Ayah, Ibu, aku percaya bahwa setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk putra putrinya. Ingin memastikan kehidupanku setelah ini baik-baik saja. Tetapi, cara Ayah dan Ibu menyampaikan seringkali membuatku takut. Raut wajah yang tiba-tiba berubah, terkadang disertai teriakan dan kemarahan, begitu terlihat tidak nyaman untuk kutatap.
Hal yang mungkin Ayah Ibu tiru dari orang tua terdahulu. Dari trauma masa lalu Ayah dan Ibu ketika memiliki keputusan sendiri, tetapi tidak pernah diizinkan. Ketika Ayah Ibu memiliki kebahagiaan sendiri, tetapi selalu dipatahkan. Ketika Ayah Ibu tidak memiliki kendali atas apa yang menurut ayah dan ibu berharga.
Percayakah Ayah, Ibu, jika aku perlu waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan apa yang sebenarnya aku sukai. Mungkin Ayah Ibu juga pernah mengalaminya. Menyakitkan bukan, dipatahkan tanpa pernah diberi pengertian?
Mungkin apa-apa yang sudah aku lakukan memang terlalu dangkal pertimbangan, tetapi aku akan mengakuinya jika aku memang salah. Aku yakin setiap orang termasuk Ayah dan Ibu, pasti lebih senang jika diingatkan dengan cara yang lebih lembut, dengan perkataan yang tidak melukai.
Ayah, Ibu, bagaimana dulu rasanya dibanding-bandingkan? Dengan kehebatan saudara-saudaramu, dengan prestasi-prestasi, dan pencapaian orang lain? Aku yakin Ayah Ibu juga sama sepertiku, tidak suka dibanding-bandingkan. Aku yakin Ayah Ibu punya keunikan dan kelebihannya sendiri.
Ayah, Ibu, aku tidak ingin meneruskan kemarahan ini. Sebab kemarahan itu ditiru, kemarahan itu dicontoh. Bagaimana jika sampai ketika aku menjadi orang tua nanti, aku tidak pernah menyadari bahwa sikapku salah. Hanya karena aku meniru tempramen yang ayah ibu tunjukan ketika mendidikku?
Ayah, Ibu, aku tidak ingin jika sikapku yang tidak mampu mengendalikan emosi justru sedang menciptakan kenangan tidak menyenangkan di masa depan. Bagaimana jika sikapku menjelma menjadi suatu keraguan, menjadi suatu ketakutan, menjadi suatu kemarahan yang lebih besar?
Ayah, Ibu, setiap orang berhak menemukan kegagalannya sendiri bukan? Berhak bahagia dengan caranya sendiri. Berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Setiap anak tidak dilahirkan untuk memperbaiki kegagalan sebelumnya. Tidak dilahirkan untuk memenuhi ambisi-ambisi yang tidak pernah Ayah dan Ibu capai.
Mereka hanya ingin menjadi dirinya sendiri, tanpa mengurangi baktinya sedikitpun. Mereka hanya ingin mengenang suatu masa bersamamu, bercengkrama hangat, berdiskusi, tanpa ada rasa takut dan keraguan sedikitpun untuk menyampaikan pendapatnya.
Ketahuilah Ayah, Ibu, bahwa kebohongan-kebohongan besar, berawal dari kejujuran-kejujuran kecil yang tidak pernah diberi tempat.
—ibnufir




















