Malunya kita pada para syuhada.
Hari itu, kabar dibunuhnya Harits bin Umair Al-Ahzdi sampai ke Rasulullah. Mukanya memerah, Rasulullah saw marah. Sang delegasi pembawa surat dibunuh, artinya pernyataan perang. 3000 pasukan muslim dikerahkan, untuk mempertahankan marwahnya.
Dikala itu adalah musim terik yang panas di madinah. Ikhwan terbaik berkumpul mendatangi seruan. Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima, kemudian berkata, "Apabila zaid gugur, maka Ja'far yang mengambil alih, apabila Ja'far gugur, Abdullah bin Rawahah yang mengambil alih."
Berangkatlah 3.000 pasukan dengan gagah. Diperjalanan dikabarkan bahwa musuh berjumlah 100.000 ditambah pasukan romawi 100.000. Bayangkan 3.000 vs 200.000
Abdullah bin rawahah membakar semangat kaum muslimin. Pasukan muslimin terbakar semangatnya, tanpa gentar berperang, maka terjadilah pertempuran di mut'ah.
Dalam pertempuran, zaid memegang panji, lalu terbunuh, kemudian Ja'far memegang panji, lalu terbunuh, ibnu Rawahah memegang panji juga terbunuh. Lalu khalid bin walid yang mengambil panji barulah Allah berikan kemenangan.
Mari berkaca pada sejarah, kisah gugurnya ketiga syuhada itu selalu melecut jiwa ksatria. Lihatlah detik-detik terakhir Ja'far, ia mengabil panji sepeninggal gugurnya zaid dengan tangan kanannya, lalu tangan kanannya tertebas, ia sambar dengan tangan kirinya, dan tangan kirinya putus. Ia tak putus asa mempertahankan panji, ia gigit dengan gigi-giginya agar panji itu tetep berkibar. Hingga ia gugur dengan 99 luka di sekujur tubuhnya.
Lihatlah, patutnya kita malu. Syuhada yang berjuang itu sebenar-benar berjuang. Lantas kenapa diri ini masih saja cenggeng, masih aja malu dan lemah. Hanya karena hidupmu tidak nyaman. Atau karena lemahnya iman atas godaan dunia.
Tidakkah kita merindukan harumnya surga. Tidakkah kau ingin seperti para syuhada perang mut'ah, yang gagah berani. Bukankah Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, radhiyallahu anhu yang mengingatkan kita bahwa menjadi ikhwan tidak boleh lemah atas masalah kita. Bangkitlah. Ingatkan diri kita bahwa kitalah yang ditunggu-tunggu ummat.
Asrama Rumah Kepemimpinan Regional 9