Hari masih pagi saat aku menjemput rindu di dahan-dahan tua pohon randu, pada kelopak layu bunga sepatu, pada desir pasir kering yang terbang satu-satu, pada embun yang mencair siap jatuh di ujung daun pohon sagu, pun pada gerombolan anggur ungu. Kemudian hari merangkak siang saat cinta mulai menggantung di ambang pintu, ingin keluar dan bertemu dengan yang dituju meskipun aku tidak tahu siapa itu. Tapi, cinta pasti sudah tahu, ke mana ia harus menuju, karena cinta memang begitu, selalu tahu arah berlabuh. Dan hari perlahan menuju sore saat harap mulai melambung pergi jauh-jauh, ke tempat yang sama seperti cinta menuju, dan kini aku tahu orang itu memang satu, yang harap pun ikut menuju. Tapi, sampai kapan ketidaktahuanku pada orang yang satu akan bertemu? Sementara cinta dan harap belum juga saling bertemu. Hingga malam pun tiba saat jantung doa berdetak kencang-kencang di seisi kalbu, menyebut nama satu, merapal harap pun begitu. Membersamaimu, dan menjadi tua bersamamu.