If we’re never meant to be, would you mind to just hold me while we’re watching the hourglass? Just stay next to me until the very last sand falls.
Nurulita R. Tyas.
seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from Italy
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from France
seen from United States

seen from Norway

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China
If we’re never meant to be, would you mind to just hold me while we’re watching the hourglass? Just stay next to me until the very last sand falls.
Nurulita R. Tyas.
Semesta sedang bercanda Mempertemukan kamu dan aku yang jelas berbeda Lalu ia memberi rasa Dan berlari dengan dalih sudah seharusnya tidak bersama
Aku ingat kamu menghembuskan asap rokokmu untuk yang kelima kali di batang pertama ini Di ketinggian gedung 63 lantai Di antara semua lampu yang tak pernah mati
Salahku yang berjalan di tepian rasa Bertingkah seolah semua bisa dibagi rata Dan kini malah terjebak sendiri dalam pusara Kamu hanya tertawa
Kamu mematikan rokok yang masih setengah Berjalan mendekat ke arahku Berbisik perlahan dan membuatku terperangah Lalu pergi berjalan ke arah pintu
“For a moment I wished you were all mine”
dia sudah tertatih mengejarmu
mencintaimu dengan penuh luka
dan kamu tetap berlalu
seakan semua hanya selewat belaka
dia sudah menunggumu
dengan penuh peluh dan air mata
tetap saja kamu mengedikkan bahu
menganggapnya seakan tak cinta
aku menyesap cangkir kopi keduaku
melihatmu masih berani melempar tawa ke arahku
kuanggukkan kepala, menjawab ajakan barumu
sayang, kamu percaya Tuhan?
doanya dijawab melaluiku
jadi beritahu secepatnya,
di titik mana aku harus berlalu
despite all the other things, do not ever forget to be good
even to strangers
you have no idea how powerful a smile or a hello might be.
I had no idea how powerful those could be.
until I met you.
a simple hello from you, suddenly melt my wall.
and one sincere smile from you, letting me know that I’m going to be just fine.
if true love means letting you go,
then I guess I already find it in you.
at the point where all you wished is meeting a person, run into him, hugged him that tight, and cry. just cry. no question needs to be answered. no thing needs to be explained.
I know most of all have walked through this things.
But at this very moment, this is the thing I need.
indifeso
Lu tau apa yang nyiksa gue detik ini?
Ngeliat cewek depan gue, sahabat merangkap kecengan seumur idup gue, cinta pertama gue (meski jelas bukan calon pacar pertama gue), my love at the first sight woman, dan ah kan jadi picisan gini gue. Yah, pokoknya ngeliat ni bocah satu, sebegitu tidak berdayanya sama keadaan sekarang.
Masalah dia berada jauh di atas pemahaman gue. Rasa empati gue yang memang tidak seberapa, kecuali untuk dia itu pun, nggak bisa ngejangkau sedikitpun buat gue ngebayangin perasaan dia kaya apa sekarang.
Udah sejam lebih gue perhatiin dia bengong di depan komputer mixing. Tangannya di atas mouse, bergerak dan beberapa kali terdengar bunyi klik darisana. Tapi hanya itu. Tidak ada kemajuan berarti yang biasanya sudah dia capai dalam waktu kurang dari sejam. Pandangannya kosong menatap layar. Sudah beberapa hari ini mata coklat hazelnutnya tidak memancarkan semangat dan mimpi yang selalu ada disana, menanti untuk diwujudkan. Sudah terlalu lama ia terlihat kuat, hingga kini ia rubuh dengan gemilang. Sudah terlalu sering ia memaksa dirinya kuat untuk orang-orang di sekitarnya, hingga kini ia hancur dalam sunyinya sendiri.
Dan gue? Dengan bodohnya malah diam saja di balik keyboard dan memandangnya selama satu jam lebih ini. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Menebak-nebak apa yang harus kulakukan. Si cinta gue yang kayanya akan selalu jadi unfinished business gue ini, sudah terlalu lama berdiri tak gentar dan menghadapi semuanya dengan rasional. Mengedepankan logika di atas rasanya. Melawan kodratnya sebagai wanita. Dan yang bisa gue tebak adalah kini, semua emosi yang tertahan itu menyeruak tanpa bisa dibendung lagi. Membuatnya lelah luar biasa. Tetap, ia memilih diam daripada meledakkan semuanya. Lebih bahaya sebenarnya, karena ia sedang membunuh dirinya perlahan.
