Tentang hari Arafah di tahun ini
Hari Arafah di tahun 1442 Hijriyah ini ada sebuah perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya.
Entah kenapa siang tadi sehabis berbelanja beberapa kebutuhan, aku meminta kepada suamiku agar kami berjalan-jalan sejenak sebelum pulang kembali ke rumah.
Awalnya aku hanya meminta untuk memutar jalan dengan jarak yang masih dekat menuju rumah, tapi tiba-tiba suamiku mengajak untuk berputar arah melewati jalur yang lebih jauh. Aku pun langsung menyetujui ajakannya.
Ketika melewati rute tersebut, tiba-tiba saja muncul keinginan besar untuk mampir ke pemakaman yang cukup besar di belakang deretan rumah di jalan Dadapan. Ya, semenjak kami pindah ke Semarang tahun 2018, aku belum pernah masuk ke pemakaman tersebut.
Awalnya suamiku menanggapi dengan sedikit keheranan tentang permintaanku. Aku sendiri pun tak tau kenapa hari ini ingin sekali ke sana. Ada rasa penasaran yang besar yang semakin mendorong keinginan itu, karena semenjak Pandemi berlangsung, pemakaman Dadapan tidak lagi menampung jenazah pasien covid dengan alasan keterbatasan lahan.
Sebab hal itulah aku penasaran tentang seluas apa lahan tersebut dan sudah sepenuh apa lahannya terisi hingga tetangga kami yang belum lama meninggal pun tidak bisa lagi dimakamkan di sana.
Suamiku pun menuruti keinginanku. Kami beserta kedua putra kami memasuki area pemakaman itu.
Ketika masuk, letaknya memang benar-benar persis di belakang perumahan warga. Qadarullah akses kami terbatas hanya bisa sampai di area depan makam.
Saat melihat deretan makam berjajar ada hal aneh terjadi padaku. Tiba-tiba aku merasa hatiku yang sedang sempit menjadi luas. Aku merasa mata hatiku yang semula terasa keruh menjadi jernih kembali. Semua atas izin Allah semata.
Ya, aku saat itu sedang berada dalam kondisi hati yang kurang baik. Dadaku masih sering sesak dengan permasalahan yang belum lama aku alami. Mataku masih sering menangis karena ujian yang belum lama terjadi. Sesering apapun aku mencari ruang dan tempat bercerita, rasa pulih yang ada tidak bisa bertahan lama. Oleh karena itulah aku merasa masih ada hal yang tidak beres pada diriku.
Tatkala aku benar-benar melihat deretan rumah masa depan (kuburan) yang berjajar tepat di hadapan kedua mataku, maka aku seakan tersadarkan kembali akan fananya dunia ini.
Baru kali pertama ini aku merasa benar-benar lega setelah melihat pemakaman. Kesan yang biasa muncul adalah rasa takut akan kematian juga rasa cemas akan dosa yang melekat pada diri.
Namun di hari ini, ada kesan yang sangat berbeda yang aku resapi. Rasa tenang, lega dan lapang. Seakan luka yang selama ini menjerat kalbuku luruh begitu saja. Benar-benar sebuah pengingat yang luar biasa indah dan kuat.
"Apa yang hendak aku cari dalam hidup? Apa lagi yang mau aku cari untuk bisa pulih? Motivasi apa lagi yang akan membuatku benar-benar sadar??"
Itulah sekelumit ucapan yang terus muncul dalam benak ketika memerhatikan jajaran makam di depan mata.
Aku pun teringat dengan sebuah gambar yang pernah membuatku terdiam cukup lama. Dan ini aku dapat dari status Whatsapp salah satu teman.
Meski lokasi foto ini berbeda dengan tempat tinggalku, tapi pesan yang sampai tetaplah sama.
Bahwa, sedekat itu kehidupan kita dengan kematian. Tapi seringkali dinamika hidup membuat kita lupa akan kedatangannya.
Bahkan ketika rumah kita berdekatan dengan makam sekalipun, seringkali kita menangisi dunia di dalam rumah-rumah kita, seakan lupa bahwa kepahitan hidup akan sirna dan seakan buta bahwa rumah masa depan telah menanti kita.
Sepulang dari makam, suamiku berucap tentang hal yang begitu menyentuh hatiku. Kurang lebihnya ia berucap,
Manusia itu semuanya sama. Akan mati dan dikuburkan. Mau dia kaya atau miskin tetap aja akan bersemayam di bawah tanah.
Ya, emang sih yang beda kualitas makamnya, kalo orang kaya dikuburkan di tempat mewah dan pemakaman yang lebih tertata rapi.
Tapi, pada kenyataannya kita semua sama. Emang nanti kita nggak akan sama-sama diinjak? Jelas kita itu akan sama-sama diinjak oleh kaki penggali makam, ketika ia hendak memadatkan tumpukan tanah kubur kita, biar tanahnya padat dan nggak mudah amblas.
Dari situ aku pun terenyuh lama. Ya, segigih apa pun kita memperjuangkan harga diri kita yang diinjak-injak oleh orang lain, pada akhirnya jasad kita akan diletakkan di dekat kaki dan kita akan terkubur di bawah tanah yang berat lagi dipadatkan dengan cara diinjak-injak oleh kaki-kaki manusia.
Mau kita marah, kita tidak terima dan semurka apa pun, pada akhirnya kita pun akan berada di bawah tumpukan tanah.
Jadi, jangan sampai rasa sakit hati kian berlarut-larut hingga menyibukkan pikiran kita dan menghabiskan sisa waktu kita yang kian menipis.
Sepatutnya kita berupaya melapangkan hati, meminta pertolongan Allah agar bisa segera beranjak dari hal-hal yang telah melukai.
Karena ajal akan tiba sebentar lagi dan jangan sampai kita jadi manusia yang merugi.
Renungkanlah lagi! Telaah kembali berapa banyak manusia yang saat ini telah menyatu dengan tanah dan tak bisa beramal Shalih di hari-hari termulia ini? Bahkan tak bisa berjumpa dengan hari Arafah dan hari raya yang sangat besar keutamaannya.
Lantas ruginya, berapa banyak waktu dan kesempatan yang terlewati begitu saja oleh kita yang masih diberi kesempatan hidup? Kita tidak maksimal beramal Shalih karena terpenjara dalam rasa kecewa dan sakit hati.
Dan yang lebih rugi lagi tatkala banyak manusia yang menghabiskan waktu dengan perkara yang sia-sia di 10 hari termulia ini. Berapa banyak yang dilalaikan dan dibutakan oleh Allah dari menyadari hikmah dan nilai yang besar dari hari-hari yang termulia ini?
Sungguh pantas aku menangisi keadaan diriku, yang malah terpenjara dalam rasa sakit yang sia-sia. Dan sepatutnya aku sangat takut dan khawatir jika Allah membutakan aku karena kebodohan dan kelalaianku.
Benar-benar sebuah hadiah yang indah dari Allah yang menuntunku untuk memiliki keinginan besar mendatangi pemakaman di hari ini. Sebuah hadiah yang terkesan aneh dan tak biasa, namun dengan izin-Nya menjadi pengingat yang luar biasa.
لا حول ولا قوّة إلّا بالله العليّ العظيم 🌧️
Senin, 19-07-2021 | 15.18
Venetie van Java, tepat di hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1442 H.