Ada sekelebat bayangan yang kerap datang tanpa suara. Ia melintas di lorong-lorong sunyi pikiranku, membawa wajah yang tak pernah benar-benar pergi. Bukan untuk mengganggu, melainkan untuk mengingatkan bahwa cinta kadang hidup dalam bentuk yang paling sederhana: bertahan.
Di saat dunia menuntut banyak hal dari akal dan raga, bayangan itu memelukku dari dalam. Ia tidak menjanjikan keabadian, tidak pula menawarkan jalan yang mudah. Ia hanya berbisik agar aku tetap percaya pada kekuatan yang kumiliki, pada langkah yang masih sanggup kutempuh, dan pada hati yang belum kehilangan kemampuannya untuk mencintai.
Aku belajar bahwa cinta bukan selalu tentang memiliki seseorang. Kadang ia adalah keberanian untuk merawat diri sendiri ketika badai datang, menjaga kewarasan saat pikiran ingin menyerah, dan memeluk luka tanpa membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti hidup.
Bayangan itu mengajariku bahwa akal adalah cahaya yang menuntun arah, sementara raga adalah rumah yang setia membawa mimpi ke mana pun pergi. Dan cinta, dalam bentuknya yang paling murni, adalah tangan tak terlihat yang merangkul keduanya agar tetap berdiri ketika dunia terasa terlalu berat.
Maka jika suatu hari kau melihatku tersenyum di tengah lelah yang panjang, ketahuilah bahwa ada sekelebat bayangan yang terus memelukku. Bayangan yang membuatku tetap jatuh cinta pada hidup, pada kekuatan akal yang berpikir, pada raga yang bertahan, dan pada harapan yang selalu menemukan alasan untuk tumbuh kembali. Karena cinta yang sejati bukan hanya tentang siapa yang kita cintai, melainkan juga tentang bagaimana kita menjaga diri agar tetap mampu mencintai.
@gramabiru | selfaction