Dan gue? Lagi-lagi bukannya bergerak untuk membantu, malah milih buat bengong kaya gini aja. Duh, lu kan cowok, Put. Do something. Kemana semua jurus hebat lu, your Putra 101 saat harus ngadepin berbagai cewek dengan berbagai kepribadian itu. Udah terlalu banyak orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri sampe dia begini, Put. Udah terlalu banyak orang yang memilih untuk memikirkan dirinya sendiri dan betapa kacaunya hidup mereka, betapa takutnya mereka akan sesuatu, dan memilih menyampingkan perasaannya.
Nah, ini dia masalahnya. Saat lu akhirnya berhadapan dengan orang yang bener-bener lu sayang, lu akan tau rasanya lemah. Merasa tidak berdaya saat melihatnya seperti sekarang. Merasa takut bantuanmu tidak akan cukup membantu. Dan semua ketakutan irasional lu malah membuatnya semakin jauh dalam perihnya. Semua ketakutan irasional yang gue rasain sekarang malah membuat jarak antara gue dan dia semakin nyata. Menyeretnya lebih jauh ke dalam pusara sendunya.
AH, persetan kalo habis in dia nggak ngomong sama gue lagi.
Gue memilih bangkit lalu mendekatinya.
“Syan,” akhirnya keluar kata pertama setelah puluhan menit kami habiskan dalam diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ia menoleh. Matanya mulai merah. Nggak sanggup gue kalo harus liat dia nangis dalam diam lagi. Udah terlalu sering kayanya.
“Kenapa, Put?” Suara membalas dengan tegas meski terasa ada getar disana.
Kini aku yang bingung mau membalasanya dengan apa. Aku melirik jam yang tergantung dengan gagahnya di dinding studio, waktu menunjukkan pukul setengah 8 lebih 10 menit.
“Mau makan?” Iya, Put. Bagus. Setelah semua perenungan dan pengalaman lu ngadepin banyak cewek, sekarang liat ada cewek sesedih ini di depan lu, lu malah ngajak dia makan.
Arsyani mengangguk. Fyuuuuhhhh....
Ia mendorong kursinya ke belakang, menurunkan kakinya dari kursi, lalu mengambil jaket yang digantung di sandaran kursi yang sudah lama ia duduki itu.
Entah kekuatan darimana, entah kegilaan macam apa yang merasuki gue, entah kelelahan akan semua rasa tidak berdaya gue yang membuat badan gue tiba-tiba bergerak ke depan, meraih tubuh Arsyani, memutarnya hingga menghadapku, lalu membungkuk dan memelukya erat.
“Are you okay?”
Disana. Tiga kata yang menjadi kunci bagi Arsyani untuk menyerah. Bagai memasukkan password untuk dokumen rahasia yang kini terbuka lebar, tanpa banyak kata Arsyani menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan gemetar. Tangisnya tak tertahan. Sekali ini ia menangis sambil membalas pelukanku erat.
Dan sekali ini, tanpa ia perlu tahu, gue menggerakkan jempol dan telunjuk kanan gue untuk menghapus air mata yang ikut mengalir.
Jkt, 18.05.16
Dear Kak,
Seiring sesapan kopi dari merk franchise superb terkenal yang ternyata rasanya aneh ini, saya hanya ingin minta maaf di awal karena tulisan ini hanya akan berisi racauan tak karuan. Seperti rasa yang sedang saya alami saat ini. Seaneh rasa kopi dengan rum non alkohol namun tanpa takaran yang tepat. Di ambang batas antara mau memberi rasa tapi tidak berani mengambil resiko untuk dicap berdosa.
Apa kabar, kak? Aksi kemarin terlalu keren. Terlalu hebat hingga saya terlena. Berpikir hati saya sudah mulai kembali kuat untuk menghadapi apa yang ada di depan. Tapi hanya Tuhan yang sungguh memiliki hati manusia, kan? Hanya Tuhan yang bisa membolak-balik hati dalam hitungan milidetik. Tuhan Maha Baik, masih mau mengingatkan saya untuk tidak terlena dan berpikir bahwa kita, selalu siap lahir batin menghadapi apa pun yang akan hidup berikan. Tuhan Maha Mengerti, harus diapakan segala lemon yang hidup lemparkan pada kita, hanya saja saya yang belum bisa menemukan resep yang pas untuk menggunakan lemon sebanyak itu. Atau mungkin harusnya saya mulai mencari banyak resep agar lemon yang terlalu banyak ini bisa diolah menjadi banyak makanan yang bisa memberi makan banyak orang? Toh pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana kabarnya sekarang, kak? Hidup sedang superb ya, dalam semua idiom superb itu dapat diletakkan. Saya hanya mau bilang bahwa saya baru meresapi lirik Tarintih. Benar bahwa itu adalah hubungan antara Ibu dan Anak, namun selama ini hanya sampai bagian surga saja yang bisa maknai. Sampai hidup akhirnya memberi saya kesempatan untuk memaknai liriknya, versi saya sendiri. Semoga bagian “Ingatmu kau merayu, ingatnya kau berlalu”nya Sendu Melagu tidak harus saya resapi sampai begini ya, Kak. Cukuplah di-PHP in, mah *curcol.
