PUISI SEJARAH
Sepasang tetes yang hampir jatuh bersebelahan
adalah kita yang sama-sama enggan pergi dari pegangan.
Kita saling menatap sebelum jatuh
dan berjanji,
setidaknya kita menjadi genang yang tunggal
di antara jutaan kenang.
Di ujung waktu, kita mengering
menjadi bekas
bentuk patahan yang menyatu.
Lalu cerita kita terbawa angin
melagu di telinga pujangga-pujangga
paling romantis.
Dari nafasnya, berubahlah kita
menjadi sebuah puisi utuh yang menyentuh
hingga masuk dalam buku paket Bahasa Indonesia SMA
menjadi contoh cinta yang direstui semesta
dan digugu siswa–siswi yang membacanya.
Demikianlah kita, yang selalu mesra
karena luka.
Tak perlu ada, yang penting terasa.
— Bandung, A.
(Kalimat terakhir terinspirasi dari seorang teman yang kelihatannya tak mungkin begitu; Naufal Ibot)
















