Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Sebuah masjid yang ukurannya tidak terlalu besar, terletak di sebuah kampung di pinggiran Kota Yogyakarta. Tetapi namanya telah dikenal di nusantara bahkan dunia. Mulai dari program pelayanan umatnya, kampoeng ramadhan-nya, hingga menjadi role model masjid di DIY maupun di Indonesia. Pada tahun 2016 ini Masjid Jogokariyan memasuki umur 50 tahun sejak didirikan tahun 1966. Dan sebuah rangkaian tabligh akbar pun diselenggarakan dalam rangka memperingati Setengah Abad Masjid Jogokariyan.
Jangan terlalu fokus ke kalimat “Berani Menikah Muda” :D
Semua tema tabligh akbar yang diadakan sangat menarik dan kekinian kalau kata anak zaman sekarang. Tetapi saya pribadi lebih tertarik pada tema yang ketiga. Kenapa? karena tema tersebut mencoba menghadirkan tiga tokoh islam dari tiga harokah islamiyah yang berbeda (dalam hal ini Tarbiyah, Jamaah Tabligh dan Hizbut Tahrir). Timbullah keinginan agar bisa hadir langsung dalam tabligh akbar tersebut. Berhubung saya juga belum pernah ke Jogokariyan, hanya mendengar kisahnya dalam tulisan ustadz Salim A. Fillah dan cerita dari kawan-kawan yang pernah kesana. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat pada minggu malam.
Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan untuk bisa sampai ke Jogokariyan. Berangkat sekitar pukul 20.00 berempat dengan sepeda motor, sampai di Jogokariyan sekitar tengah malam. Baru sampai di lorong tempat masjid Jogokariyan, terlihat tenda yang memanjang kurang lebih 500 meter berdiri di jalan di depan Masjid. Saya berpikir, sangat luar biasa jamaah yang datang pada 2 tabligh akbar sebelumnya sehingga harus ditambah tenda agar bisa menampung jamaah. Masya Allah.
Setelah sampai di Masjid kami memutuskan untuk beristirahat di lantai 2 Masjid Jogokariyan. Disana ternyata kami tidak sendiri, ternyata ada sekitar 30-an orang yang menginap disana, sepertinya berasal dari luar kota juga seperti kami. Baru sekitar jam 1 kami bisa istirahat. Berusaha mengembalikan tenaga agar esok hari fokus mengikuti acara. Namun baru sebentar rasanya tertidur, kami terbangun oleh suara adzan. Kok cepat sekali ya sudah waktu subuh? Tidak, ternyata adzan itu berkumandang pukul 02.41. Ya, anda tidak salah lihat pukul 02.41. Adzan sebagai reminder kepada umat di sekitar masjid agar menunaikan Qiyamul Lail. Saya bangun, lalu ke kamar mandi membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Tapi ketika saya kembali ke masjid. Ternyata masjid sudah ramai bahkan saya hanya sebentar ke kamar mandi sudah di barisan keenam.
Foto diambil sekitar pukul 03.31
Perlahan masjid dipenuhi oleh jamaah yang menunaikan Qiyamul Lail di Masjid. Ya, mereka berbondong datang bahkan jauh sebelum adzan subuh berkumandang. Maka pada saat waktu subuh tiba dan adzan akan dikumandangkan. Saya menoleh ke belakang. seluruh ruangan masjid dan pelatarannya sudah penuh oleh jamaah. Sebuah hal yang langka, pertama kali saya menemuinya. Bagaimana jamaah berbondong ke masjid bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Bahkan saat adzan subuh pun masjid sudah penuh. Ramainya masjid kampus saat acara GSJ pun masih harus menunggu orang-orang yang baru datang setelah adzan subuh berkumandang,
Tanpa menunggu lama iqamah dikumandangkan, shalat subuh didirikan, disertai doa untuk umat pada i’tidal rakaat kedua. Imam menangis sesegukan ketika membaca doa. Masya Allah, rasanya diri ini masih jauh untuk bisa seperti beliau. Lalu setelah itu dilanjutkan oleh taujih dari beberapa ustadz dalam rangka Gerakan Subuh Jamaah #1212 sebagai follow up aksi #411 dan #212. Taujih-taujih yang membangkitkan semangat umat dan pekikan takbir berkali-kali berkumandang di Masjid. Allahu Akbar. Setelah taujih selesai, salah satu pelayanan umat masjid ini terlihat. Sarapan gratis bagi semua jamaah yang hadir. Bukan catering ataupun nasi kotak, hanya bubur kacang ijo dan ketan hitam.