Astaga, saya tidak tahu harus mulai darimana. Saya sedang ada di kondisi lelah luar biasa. Semua orang sedang sibuk bercerita dan mengeluarkan keluh kesahnya pada saya. Bukannya saya tidak suka, saya sebenarnya sudah terbiasa seperti itu dari dulu. Malah sebenarnya saya senang bisa mendapat kepercayaan dari orang lain. Yang sedang menjadi masalah internal dari saya sendiri adalah saat ini saya sedang butuh ditanya. Butuh merasa diperhatikan dan dipedulikan, setidaknya ada yang bertanya bagaimana perasaan saya. Meski tentu pertanyaan semacam itu akan berakhir dengan kebaperan tingkat tertinggi yang bisa diawali dengan segaris aliran air mata.
Saya lelah. Terlihat terlalu kuat ternyata tidak sebaik itu ya, Kak. Semua menjadi terlalu sibuk untuk menceritakan perasaannya, menguras habis semua kesedihan dan kemarahan pada saya. Atau malah menembakkan segala amarah yang mereka rasa (yang sesungguhnya untuk orang lain) kepada saya. Mereka terlalu sibuk untuk merasa tidak diperhatikan dan mengeluarkannya pada saya tanpa pernah bertanya apa saya baik-baik saja. Terlalu sibuk menganggap saya sebagai tong sampah emosinya dan berpikir bahwa ini tanggung jawab saya untuk meluruskan semuanya. Meluruskan apa yang bahkan tidak semuanya saya ketahui. Percayalah, Kak, bahkan lawyer hebat sekalipun tidak akan mampu membantu kliennya secara maksimal jika ia tak mengerti duduk permasalahannya.
Bagi saya saat ini adalah puncak masalahnya. Mereka yang berpikir saya tidak perlu tahu, tapi berharap saya bisa membantu. Di titik ini saya jatuh, Kak. Di titik ini saya menyerah dalam kesunyian. Mengakui segala ketidakberdayaan saya pada Tuhan, dan sungguh hanya butuh satu orang untuk sekadar bertanya ada apa dan saya runtuh.
Jangan bertanya tentang nya. Ia sedang super sibuk dan saya pun sedang lelah untuk terus mulai terlebih dahulu mengabari sesuatu. Saya dengan penuh kesadaran bahwa ini bukanlah tindakan yang bijak, sedang enggan untuk menjadi kuat dan menjadi penengah. Saya hanya ingin sekali runtuh di hadapan orang yang peduli. *kemudian lari ke kamar mandi kantor dan nangis*
Ah, bicara apa saya ini, hanya buang-buang waktu. Maaf ya, Kak. Kalau dibaca dari atas sebenarnya semuanya kontradiktif, sudah tau saya sedang butuh orang yang peduli, bukannya bicara pada salah satu dari mereka, malah nulis beginian ke orang yang bahkan gatau saya siapa. Woman period ini juga tidak membantu (alasan pamungkas wanita). Yah, anggap saja semua kekalutan ini mengembalikan saya kembali pada khayalan bicara melalui tulisan seperti ini.
Sebelum saya meracau semakin tidak karuan dan malah bicara panjang lebar nan detil tentang masalahnya, mari kita sudahi disini saja. Semoga sukses selalu, Kak. Semoga akan ada gigs yang secepatnya bisa saya datangi. Demi kembali bisa mengunci diri saya dalam satu momen dan merasa hidup, merasa sedang bersama orang-orang yang peduli, setidaknya pada satu hal yang sama.
Warm regards (and a lot of apologize for doing thing like this again),
Nurulita R. Tyas
P.S. Dear Anon ask.fm yang sangat baik hati dan rajin ngirim link tumblr saya ke ask.fm mereka, coba yang bagian ini nggak usah dikirim yaa.. Thank you!
Tuhan, di sujud terakhir di malam ini, beri hamba waktu untuk merasa tidak berdaya atas segala kuasa-Mu
Nurulita R. Tyas