kita adalah manusia-manusia dengan kepala berisik yang tak henti-hentinya meminta agar selalu diberi ketenangan dan kehidupan yang asik oleh Tuhan Yang Maha Baik.

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye
seen from France

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from South Korea

seen from Malaysia

seen from Belgium
kita adalah manusia-manusia dengan kepala berisik yang tak henti-hentinya meminta agar selalu diberi ketenangan dan kehidupan yang asik oleh Tuhan Yang Maha Baik.
Maret kembali menyapa, pertanda diri harus makin dewasa.
-Fiersa Besari
Bertemu lagi dengan bulan Maret, bulan kelahiran. Di mana semua harap diaminkan oleh banyak orang. Yang lebih banyak dari biasanya. Sempat terlintas di pikiran untuk melupa. Karena semakin bertambahnya usia, semakin banjir pula akan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi kepala. Namun suatu ketika, seperti ada mantra yang mengetuk mata. Yang mengharuskan mata ini dibuka selebar-lebarnya. Bukan hanya sepasang mata yang ada di wajah, pun mata yang ada di dalam hati dan jiwa.
Ada pesan yang tersemat di sana. “Bukan begitu caranya”, katanya. Semakin bertambahnya usia, memang semuanya pun bertambah. Bertambah rasa syukur, bertambah rasa kerendahan hati, bertambah rasa sabar dan ikhlas, dan masih banyak bertambah-bertambah lainnya yang harus ditambah.
Semoga selalu dipanjangkan dalam segala hal, baik menerima maupun memberi. Semoga selalu dipanjangkan rasa kuat dalam menjalani kehidupan yang kian hari kian mengharuskan untuk belajar. Belajar melangkah lagi, berlari lagi, bergerak lagi, berjuang lagi, hingga pada akhirnya punya keberanian untuk terbang. Terbang setinggi-tingginya. Tanpa ada ketakutan di dalamnya. ✨✨
Hingga pada akhirnya, yang masih dirindukan hanyalah tertawa bersama sembari saling berkeluh kesah. Meski pada akhirnya saling lupa dan kemudian tenggelam di cerita yang berbeda.
-tetap lanjut
Beberapa rencana beserta ekspektasinya harus terjeda. Tiba-tiba. Tanpa meminta izin. Berat? Tentu! Tapi kan yang namanya hidup harus terus berjalan, jika kita tidak ingin tertinggal. Semua kembali pada, “Manusia hanya bisa berencana, Tuhan sebagai pemegang keputusan tertinggi yang sah.”
kala embun menyapa,
aku tahu keadanya sudah berbeda,
kau dan aku tak lagi bersebelahan,
apalagi memandang,
meski hati pernah saling menguatkan,
tapi nyatanya semesta tak meng-iya-kan.
sebelum kita benar-benar selesai
Senyummu masih terbenam di sudut coffe shop di mana kita sering menghabiskan waktu untuk berkeluh kesah. Kali ini, senyummu sedikit berbeda dari biasanya. Seperti agak dipaksakan. Setelah kalimat terakhir kau sampaikan tanpa ada ujungnya. Hening. Terdiam dan saling bertatapan. Derasnya air mata tak mampu kubendung lebih lama lagi. Mengalir membasahi pipi tanpa suara yang mengiringinya. Hanya sesegukan yang terdengar sesekali. Kini air mataku kuusap sendiri. Setelah tanganmu mencoba untuk mendekati pipiku tapi langsung kutampik.
Kini setelah ku menghela napas panjang, ku iyakan segala keputusanmu. Hanya dengan anggukan. Kata-kata yang penuh di dalam kepala sudah tak kuasa untuk kulontarkan.
“Maaf kalau langkah kita terhenti di sini. Kita lanjutkan masing-masing ya sekarang”.
Kalimat terakhir itu tetap menggantung di udara. Tanpa epilog.
Kita sepakat untuk menutup malam ini dengan berjabat tangan dan pelukan. Yang entah saling menguatkan ataukah saling merapuhkan. Aku tahu, tak ada perpisahan yang baik-baik saja meskipun diakhiri dengan sebaik-baiknya. Pun aku tahu, perpisahan ini bukan keinginanmu tapi mau tak mau ia harus masuk ke dalam keputusan yang kau buat.
Aku bergegas masuk ke dalam taksi online yang berhenti tepat di depan coffe shop lima menit yang lalu. Aku memilih untuk tidak diantar lagi olehmu karena aku tak mau sesak di dada semakin dalam. Perjalanan pulangku malam ini semakin didramatisir oleh hujan yang tak kunjung mereda sedari sore. Sepanjang jalan menyusuri kota, yang kulihat hanya gelap. Padahal gemerlap lampu di luar jendela mobil saling bertatap.
Setengah windu bukanlah waktu yang singkat menjalani naik turunnya kehidupan yang fana ini bersamamu. Taksi online yang melaju dengan sedikit lamban mendukung isi kepala yang terus bertarung pertanyaan. Mulai sekarang, rintangan dan beban harus kupikul sendirian.
Kini, aku hanya bisa berserah diri. Terserah bagaimana baiknya yang Tuhan atur. Saat ini, kita sudah mempunyai prioritas masing-masing. Hidup memang tak selurus jalan tol. Kadang ia berkelok, terjal, dan kadang naik turun. Manusia hanya bisa senantiasa berdoa agar ia selalu dikuatkan dalam menjalani apa yang sudah digariskan. Melakukan sebaik yang dimampunya. Dan jika sudah tak ada lagi langit cerah di kemudian hari, mungkin itu tandanya langkah kita harus berhenti.
kini, tak ada yang perlu dikhawatirkan. semua harap dan peluh sudah tak lagi kugantungkan. ia sudah kuserahkan semuanya pada Sang Maha Agung. sang pemilik semesta alam raya.
kini, kaki tak lagi berat kulangkahkan. semua perjalanan coba untuk kunikmati bersama gemawan yang terus berjalan beriringan. tanpa ada lagi apa dan kenapa.
kini, pulang adalah tujuan. pulang ke rumah tempat kita singgah di dunia. ataukah pulang ke rumah abadi-Nya. beserta doa sebagai pengiringnya.
28 September 2021
Selamat Datang Jiwa-jiwa baru
Selamat Datang di dunia yang tidak jelas
Ia wanita Rusak
Sudikah kiranya engkau menerima segala hal yang telah ia lewati ?
Ia begitu kekeh dengan pendirian dan halusinasinya.
Seolah nyata, seolah tersentuh
Jauh disana ia berlali menuju fana
Sesungguhnya mudah saja, namun ia berlarut, tetap bergelut dengan sekelumit ke tidak mungkinan, memaksakan keadaan