Buku yang baru-baru ini saya baca berjudul "Luhut" karya Noorca M. Massardi, buku ini tentu saja sesuai dengan judulnya, merupakan biografi dari Bapak Luhut Binsar Pandjaitan, yang sengaja dibuat sebagai hadiah untuk ulang tahun beliau yang ke-75 tahun, yang sengaja disupervisi langsung oleh sang adik, Ibu Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir. Sebagai buku biografi, buku ini menceritakan perjalanan pak Luhut dari semenjak masa kecilnya di Toba Samosir, Sumatera Utara, bertumbuh besar, hingga perantauannya ke Bandung, menjadi seorang tentara, hingga berpolitik dan menjadi seorang pengusaha. Sebagai seorang politisi dan bagian dari pemerintahan saat ini, secara khusus sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, tentunya buku ini tidak terpisahkan dari berbagai sepak terjangnya selama menjadi bagian dari pemerintahan, mungkin ada beberapa dari masyarakat yang sering kali dengan nada sinis, merasa, kenapa seorang menteri Marves bisa menjadi sedemikian merajalela, seakan-akan beliau ini mengurusi berbagai macam hal, dari penanganan pandemi, urusan pencarian vaksin, deal-deal investasi dan lain sebagainya, dan banyak pula yang berkata "(Pak) Luhut Lagi, (Pak) Luhut Lagi" dan lain sebagainya, tapi melalui buku ini, kita justru diajak untuk melihat sisi lain dari beliau, sisi seorang manusia biasa, yang memiliki karakter seorang prajurit yang memiliki tujuan untuk selalu berhasil dalam setiap tugas atau amanah yang diberikan, untuk jelasnya memang lebih baik langsung membaca dari buku ini, tapi melalui ulasan ini, saya ingin mencoba menggaris bawahi beberapa hal yang menurut saya pribadi menarik untuk diambil pelajarannya.
Sebagai seseorang yang terlahir di keluarga Batak, terutama sebagai seorang anak laki-laki sulung, Pak Luhut sedari kecilnya sudah memegang amanat besar dari orang tua-nya, untuk menjaga dan mengayomi adik-adiknya yang sebagian besar merupakan perempuan, selain itu tuntutan agar senantiasa menjadi yang terbaik diberikan oleh orang tua-nya, sehingga ketika ayah dari pak Luhut menginginkan anaknya menjadi seorang Insinyur di ITB dan pak Luhut menolaknya dan meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer, disanalah ada konflik antara orang tua dan anak, akan tetapi, pak Luhut tetap memberikan yang terbaik, semasa pendidikannya, sehingga ia bisa menjadi seorang lulusan terbaik dari Akademi Militer, jadi sekalipun beliau tidak mengikuti kemauan dari orang tua-nya, toh ia tetap bisa memberikan yang terbaik dalam pendidikannya di Akmil, hingga saat ini Ia demikian sukses dalam apa yang dikerjakan olehnya.
Membaca kisah hidup pak Luhut, saya juga mendapatkan kesan bahwa Ia adalah orang yang senantiasa mendapatkan misi khusus dimanapun Ia berada, baik selama di dunia militer ataupun ketika ia saat ini menjadi seorang menteri, dari apa yang saya baca, banyak orang merasa bisa mempercaya beliau bahwa setiap tugas akan terlaksana dengan baik, sepertinya hal ini merupakan buah dari apa yang telah ditanamnya sejak lama, kedisiplinan dalam menjalankan tugas dan tidak ada kompromi untuk kualitas, sehingga dari urusan Investasi, hingga penanganan pandemi, dipercayakan semuanya kepada dirinya, dan mungkin karena memiliki latar belakang militer, beliau memiliki ketegasan untuk mengatur atau mengoordinasi banyak pihak, hal yang sangat dibutuhkan di Indonesia ini karena memang banyak yang tidak bergerak dengan baik kalau pemimpinnya kurang tegas.
Siapa yang menyangka, bahwa waktu kecil pak Luhut ini merupakan seorang anak yang badung, tidak bisa diam dan sering kali berantem dengan anak-anak sebayanya, banyak dari kita hanya mengetahui sisi dari pak Luhut yang suksesnya dan baiknya saja, tapi dari sini saya melihat, kalau anak bandel pun bisa diarahkan untuk sesuatu yang baik, tapi dengan catatan, didikan orang tua yang tegas dan kesadaran diri dari si anak juga memegang faktor penting, tidak boleh dilepas begitu saja. Intinya setiap orang, siapapun dia, bisa berubah dan bisa menjadi sukses.
Setelah pensiun dari dunia militer dan selesai berkarir politik, pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pak Luhut sempat menjadi bagian dari pemerintahan, namun masa jabatannya cukup singkat, karena baik pak Habibie ataupun Gus Dur, memiliki masa kepemimpinan yang singkat, beliau memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, banyak yang menyangsikan ataupun memandang sebelah mata sepak terjangnya, tapi dengan kekuatan visi, dan menyadari kekuatan yang dimilikinya, baik itu koneksi, kepemimpinan dan kemampuan mencari talenta, ia akhirnya bisa sukses mengembangkan usaha-usahanya sehingga banyak perusahaan dilahirkan dari-nya, dari segala sesuatunya mudah melihat bahwa karena ia memiliki koneksi ke militer dan pemerintah, sehingga ia bisa demikian sukses, tapi kembali, tanpa adanya track record baik dan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas, sebaik apapun modal yang dimiliki, pasti tidak banyak orang yang percaya kepada dirinya.
Dari buku ini, ada banyak hal lain lagi yang bisa pembaca dapatkan, termasuk juga sisi lain dari Pak Luhut yang ternyata seorang Family Man, ditengah berbagai macam kesibukannya, ia masih menyempatkan waktu untuk bersama dengan Istri anak dan bahkan adik-adiknya dan keluarga besarnya, dan dari buku ini kita diajak juga untuk melihat dan belajar, bagaimana seorang dari keluarga biasa saja, dengan ketekunan dan semangat juangnya bisa menjadi sosok yang luar biasa dan sukses seperti beliau.
Buku ini bisa didapatkan di toko buku Gramedia ataupun Ecommerce langganan, selamat membaca!