Burjo GRATIS untuk jamaah tabligh akbar :D
Setelah sarapan, kami memutuskan segera mandi dan bersih-bersih, karena takut tidak dapat shaf terdepan ketika tabligh akbar. Alhamdulillah masih dapat shaf ketiga saat datang ke pelataran sekitar pukul 7, padahal acara dijadwalkan mulai pukul 8. Subhanallah. Dan sekitar pukul 8 acara pun dimulai, dibuka dengan lafadz Bismillah dan tilawah Al-Qur’an. Lalu masuklah tiga tokoh tersebut. Ustadz Felix Y. Siauw, Ustadz Derry Sulaiman dan Ustadz Salim A. Fillah.
Ada beberapa intisari dari taujih beliau bertiga yang bisa saya tuliskan di postingan ini. Semoga bisa menggambarkan apa yang beliau-beliau sampaikan saat tabligh akbar.
Ustadz Felix menyampaikan bahwa terkadang umat memulai pemahaman dari what and how (apa dan bagaimana), dimulai dari ibadah apa dan bagaimana caranya, sehingga ketika ada perbedaan cara terutama hal yang furu’ timbul perdebatan. Padahal seharusnya kita memulai dari why (mengapa), mengapa kita beribadah. Hal ini berkaitan dengan iman dan aqidah. Insya Allah ketika keimanan itu ada, maka ukhuwah akan hadir sebagai hasil dari keimanan.
Ustadz Derry sedikit bercerita tentang bagaimana beliau hijrah dari seorang gitaris metal di Bali menjadi seperti saat ini. Beliau menekankan bahwa lakukanlah dakwah dengan hikmah. Karena dakwah adalah mengajak, bukan mengajar. Siapapun bisa dan wajib berdakwah, tugasnya bukan untuk mengajar seseorang. Karena mengajar adalah tugas ulama, sedangkan tugas kita adalah mengajak mereka berislam dan mengantarkannya ke ulama.
Ustadz Salim menyampaikan bahwa jalan lurus yang setiap hari kita berdoa dalam Q.S. Al-Fatihah ayat 6 bukan berarti jalan yang mulus tanpa hambatan. Karena para Rasul terdahulu telah melalui jalan dakwah yang berliku dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Seperti halnya ketika Rasulullah SAW menceritakan kisah Yusuf A.S. ketika para sahabat meminta beliau menghibur mereka di tengah kondisi dakwah yang sulit. Beliau mengakhirinya dengan “Inilah jalanku”. Maka jalan dakwah pasti berliku, pasti ada penentangan pasti ada cobaan. Maka lalui jalan itu karena jalan itu pula yang ditempuh para Rasul.
Sayang sekali saya tidak dapat kesempatan buat bertanya, tetapi tidak apa. Di acara tersebut saya melihat bagaimana semangat umat untuk bersatu (kalau kata ustadz Derry bukan umat yang bersatu tapi umat yang satu) tengah bergelora. Di tengah cobaan menimpa umat dan fitnah dari musuh islam. Walaupun tidak dapat kesempatan bertanya. Alhamdulillah masih dapat kesempatan membeli buku baru beliau yang tersedia terbatas.
Buku ini cover-nya bolak balik.
Banyak hikmah dari perjalanan singkat di Jogokariyan. Hikmah bahwa peran masjid bukan hanya sekadar tempat ibadah tapi pelayan umat dan mewarnai umat dengan nilai-nilai islam. Betapa indahnya jika setiap kampung dan komplek seperti di Jogokariyan. Mendatangi masjid bahkan sebelum adzan subuh berkumandang.
Hikmah bahwa kita perlu berjamaah. Memang dengan kondisi islam yang tidak punya satu pemimpin seperti halnya Paus bagi umat Katolik. Maka kita masih dalam kondisi jamaatul minal muslimin. Tapi jangan sampai kita ashobiyah dengan jamaah atau harokah, lalu menyalahkan bahkan mengkafirkan jamaah atau harokah yang lain. Karena kita semua adalah sama, kita adalah muslim. Karena kita menyerukan kalimat yang sama, kalimat Laa Ilaaha Illallah.
Hikmah bahwa sudah saatnya umat ini menjadi umat yang satu. Karena semakin mendekati akhir zaman, yang haq dan yang bathil semakin jelas. Makin tampaknya berbagai tanda-tanda keburukan justru adalah sebuah nikmat kata Ustadz Salim, karena makin jelas mana yang berpihak kepada Allah, Rasul, dan Dien ini dan mana yang berpihak kepada selain itu. Ketika banyak ujian dan cobaan, banyak pertentangan dan perlawanan dari musuh islam, itu adalah hal yang wajar kata Ustadz Felix. Karena dalam sejarahnya memang umat-umat para Rasul sering menghadapi status quo dan memang seperti itulah jalan para Rasul. Yang paling penting di setiap aktivitas kita, detik kehidupan kita. Kita sadar bahwa semua itu terjadi atas izin Allah dan tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Semoga ada akan lagi sebuah perjalanan yang luar biasa penuh dengan hikmah dan semoga siapapun engkau yang telah berikrar sebagai muslim. Semoga Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya kelak. Aamiin
Semarang, 13 Desember 2016
YAPW