Warung Ijo / Singapore
Kampung fried rice with faux chicken and vegan egg
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from T1

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Germany
seen from India
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from T1

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
Warung Ijo / Singapore
Kampung fried rice with faux chicken and vegan egg
Hi there! you asked about Kampung's name in a recent post -- it's กำปุ้ง /kampûŋ/ and I strongly suspect it's a Northern Thai/ภาษาเหนือ word/name.
Thanks so much @lurkingteapot! 💖
I went on a Google jaunt with this info, and this online dictionary for Northern Thai (ภาษาเหนือ.com) tells me that in the northern dialect แมงก๋ำปุ้ง (maaeng kampung) is a word for spider (where แมง/maaeng is a general Thai term for bug).
So little Kampung is a sprightly, resourceful spider (also maybe a sassy mini Peter Parker 😂) – quite a fitting name for someone so much at home in the outdoors of Chiang Mai! 😍
(above) Our Skyy 2 x Bad Buddy x A Tale of Thousand Stars Ep.2 [2/4] 14.24 – cheeky Kampung puts his right eyebrow to work demanding payment for his help, while also promoting Oishi green tea
Kampung, Kuching, Sarawak, Borneo, Malaysia, 1978.
🌴 #malaysia #x100f #fujifilm #terengganu #kemaman #eastcoast #kampung #village #fujifilmphotography (at Pantai penunjuk Kijal) https://www.instagram.com/p/Cl2blBGSRFz/?igshid=NGJjMDIxMWI=
DENDAM KEKUASAAN
Dia tidak percaya bahwa uang akan mengubah seseorang! Mungkin ada orang (terlihat) berubah ketika memiliki (banyak) uang, akan tetapi (sejatinya) dia tidak berubah sama sekali. Uang hanya membuat orang (tersebut) menemukan jati dirinya yang sejati. Hal-hal yang dulunya tidak mampu dia capai ketika tidak memiliki uang dilampiaskan saat (sudah) memilikinya.
Mainan Impian Hot Wheels Ultra Hot DENDAM KEKUASAAN Steve Harvey dalam satu kesempatan mengatakan bahwa: “People say that money changes people. It realy doesnt! You know what. I learned about money. Money don’t change people but money alloes you to be more of who you really are. If you’re a kind person when you get a lot money you become a kinder person. If you’re asshole when you get a lot of…
View On WordPress
‘Travel in Comfort by Malayan Railway’
Federated Malay States Railway travel poster (1938). Artwork by J.R. Charton.
Tentang Desa dan Sedih Yang Mendera
Kau mengingatkanku pada kampung halaman.
Meskipun suasana desa yang tenang dengan kehidupan yang lamban berkebalikan dengan langkah kakimu yang selalu bergerak cepat, kau tetap mewujud sebuah sore yang sejuk.
Jumlah pohon tumbuh setara dengan sawah dan kebun yang masih dipelihara dengan begitu baiknya, seperti buku-bukumu. Mereka serupa, ya? Sama-sama sumber kehidupanmu. Selain sungai yang mengalir cukup deras ketika musim penghujan datang, selain berbagai gagasan penambah wawasan yang kau pelajari tiap malam untuk menjaga status intelektualitas.
Belum lagi bau tanah basah pada jalan yang belum di-paving blok dengan tumbuhan teh-tehan yang terpangkas rapi di kanan-kirinya. Harum. Seperti wangi tubuhmu yang tinggi dan kurus. Zat-zat dalam botol warna monokrom di depan cermin kamarmu tentu dapat mudah meresap ke pori-pori kulitmu.
Juga rumah-rumah yang sebagian besar materialnya berasal dari kayu dengan dapur beralas tanah basah dan dibangun tidak megah—padahal mereka bisa saja membuatnya lebih mewah. Melihat pemandangan itu membawaku pada suatu masa dimana ada kamu di sana, ketika kita duduk berhadapan bermandikan lampu kota. Pakaianmu, barang-barang yang menempel di tubuh maupun yang tersimpan di ranselmu; sederhana. ‘Cukup’ adalah kata yang mewakilinya. Sebab aku pernah mendengar sebuah pepatah,
“Kadang, yang lebih justru terasa kurang, nduk.”
Di desa itu, orang-orang menuju ke tempat mata pencaharian bersama hewan-hewan ternak yang digembalakan, berbarengan dengan anak-anak yang berangkat sekolah dengan melangkahkan kaki mungilnya—tidak ada alat transportasi, tidak perlu. Bukan tentang jalan kakinya, namun semangat menuntut ilmunya yang sebelas-dua belas denganmu.
Embun yang masih tertinggal di atas dedaunan yang kalau dipotret dengan lensa makro akan seperti kolam dengan gelembung raksasa. Pagi berkabut dengan sinar matahari yang masih malu-malu menelusup lewat celah-celah pohon yang rimbun. Daun bambu yang layu jatuh di sepanjang jalan.
Hal-hal kecil itu kadang luput, hanya beberapa orang yang kelewat sayang dengan kampung halamannya atau orang kurang kerjaan yang mengingatnya. Tapi sayang, kamu sama sekali tidak pernah terlewatkan. Orang-orang selalu menyebut kau. Namamu yang menggaung itu dengan cepat mengantar rangsang untuk membentuk suatu kenangan tentang kampung halaman di otakku, tentang perasaan-perasaan manusia yang dialami ketika tidak berada di kota.
Kebersahajaan. Kebersamaan.
Itu semua mewujud kau. Kau yang kukenal dan selalu membuatku sedih tiap kali aku pulang.