Rekaman Harian #1: Harga Mahal Sebuah Ketiduran
Sekarang 28 Oktober 2015, malam hari pukul 8.25 aku sedang duduk di saung deket kamarku. Jalanan cukup ramai oleh kendaraan yang melaju dengan lancar, terlihat dari saung ini. Ditemani seperempat gelas jus mangga dan cireng isi, aku berencana belajar buat besok UTS. Namun apa daya, slide aja belum donlot, haha. Sambil menunggu proses pendonlotan, merekam kejadian tadi mungkin bisa menghibur. Oh iya, besok aku ujian Teknik Kontrol Lingkungan yang menurut teman-teman di departemen ku, materinya abstrak, kita disuruh bikin coding, berkutat dengan rangkaian listrik, dsb. Mungkin itu pengalaman pertama buat beberapa anak. Ya sudahlah, ganti topik, itu terlalu berat, bukan wilayahnya disini. Doakan saja dapat yang terbaik, aamiin.
Tadi siang merupakan siang yang cukup singkat bagiku, tak begitu terasa kejadian yang aku alami. Tau kenapa? Karena aku ketiduran, haha. 3 jam lebih aku ketiduran, dari jam 1 sampai jam 4. Kalau dipikir-pikir, 3 jam yang aku pakai untuk tidur, yang bisa dibilang “ga produktif”, sebenarmya bisa dipakai banyak hal, yuk kita list.
Kalau dibuat belajar mungkin udah dapat 2 sampai 3 bab mata kuliah, sayang banget kan.
Kalau dibuat nonton film bisa nonton 1 sampai 2 film, cukuplah untuk menghibur diri.
Kalau dibuat olah raga, sudah berapa banyak tetes keringat yang aku keluarin, dan itu menyehatkan.
Kalau dibuat jalan-jalan, mungkin aku sudah sampai Botani Square, keliling disana, dan pulang lagi.
Kalau dibuat mikirin dia, itu sih masih kurang, *eh keceplosan, haha
Dan masih banyak “kalau dibuat” yang lain.
Menyesal? Iya pastinya menyesal. Harga yang cukup malah untuk sebuah ketiduran selama 3 jam. Mungkin diantara kalian ada yang sama sepertiku,atau mungkin lebih parah, haha. Coba perbaiki diri aja mungkin ya. Tidur siang boleh, asal ga “over dosis”. Pasang alarm dan coba minta tolong teman buat bangunin, itu paling tips nya, semoga tidurmu lebih bermanfaat.
Bogor (masih di saung), dini hari pukul 1, 29 Oktober 2015