Aku mencintai sesuatu yang tak pernah benar-benar ada.
Bukan karena aku tak ingin menggenggam,
tetapi karena menggenggam hanya akan membuatnya retak.
Aku mencintai dalam sunyi, dalam ruang tanpa bentuk,
dalam keberadaan yang lebih mirip bayang-bayang.
Cinta ini menuhankan ketiadaan—
sebuah perasaan yang hidup tanpa tubuh,
sebuah harapan yang bernafas tanpa janji.
Aku membiarkannya melayang, mengembara tanpa arah,
sebab setiap kali kuberi nama, ia justru menghilang.
Barangkali, aku takut pada kepastian,
sebab kepastian menuntut bentuk, menuntut nyata.
Sementara aku sudah terlalu nyaman mencintai dari kejauhan,
tanpa perlu memiliki, tanpa perlu kehilangan.
Biarlah ia tetap begini—
menjadi doa tanpa suara,
menjadi rindu tanpa arah,
menjadi segalanya dalam ketiadaannya.
Objek Tuhan, TRJ 02/02/2025
—di vila penantian.













