kilat the manectric,
the great grandfather
seen from United Kingdom
seen from El Salvador

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Kyrgyzstan
seen from Finland
seen from Japan

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from Russia
seen from France
seen from Netherlands
seen from Yemen

seen from Malaysia
kilat the manectric,
the great grandfather
Black and Death metal posters 2022 and 2023
upcoming gig w/ Kilat and Miserable Creature in Naarm (Melbourne) 18/2/23. tix selling fast: https://evelynhotel.com.au/events/kilat
sesebel itu tapi gimana dia juga ngga tau kalo itu ngga boleh :( kalau diomelin juga ngga akan ngerti. meng juga ngga mau makan dia.
padahal ketemu dia juga ngga tapi aku menuduh. hiks. habisnya saha deui geura.
Mengapa Bukan Kopi?
Fiksi kilat.
"Mengapa bukan kopi?" Kalimat protes itu melayang selang beberapa detik kusuguhkan segelas teh dengan perasan lemon dan madu di atas meja.
Bukan kebiasaan meminumnya, dalih yang selalu menjadi andalan setiap menghadapi minuman selain kopi.
Kupikir, sesekali mencoba hal baru itu perlu, minuman misalnya.
Tidak ada salahnya pula meneguk cairan menghangatkan badan itu tanpa perlu menimbulkan insomnia dadakan, lambung perih, atau adrenalin yang bekerja melebihi batas normal. Bukankah itu penyebab terlalu banyak dosis meminum kafein? Setidaknya artikel kesehatan yang kubaca bilang begitu.
"Itu hanya alasanmu saja. Aku tahu teh dengan perasan lemon adalah kesukaanmu. Dan tentunya, sebab kau lupa tidak membeli bubuk kopi favoritku."
Aku menyetujui pendapatnya. Sama sekali tidak membantah.
"Jadi, adakah alasan lain untuk tidak meminum kopi sesekali selain itu?"
Sedikit senyuman sebelum menanggapi pertanyaannya. Kataku, "kau tidak perlu memaksakan diri lagi. Kopi tidak cocok untuk badanmu, aku tahu keadaan yang membuatmu meminumnya. Lagian, aku tidak memaksamu menjadi tokoh utama dalam karangan picisan yang sedang kutulis," tawaku menjeda kalimat. "Maksudku, menjadi dirimu saja, itu sudah cukup. Karakter novelku ... dia saja yang menyedihkan lantas menenggelamkan diri dengan puluhan cangkir kopi. Sedangkan, kau ... aku lebih khawatir dengan lambungmu yang bermasalah kemudian berujung gawat darurat jika setiap hari harus lembur dengan kopi hitam favoritmu dan tumpukan deadlinemu itu."
Selanjutnya yang terjadi adalah senyum geli yang merekah, dengan sudut bibir yang melengkung sama dan mata segaris yang menyipit yang tak berbeda. Tentu saja. Dialog ini terjadi di depan meja rias dengan satu figur memantulkan bayangannya. Atau, perlukah meralatnya menjadi monolog?
a slashing bolt sticker graffiti street art found 2017 at Pike Place Market, Seattle, Washington, that features a massive red lightning bolt and these decipherable alphanumerics: http:// [ americanifesto / 場黑麥 / jpr / urbanartopia / whorphan ]
Inktober day 3: villain While not the main bad guy of the story Kilat is a Raging Douchebag™ and is more a personal antagonist than plot-wise
also i realize his necklace looks like an upside down cross it’s just supposed to be a straight line i hecked up