gejayan memanggil lagi
sebetulnya /belum/ ranahku untuk bicara perihal ini. ya, aku baca buku sosial-politik sejak SMA, juga blog dan artikel yang memuat isu-isu tentangnya. namun tetap saja aku belum memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk membahas secara tuntas, menguliti sampai ke pasal-pasal hukum yang menaunginya.
meskipun barangkali apa yang kupelajari di bangku kuliah memang sedikit bersinggungan dengan perpolitikan, apalagi kami kan 'mahasiswa'.
mahasiswa yang itu, yang terampil beretorika dengan sejuta teori yang entah bagaimana bisa hafal di luar kepala, menginisiasi konsolidasi sebelum mewujud aksi, mengawal berbagai pergerakan yang santer terdengarnya demi kepentingan rakyat, menyebar propaganda di grup sana-sini, dan jangan lupa di Insta Story.
tidak luput pula deretan file pdf berisi panduan atau manual agar ketika turun di jalanan tidak kehilangan tujuan. malu sama jas almamater, katanya. masak numpang eksis doang, tidak tahu juntrungan masalah yang sedang mati-matian di'demo' itu sebenarnya apa.
maka aku juga memperhatikannya, aku membaca betul apa yang mereka bagikan. apa aku ikut-ikutan? ya dan tidak.
ya, kalau aku paham sepenuhnya apa yang hendak disuarakan. kadang aku merasa tidak cukup, dan itu sering membuat sedih karena "hah, sebegini susah untuk memahami kasus terkini."
entahlah, bahasanya kadang terlalu tinggi, rumit, dan berbelit-belit atau memang aku yang harus lebih banyak belajar? kadang kesal dengan diri sendiri tidak bisa menyelesaikan daftar bacaan dan malah berakhir berdebu di pojok ruangan. padahal kemampuan mengaitkan sesuatu alias connecting the dots itu sangat dibutuhkan. mungkin itu salah satu alasan kenapa media visual pada zaman ini adalah kewajiban. selain menghibur, poin lainnya adalah memudahkan.
menulis ini bukan berarti semua tulisan tentang gerakan-gerakan mahasiswa itu memiliki tingkat keterbacaan yang rendah. ada pula yang bisa menginformasikannya secara komprehensif dan menggunakan bahasa ilmiah yang nampak intelektual namun tetap bisa diterima secara universal. apalagi bagi mahasiswa non-aktivis yang tetap hendak memberi kontribusi--ya membagi poster memanggil itu misalnya.
contohnya yang ini. dari kakak kelas yang juga kakak tingkatku kini. orangnya memang belajar tentang RUU kalau di kampus. cocok saja kalau dia mau bicara tentang isu-isu itu. argumennya koheren tapi bisa dibaca semua golongan. provokatif tapi tidak menyudutkan.
lagi-lagi, apa ya.
mau mengkritik soal tatabahasa tapi aku masih pemula pula. memang yang paling baik adalah kembali ke gua dan mulai membaca. lebih banyak lagi dan lagi. agar kelak suatu saat nanti benar-benar ikut turun ke jalan mampu lebih dari sekadar memotret orang.













