Dalam hening layar yang berpendar, aku menyulam kata-kata tanpa suara, menyentuhmu lewat jarak yang tak terlihat. Setiap pesan yang kukirim adalah doa, setiap like yang kuberi adalah harapan. Tapi di balik dunia maya ini, ada cinta yang kutitipkan pada barisan kode dan cahaya.
Aku mengagumimu dari balik tabir anonimitas. Aku tak punya keberanian mengurai perasaanku di dunia nyata, maka kubiarkan algoritma menjadi perantara kita. Foto-fotomu adalah rahasia kecil yang kusimpan di sudut hatiku, komentar-komentarmu adalah lagu yang terus terngiang di benakku.
Namun, cinta di dunia maya ini adalah paradoks. Aku dekat, tapi jauh. Aku terlihat, tapi tak pernah benar-benar hadir. Apakah kau tahu? Ataukah aku hanyalah satu di antara ribuan notifikasi yang datang dan pergi?
Di dunia ini, aku hanyalah bayang-bayang. Tapi jika kau membaca ini, ketahuilah: setiap huruf yang kuketik, setiap pesan yang kuunggah, adalah bagian kecil dari aku yang ingin berada di sisimu, meski hanya sebatas layar.
Waktu kemarin ikut pelatihan digital marketing di daerah Depok yang membahas soal tips website efektif.. Di sesi pertama, speaker (pembicaranya) berpesan..
Ketika kita bikin website, yang perlu diperhatikan adalah soal gambar/foto yang dipakai dalam website kita. Ini penting sekali.
Semakin banyak orang yang di dunia nyata-nya merasa kesepian, namun membuat gambaran di dunia maya seolah-olah mereka sangat bahagia…
Apakah itu sebuah kesalahan?
Tidak ada yang perlu disalahkan atau juga mesti dibenarkan, ini tentang pilihan dan kebebasan setiap individu untuk menghibur atau mencari hiburan bagi dirinya sendiri.
kita adalah saksi,
untuk perubahan besar yang telah terjadi
pulang sekolah pernah menjadi saat favorit kami,
sekedar menaruh tas lalu main lagi
tidak perlu makan siang sebab benak penuh rasa aman,
karena ibu teman selalu menawarkan makanan
asal keluar rumah tanpa harus janjian,
karena kami yakin betapa mudahnya menemukan teman
Dunia maya telah memberi kebebasan bagiku mengamati lekat-lekat gurat senyummu, membaca bait-bait kalimatmu, mendengar puisi-puisi indahmu. Dunia maya juga setidaknya membuatku sesekali berhasil melacak keberadaanmu, dengan siapa kamu sekarang, bagaimana kabarmu saat ini. Mungkin, ini satu-satunya caraku menggapai setiap jemarimu. Tanpa kamu merasa risih.
Setidaknya, melalui dunia maya, aku bisa merasakan kamu berada disampingku, bercerita banyak. Tanpa takut kamu terganggu kehadiranku.
Aku tahu, aku hanyalah kalimat-kalimat sendu yang tak pernah kau baca.
Nyatanya, kita saling berpura-pura sadar. Bahwa sebegitu dalam, kita pernah saling mengenal.
KPAI: Kepatuhan Platform Digital Jadi Kunci Sukses Perlindungan Anak di Dunia Maya
PUNGGAWATECH, JAKARTA – Di era digital saat ini, perangkat elektronik telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian anak-anak. Aktivitas pendidikan, mencari hiburan, bahkan menjalin interaksi sosial kini banyak dilakukan melalui layar gawai.
Namun, kemudahan akses teknologi ini ternyata menyimpan sejumlah ancaman serius. Anak-anak rentan terpapar konten yang tidak layak dikonsumsi sesuai…
Dari Salah Beli Pisang, Kini Jadi Buzzer Kaya Raya
Tak ada kebenaran di dunia maya (buzzer)
Masa kecilku itu aneh.. seringkali jika di suruh melakukan sesuatu, ada saja kesalahan yang aku buat. Misal saat aku disuruh membeli nasi goreng ayahku berpesan “beli 1 bungkus nasi goreng.. kamu boleh beli untukmu sendiri” sampai di warung aku pesen 1bungkus nasi goreng, sedang 1 porsi aku makan di sana.. hasilnya.. karena lama menungguku ayah beli nasi…