Lupa. Tidak semua mendapat perlakuan sama. Yang sama hanyalah virusnya, rasa takutnya, kewas-wasannya. Memang benar, pada dasarnya wabah ini mengajarkan kita bahwa manusia sederajat, hanyalah segumpal daging yang sama, yang diujung hidupnya akan membusuk. Tidak peduli ras, agama, status sosial, virus menyerang siapa saja. Tapi di negara ini, tidak semuanya benar-benar sama. Dua ribu alat tes masal diperuntukan untuk anggota DPR dan keluarganya, sedangkan para tenaga kesehatan yang limpung mencari kepastian kondisi harus mengalah demi para dewan terhormat. Tidak dipungkiri, fenomena ini pun terjadi di negara-negara maju, meskipun terkendali. Jadi bayangkan, di negara ini, kira-kira fenomena wakil rakyat didahulukan apakah akan terjadi? tentu saja. Tinggal lihat apakah sembunyi-sembunyi atau ketahuan pada akhirnya.
Hari keenam permainan. Saya mau mereview satu tools yang saya gunakan untuk membaca. Namanya Kindle.
Saya sendiri baru tahu perangkat ini tahun lalu, ketika Pak Ryan tiba-tiba sering berduaan dengan barang baru. Saya pikir Pak Ryan beli tablet baru, rupanya beda.
Kidle adalah anak yang lahir dari Amazon, perusahaan besar yang memulai karirnya dari berjualan buku. Amazon berpikir keras bagaimana caranya buku elektronik bisa dengan luas diterima dunia, sebab tidak banyak yang menyukai membaca dari layar gadget atau PC. Berdasarkan penelitian di banyak negara, para pelajar cenderung mencetak bahan ajarnya dibanding harus belajar dari bahan elektronik. Banyak kekurangan yang dirasakan, paling utama adalah karena fitur LCD dengan kemampuan backlit (cahaya muncul dari balik layar) dan blue light (spektrum cahaya buatan yang menghasilkan warna-warni), penyebab utama mata manusia kelelahan saat membaca di layar perangkat elektronik.
Maka lahirlah Kindle, dengan kemampuan e-ink (silakan googling sendiri), layar terlihat seperti kertas. Dan karena tidak menggunakan backlit dan blue light, maka Kindle tidak melelahkan mata, meskipun hanya tampilan hitam putih dan kalau di tempat gelap tidak terlihat (prinsip mirip kertas cetak, kebalikan layar perangkat elektronik)
Yang saya suka lagi dari Kindle adalah fitur geser samping, untuk membuka halaman selajutnya, mirip cara membuka buku. Berbeda dengan perangkat elektronik yang harus scroll ke bawah, jadi sering kali saat membaca scroll nya berlebihan. Ukuran font nya pun bisa diatur, jadi bukan zoom, tapi memang pengecilan font sehingga jumlah kata dalam satu layar bisa diatur.
Yang lebih unik, Kindle punya kamus yang langsung terkoneksi dengan kata-kata di bacaan. Jadi cukup dengan menekan agak lama di satu kata yang tidak kita mengerti, otomatis langsung keluar definisi dari kata yang kita sentuh tadi. Jadi tidak perlu repot membuka translate jika sedang membaca buku berbahasa inggris sekalian langsung menambah kosa kata baru.
Sayangnya, buku-buku yang bisa dibaca terbatas, biasanya dijual di laman Amazon, dan berbayar, tapi murah, tidak semahal versi cetaknya. Tapi akhir-akhir ini buku-buku dalam bentuk pdf pun bisa dibaca di Kindle, meskipun ilegal hehehe. saya biasa download buku di web, lalu dimasukkan ke Kindle, ternyata bisa juga kok. Untuk saya pribadi ini adalah solusi untuk sifat saya yang tidak tahan lihat banyak buku menumpuk. Meskipun memang tidak akan bisa mengalahkan sensasi membaca buku cetak, tapi Kindle adalah buku masa depan, (dengan embel-embel minim sampah hahaha)
Satu kelebihan lainnya, baterainya luar biasa tahan lama. Sekali charge, bisa tahan sampai satu bulan, tergantung pemakaian.