Tidak ada yang benar-benar tahu sampai kapan hubungan kita dengan orang lain akan bertahan. Tidak sedikit yang tiba-tiba berpisah, entah karena sudah tidak lagi beririsan atau yang bersangkutan telah menghembuskan napas terakhir.
Sejak kecil, dia mengalami banyak kedukaan. Sudah tidak bisa dia hitung dengan jari jumlah orang terdekat, entah itu keluarga, kerabat, teman, atau keluarga dari teman, yang ‘pulang’ mendahuluiku.
Masih teringat jelas bagaimana anak berumur 7 tahun dijemput tetangganya di sekolah sebelum jam pulang. Dia kebingungan, sebelumnya dia jarang dijemput dari sekolah. Tetangga itu bilang bahwa Neneknya sudah tiada. Dalam perjalanan pulang dia kebingungan.
Bagaimana bisa Sang Pencipta mencabut nyawa Nenek yang perhatian dan dermawan?
Ketika berumur 8 tahun pun, dia masih kebingungan ketika Kakeknya yang lembut dan penyayang tiba-tiba menghembuskan napas terakhir.
Bagaimana nanti aku bermain di belakang rumah? Siapa yang akan mengajakku keliling kota naik mikrolet?
Untuk kali pertama dalam hidupnya, anak berumur 8 tahun itu mengurung diri di kamar tidur, menangis tersedu-sedu. Bingung melihat banyak orang mendatangi rumahnya silih berganti, dan tidak ada yang benar-benar peduli dengan mata sembabnya.
Tidak ada yang salah memang, semua orang sedang repot menemui pelayat yang silih berganti dan mempersiapkan hidangan.
Beranjak dewasa, dia mengalami lebih banyak lagi kehilangan. Perasaan sedih mendalam membawa dia pada istilah bernama kedukaan (grieving). Butuh waktu belasan tahun baginya untuk mengerti dan memproses perasaan campur aduk yang datang bersama kehilangan. Mengamati bagaimana munculnya, bagaimana polanya, bagaimana dia harus bersikap.
Sekitar 15 tahun kemudian, dia bisa memahami meski masih belum pandai dalam mengolah kedukaan dan keterpurukannya. Bukan, dia bukan bermaksud menjadi yang paling sedih karena kehilangan itu. Dia mungkin hanya lebih sensitif terkait perasaan. Dia memiliki kapasitas di atas rata-rata untuk menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain.
Dini hari tadi, rasa campur aduk yang tidak nyaman datang lagi ketika salah satu teman dekatnya mengirim pesan bahwa mamanya berpulang. Kondisinya yang sedang kurang tidur dan pola tidurnya yang berantakan kadang menyusahkan dia untuk membedakan mana mimpi mana kenyataan. Kenyataan melebur ke mimpi-mimpinya dalam tidur. Menghantui tidurnya, mengaburkan realitanya.
Ini pasti mimpi, aku masih tertidur, ini pasti mimpi, aku masih tertidur.
Begitulah dia mengulang-ulang sugesti dalam tidurnya yang berantakan. Namun, ketika benar-benar bangun dia bingung dan panik. Dia masih bisa melakukan sedikit rutinitas paginya, lalu setelah mengonfirmasi bahwa informasi tersebut valid, perasaannya ambyar.
Memori dengan mendiang mama temannya tiba-tiba memenuhi kepalanya. Buah jeruk segar yang dipetik langsung dari kebun. Pecel dengan bumbu yang tidak membuat perutnya diare (dia agak alergi bumbu kacang sebenarnya). Ayam brahma yang dagingnya juicy meski dimasak dengan bumbu merah. Tangan kanannya masih ingat bagaimana tekstur kulit mama temannya ketika terakhir dia bersalaman dengan mendiang.
Dia benar-benar sedih, tapi tidak banyak yang bisa dia lakukan. Konon katanya kalau kita menangis akan mempersulit mendiang di alam kubur. Meski sudah melewati fase kehilangan berkali-kali dia masih belum terbiasa, dan kadang bingung harus apa. Beberapa hal yang bisa dia lakukan hanya mendoakan dan menemani temannya selama beberapa jam.
Kali ini dia masih belum terbiasa dengan kedukaan, dan mungkin selamanya tidak akan terbiasa. Namun, dia sudah sedikit bisa berpikir harus apa dan tidak mengunci diri di kamarnya lagi.
pohon jeruk di kebun yang menjadi salah satu saksi kebaikan dan pertemuan terakhirnya dengan mendiang