Menentukan Pos-Pos Pengeluaran
Kesepakatan itu datang di meja persegi panjang dengan amunisi udon, Bara yang terlelap, dan jauh dari distraksi gawai. Benar-benar kombinasi yang lengkap. Perut yang penuh akan mengantarkan otak pada kemampuan idealnya, haha. Akhirnya saya dan Pak Ryan, memutuskan bahwa setiap akhir bulan kami akan mengadakan kencan uang untuk merumuskan dan merefleksi sepak terjang kami terhadap penggunaan uang selama sebulan kebelakang.
Kami (lebih tepatnya saya sendirian wkwk) memperbaharui pos-pos pengeluaran yang sudah ada sebelumnya menjadi konsep 10-20-30-40. Secara teori, konsep itu dijabarkan menjadi 10% zakat infaq, 20% masa depan, 30% cicilan hutang, 40% kebutuhan sehari-hari. Tapi setelah dihitung-hitung, angka-angka tersebut ada yang kurang pas untuk kami terapkan. Berhubung alhamdulillahnya kami tidak ada cicilan (dan semoga selalu Allah jauhkan dari keinginan dan kesempatan berhutang), maka semua porsi pos cicilan masuk ke pos masa depan. Hanya 2,5% untuk jaga-jaga kebutuhan pembangunan rumah (berhubung kami sedang renov rumah). Angka 40% terlalu besar untuk kebutuhan sehari-hari, maklum jiwa mamak memang penghematan. maka 30% rasanya cukup.
Semua pos pengeluaran dibagi menjadi 4 prioritas. Prioritas pertama tentu saja adalah pos hak-hak habluminallah dan habluminannas. Pos kewajiban zakat, infaq, shodaqoh, pemberian untuk orang tua, dll. Prioritas kedua yang harus ditunaikan adalah pos cicilan dan hutang, saya buat sekecil mungkin, karena kami berusaha menghindari utang. Prioritas ketiga adalah pos masa depan. Inilah porsi terbesar kami, pos ini dapat diisi dengan dana darurat, investasi termasuk tabungan hari tua, investasi dana pendidikan, dan tabungan untuk membeli “mimpi” misal upgrade mobil, liburan ke luar negeri, rencana umroh dll. Sisanya prioritas terakhir adalah pos pengeluaran, yang besarnya dapat diutak-atik sesuai kondisi keuangan setiap keluarga. Jika sebuah keluarga punya prioritas II cukup besar, maka yang dikorbankan untuk diperkecil adalah prioritas IV nya, jangan prioritas I dan III nya. Maksudnya, kalau punya cicilan KPR rumah misalnya, yang harus dibuat lebih ketat adalah pos pengeluaran sehari-hari, tanpa mengganggu pos zakat dan pos investasi. Sebab gaya hidup orang lah yang membuat kehidupan itu terasa mahal.
Dengan membuat pos-pos pengeluaran, benar-benar membantu saya untuk membatasi pengeluaran dengan lebih cermat. Saya kemudian mengelola yang 30% kebutuhan sehari-hari menjadi bentuk dan cara yang paling pas sesuai style saya : teknik amplop. Akan saya coba ceritakan di postingan berikutnya, soalnya beli amplopnya baru kemarin malam haha.
Ohya, saya juga belajar tentang financial scoring untuk rumah tangga (bagi pemula, cem saya hehehe). DIpost berikutnya insyaAllah, karena belum dihitung hehe.












