Perjalanan seumur hidup
Proses menyembuhkan diri adalah proses yang mungkin akan aku lakukan seumur hidup.
Pemikiran itu yang selalu muncul di otakku, saat bayang-bayang apa yang pernah terjadi di masa lalu tiba-tiba terlintas tanpa sebab atau pemicu. Aku mungkin bisa mengaku bahwa aku sudah lupa. Tapi otak dan perasaanku tentu punya tempatnya sendiri untuk menyimpan dengan baik segala memori yang menolak untuk aku ingat kembali. Segala perasaan marah, berduka, jijik, dan juga malu adalah semua jenis perasaan yang awalnya kupikir telah aku terima. Namun faktanya, saat perasaan-perasaan itu datang lagi, pemikiran bahwa aku adalah orang yang paling tidak layak datang kembali.
"Apakah bayangan yang tiba-tiba teringat tanpa sebuah sebab atau pemicu akan apa yang pernah terjadi di masa lalu adalah salah satu tanda bahwa aku masih belum bisa ikhlas menerima itu semua? tanyaku pada psikolog.
"Sebenarnya itu wajar ya, karena kan manusia tidak bisa melupakan sesuatu yang sudah terjadi. Jadi yang terpenting, walaupun terflashback tidak teralu menganggu seperti di awal kejadian buruknya," jawabnya.
Manusia tidak bisa melupakan sesuatu yang sudah terjadi.
Ternyata apa yang selama ini aku coba lakukan adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan. Jadi sekarang, alih-alih mencoba melupakan, saat bayang-bayang itu kembali hadir, aku mencoba untuk menerima, merangkulnya, dan menyadari bahwa bagaimana pun buruknya hal tersebut, itu semua sudah berlalu. Aku sudah tidak lagi 'tinggal' di sana. Aku sudah tidak lagi berada di masa lalu.
Proses menyembuhkan diri adalah perjalanan yang naik dan turun. Itu yang aku rasakan selama ini. Karena kadang ada hari di mana aku hanya ingin berkubang dalam kesedihan dan perasaan ingin melenyapkan diri sangat kuat mencengkram. Namun pada saat-saat itu, aku berusaha untuk tidak menolak itu semua. Aku berusaha untuk mengakui bahwa pada saat itu aku memang lagi merasakan perasaan itu. Aku hanya ingin mengatakan kepada diriku sendiri bahwa ia boleh merasakan apa pun yang sedang ia rasakan. Sebab bagaimana pun buruknya perasaan itu, aku selalu ada di sini. Dan semua perasaan itu hanya sebentar. Tidak akan ada yang menetap selamanya.
Saat ini aku masih berusaha untuk mencari hal-hal sederhana yang bisa menjadi alasan aku pengen hidup lebih lama. Seperti; aku belum membawa mama ke salon, aku belum melihat adik-adikku menggapai impian mereka, aku belum mencoba kedai es krim di kotaku, atau aku belum membawa kucingku jalan-jalan ke taman.
Melalui keinginan-keinginan sederhana itu, aku mencoba percaya, bahwa bagaimanapun sulitnya hidup yang kujalani saat ini aku masih selalu punya alasan untuk berbahagia.
Aku masih punya alasan untuk hidup lebih lama.
09.48 di Minggu yang kelabu


















