“Hai Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apa kabar, ya, dia?”
Perahu Kertas (2012) dir. Hanung Bramantyo

seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from China
seen from China
seen from Morocco
seen from United States

seen from Singapore

seen from Belgium
seen from China

seen from Canada

seen from Singapore

seen from Australia
seen from France
seen from United States
seen from Australia

seen from Singapore
seen from Russia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
“Hai Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apa kabar, ya, dia?”
Perahu Kertas (2012) dir. Hanung Bramantyo
Luhde
Aku masih sangat ingat, dulu ada dua kubu pembaca novel Perahu Kertas.
Kubu yang percaya bahwa Keenan memang seharusnya bersama Kugy. Dan kubu yang diam-diam merasa Luhde lebih pantas dipilih. Perdebatan itu selalu muncul di dunia maya, setiap kali novel itu dibicarakan.
“Kugy itu soulmatenya Keenan.”
“Tapi Luhde jauh lebih dewasa.”
“Keenan sama Kugy itu takdir.”
“Iya, tapi Luhde yang benar-benar menenangkan dia.”
Dulu aku termasuk kubu yang pertama.
Aku pertama kali membaca novel Perahu Kertas saat masih kuliah. Novel itu bukan punyaku, tapi pinjaman dari temanku. Aku membacanya pelan-pelan di kamar kos. Kadang sambil rebahan. Kadang sambil mendengarkan lagu dari ponsel. Ada beberapa bagian yang membuatku berhenti cukup lama sebelum lanjut membaca.
Beberapa tahun setelahnya, aku menonton adaptasi filmnya dari file bajakan yang kusimpan di laptop. Resolusinya bahkan tidak terlalu bagus. Kadang suaranya sedikit tidak sinkron dengan gambarnya. Tapi aku tetap menontonnya sampai selesai.
Saat itu, menurutku Keenan memang seharusnya memilih Kugy. Orang yang membuat hari-hari terasa lebih berisik, lebih tidak terduga. Cinta memang seharusnya seperti itu. Dan ternyata, setelah hidup berjalan cukup jauh, pandanganku tentang cinta berubah pelan-pelan.
Saat kemarin membaca ulang novel perahu kertas, aku langsung teringat sosok Luhde.
Ada sesuatu dari cara Luhde hadir yang terasa mirip dengan istriku.
Istriku bukan perempuan yang pandai membuat hidup terasa dramatis.
Ia tidak seunik Kugy. Tidak penuh kejutan. Tidak punya cara bicara yang membuat orang terus penasaran.
Tapi ia seperti rumah. Tenang, hangat, dan selalu ada.
Istriku juga bukan perempuan yang membuat dunia terasa berputar cepat, tapi perempuan yang membuat seseorang ingin berhenti berlari.
Aku tentu pernah bertanya pada diriku sendiri. Kalau aku ada di posisi Keenan, siapa yang akan kupilih?
Dulu jawabanku pasti Kugy.
Tapi sekarang berbeda. Aku akan memilih Luhde.
Bukan karena Kugy buruk. Bukan juga karena cinta Keenan dan Kugy tidak nyata. Aku hanya merasa, seiring bertambahnya usia, hidupku tidak selalu membutuhkan seseorang yang membuat jantung berdebar paling kencang. Aku hanya membutuhkan seseorang yang tetap tinggal saat versi terbaikku sudah habis.
Dan istriku melakukan itu. Ia selalu ada di hari-hari paling biasa dalam hidupku. Saat aku pulang kerja dengan wajah lelah. Saat isi rekening sedang tidak baik-baik saja. Saat aku lebih banyak diam daripada bercerita.
Ia tidak selalu punya kata-kata hebat. Kadang bahkan yang ia tanyakan hanya:
"Udah makan belum?"
Kalimat sederhana yang mungkin tidak akan pernah bisa menyaingi percakapan-percakapan indah dalam novel.
Saat masih muda, aku sempat jatuh cinta pada orang seperti Kugy. Orang yang membuat dunia terasa lebih hidup dan Lebih berwarna. Tapi semakin dewasa, aku mulai mengerti kenapa banyak orang akhirnya memilih pulang kepada seseorang seperti Luhde.
Karena hidup ternyata panjang. Menjalani hidup panjang bersama seseorang jauh berbeda dengan sekadar merasakan jatuh cinta.
Lucunya, dulu aku sempat merasa ending Perahu Kertas sedikit mengecewakan. Aku ingin Keenan memilih ketenangan. Aku ingin ia berhenti mengejar sesuatu yang rumit. Tapi sekarang aku sadar mungkin memang ada orang-orang yang ditakdirkan mengejar Kugy. Ada juga orang-orang lain yang memilih menjaga Luhde. Tidak ada yang salah. Karena setiap orang membawa kebutuhan hidup yang berbeda.
Tentu saja aku bukan Keenan. Hidupku juga tidak seindah novel. Tapi kalau boleh jujur, aku bersyukur. Karena dalam hidup yang biasa-biasa ini, aku ternyata tidak sedang mengejar Kugy. Aku sedang hidup bersama seseorang yang selama ini diam-diam menjadi Luhde untukku.
Dulu aku sering mengira cinta terbaik adalah cinta yang paling menggetarkan.
Sekarang, bagiku cinta terbaik adalah yang membuat seseorang bertahan, pulang, dan tetap tinggal.
