan kembali menemaniku. Dia adalah teman yang paling setia. Sungguh.
Adit, dia tipikal orang yang cuek, kendati demikian ia adalah orang yang sangat baik sebenarnya. Ia adalah orang yang acuh terlebih tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Tapi, jujur saja, ia adalah orang yang selalu ada disaat aku butuh tempat untuk menepi di sela pusingnya perkuliahan. Kamar indekosnya selalu menjadi teman setia dikala senang maupun sedih.
Defy, manusia ini mulanya ku kira adalah orang yang sombong, hingga akhirnya aku sadar ia adalah orang yang sangat baik, bahkan ia adalah salah satu dari beberapa orang yang sangat berjasa bagiku. Dia adalah orang yang selalu mengajariku tentang dunia yang sedang aku geluti selama empat tahun di kampus. Manusia nyentrik dengan candaannya yang bisa dibilang ini adalah candaan untuk orang dewasa. Hahaha…..
Gustaf,lelaki asal Gunung Kidul, Yogyakarta ini adalah orang yang paling ingin ku kenal saat pertema kali kita dipertemukan. Gustaf merupakan orang yang pendiam dan jujur. Orang luar Bandung pertama yang paling cepat menyerap bahasa kami (sunda), walaupun terbata-bata ketika mengucapkan bahasa kami, dan selalu mengerutkan dahi berusaha mencerna makna dari percakapan kami.
Sopian, gaya rambut cepak selalu menjadi pilihan gaya rambutnya, simple dan gak ribet katanya, penggila anime, namun orang yang sangat kental dengan sesuatu yang berbau seni. Orang yang piawai dalam bermain gitar, hanya dengan mendengarkan saja dia bisa tahu chord apa itu.Sesuatu yang sangat hebat bagiku yang tidak terlalu mahir bermain gitar, dan mungkin sekarang ia mulai menggeluti dunia sastra, selalu mengirim gambar dengan kalimat-kalimat yang mengandung makna konotasi.
Melati, adalah wanita yang sangat tegar, jatuh bangun ia bertahan di dunia perkuliahan, keluar masuk rumah sakit berkali-kali. Maklum, dengan rumah bertempat di Sapan, ia harus berangkat beberapa jam lebih awal untuk sampai di kampus kami yang bertempat di daerah Dipatiukur. Tetapi aku ikut bersyukur ia berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Memang… Usaha tidak akan pernah membohongi hasil.-
Puji, satu-satunya wanita yang berasal dari luar Bandung. Ia berasal dari Lampung. Wanita paling perhatian terhadap gaya hidup dan trend. Ia adalah orang yang cerdas. Dia adalah wanita yang paling sering ku mintai uang. Hahaha…..
Dan terakhir, Astri, wanita terbesar dan tersabar di antara kita, bagaimana tidak ? ia adalah orang yang selalu mendapat bullying dari kami, hahaha….. dalam konteks bercanda tentunya. Astri adalah wanita yang mudah panik, terutama saat mengetahui bahwa pemilik dari tempat penelitian skripsinya adalah saudara dari dosen pembimbingnya sendiri. Aku masih teringat raut wajah paniknya sampai saat ini. Bisa kau bayangkan ? hahaha…..
Aku pernah mendengar kalimat yang diungkapkan seorang penulis sekaligus pemusik yang fenomenal di Bandung, dan mungkin di Indonesia, Fiersa Besari. Dalam jurnal online-nya, mengungkapkan setidaknya seperti ini :
Kawan…
Berkumpul adalah tentang merendahkan ego kita
Bahwa berjalan bersama adalah tentang kerja sama
Bukan tentang saling tarik menarik
Bahkan sebuah talipun akan putus
Jika saling ditarik
Kalian tahu,
Seperti sebuah perjumpaan
Maka pada akhirnya akan ada perpisahan
Meskipun berat, kita harus berpisah
Kita kembali ke rutinitas masing-masing
Dan meskipus terbesit rasa sedih
Tapi juga ada letupan kegembiraan
Kita punya definisi pulang masing-masing
Ada yang berkata bahwa pulang adalah tentang anak dan istri
Ada yang berkata bahwa pulang selalu tentang kota
Ada yang berkata bahwa pulang adalah tentang kembali kepada-Nya
Namun bagiku, pulang akan selalu tentang ibu, karena
Ketika aku pulang, sungguh menyenangkan berada di dekatnya.
— **
Dan ibu adalah wanita yang selalu mendukung, ibu adalah seorang malaikat yang Tuhan simpan di dunia. Ibu adalah manusia paling sabar, paling kuat, dan paling bijaksana.
Terima kasih atas pengalaman selama 4 tahun bersama.
Kentutkurakura, Oktober 2017













