Kawan, izinkan aku menamparmu sekali saja,
Sebagai tanda cintaku padamu !
Cinta yang selalu tersendat di tenggorokan, cinta yang gagap ini tidak bisa mengurai waktu.
Seperti Petapa, ia selalu berhasil menyembunyikan makna.
Sejauh ini, aku tak pernah menebas jarak, atau memutus mata rantai perjuangan, cobalah sekali saja kau tengok catatan di belakang, barangkali cinta kita perlu kembali dibahasakan.
Kawan, bukan perpisahan yang menggetarkan hatiku. Tetapi hidup tanpa kabar dan pelukanmu ibarat manusia kehilangan fitrahnya.
Ada malam penuh kata-kata, tawa dan air mata, aku menjadi buku dan pena, sesekali menjadi peta untukmu. Sebab kita tahu, petualangan selalu menemui jalan panjang penuh duri.
Kawan, malam ini aku seperti terbuang ke ruang sunyi. Memelihara dendam, membesarkan marah, aku dijauhi harapan, ditolak kebaikan.
Aku terlempar ke tebing ketidakpastian, tersudut, terseret, dan dihantui kekecewaan.
Aku bicara padamu, dan kau menertawakan cita-citaku. Sungguh cinta ini perlu kita ramu kembali.
Dan cinta yang terbata-bata hanya bisa ditemui di sisa-sisa duka beraroma dupa.
Kau tak lagi mampu mencerna rindu, seperti virus yang melumpuhkan.
Temui lah aku saat sunyi memeluk tidurmu, sebab waktu tak bermanfaat dalam sepi, cinta akan berguna saat resah, lalu terdengar nafas menyerah.
Kutulis surat ini dengan semangat menaklukan dunia dengan atau tanpa kau dalam doaku, sebab ketahuilah seorang pria tidak bisa hidup di langit yang sama jika ada pengkhianatan diantaranya.