Iya, memang tidak selalu membuat dunia terasa luar biasa, tapi membuat hidup terasa cukup. Dan semakin dewasa, aku mulai sadar: rasa cukup mungkin memang salah satu bentuk cinta yang paling tenang.
Berada di bawah langitMu yang satu itu, entah kenapa aku merasa haru. Ya, hari ini aku singgah menjenguk rindu. Rupanya dia masih sudi menyapaku meski ditemani malu. Tak apa. Ragu juga tadi masih menyertaiku. Rupanya ragu dan malu masih setia membersamai kita. Selalu seperti dahulu.
Kugy, dari kerajaan matahari. Mau tak mau Kugy harus kembali dari kunjungan ke kastil negeri dongengnya. Pulang lagi ke dunia nyata, bukan dunia fairytale - nya. "K" untuk "K"
Cinta itu Dipilih bukan Memilih
Perahu Kertas
Hai nus, aku ketemu lagi dengannya. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa ^_^
-Catatan kecil 27 Maret 2015-
Me vs Kugy-Dalia-Rana
Antara Kugy, Dalia, dan Rana.
Antara Perahu Kertas, Semestinya CInta, dan Supernova : Ksatria, Putri, Bintang Jatuh.
Jika ketiganya nyata dan melebur, itu adalah aku dengan cerita cinta yang sama namun belum memiliki ending.
Kugy - Dia jatuh cinta kepada Keenan, begitupun sebaliknya. Karena ketidakjujuran akan perasaan mereka masing-maisng, keduanya memilih untuk menjalani hidup sendiri-sendiri. Kugy dan Keenan sempat memiliki kehidupan masing-masing. Kugy dengan Remi, sementara Keenan bersama Luhde. Beberapa kali mereka bertemu kembali tetapi tidak kembali bersama. Hingga pada akhirnya Remi dan Luhde menyadari bahwa kebahagiaan Kugy dan Keenan yang sesungguhnya tidak bersama dengan mereka.
Dalia - Seorang gadis muslim taat yang belum pernah merasakan jatuh cinta hingga akhirnya hadir seorang mualaf bernama Liem di dalam hatinya. Percintaan yang terganjal adat dan remeh temehnya adalah perjuangan mereka untuk bisa bersama. Beberapa kali ia dijodohkan. Dan pada Darwis, orang yang dijodohkan dengannya dan memiliki rasa kepada Dalia, ia berani untuk jujur bahwa di hatinya hanya ada Liem. Dan Darwis dengan berbesar hati bersedia melepas Dalia untuk meraih kebahagiannya sendiri.
Rana - Seorang istri dari pria bereputasi baik, mapan segalanya, dari keluarga terpandang, yang di usia pernikahan ketiganya tiba-tiba bertemu dengan seorang laki-laki bernama Ferre yang bisa membuatnya merasa menjadi dirinya sendiri, hingga akhirnya mereka terlibat cinta terlarang. Cinta terlarang yang membuat mereka tidak bisa memutuskan bagaimana akhir dari cinta mereka. Cinta terlarang yang pada akhirnya hanya akan menyakiti hati masing-masing. Di saat suami Rana menyadari bahwa kebahagiaan istrinya bukan berada di sampingnya, dan ia sudah rela melepaskan Rana untuk bersama Ferre, justru Rana memilih untuk kembali ke dalam pelukan suaminya.
Membaca 3 cerita itu aku seperti bercermin. Apa yang 3 tokoh itu alami juga aku alami. Bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalu, di saat aku akan dan sudah menikah, tetapi juga belum ditakdirkan untuk kembali bersama. Memilih mengubur keinginan untuk menjalani sisa hidup bersama sampai dengan waktu yang tidak ditentukan. Memilih untuk tidak memperjuangkan kebahagiaan demi tidak menyakiti banyak orang. Atau mungkin memilih ini adalah ending dari cerita cinta antara aku dan dia?
Tapi aku tidak merasa bahwa memilih itu adalah sebuah akhir. Karena aku masih punya harapan yang aku gantungkan di depan mataku. Harapan bahwa suatu saat Tuhan akan mempertemukan kami kembali dan mempersatukan kami selamanya sampai maut memisahkan. Tapi bisa juga memilih ini menjadi akhir dari perjalanan cintaku dan dia. Tinggal bagaimana nanti rencana Tuhan untuk kami.
Selama aku masih bernafas, harapan untuk dapat kembali bersamanya akan tetap ada.
Aku ingin seperti Dalia yang berani jujur demi memperjuangkan cinta dan kebahagiaannya bersama Liem. Coz I believe that everyone deserves to be happy..
"Aku takut bicara tentang hati, maka aku tuliskan saja, lalu kusimpan dan mungkin kukirimkan ke….entah kemana"
- Kugy (Perahu Kertas)
Dear neptunus,
aku mncintainya.
didepannya aku menjadi diriku sendiri.
sepert airmu yang selalu membawa semua pesanku,
diapun begitu.
membuatku hanyut oleh sorot matanya.
membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya.
sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya.
bahkan untuk sekedar bilang rindu, atau butuh.
banyak yang nggak ngerti, lalu terluka dan saling menyalahkan.
karena itu aku takut bicara tentang hati,
maka aku tuliskan saja, lalu kusimpan.
dan mungkin kukirimkan ke..
ke entah kemana.. =)
-tulisan agen kugy dalam perahu kertas