Hari pertama masuk kuliah setelah satu minggu ditempa hingar bingar ospek universitas, kami menyebutnya MOKAKU UPI. Beruntungnya aku, ada dua teman lama di pondok yang ternyata memang ditakdirkan melanjutkan kuliah satu jurusan denganku. Senang sekali karena masa-masa sulit pengenalan pertama dengan dunia kuliah itu akan bergantian dengan keseruan wara-wiri kami selanjutnya.
Hari pertama kuliah ini, tidak ada kuliah. Kami dikumpulkan dalam satu ruangan yang aku lupa kalau itu sudah ber-AC atau belum. Yang pasti hari itu adalah hari pertama kami, satu angkatan bisa saling kenal. Angkatan yang selanjutnya senang sekali dengan jalan-jalan/touring.
Singkatnya, aku yang jiwa ekstrovert nya lebih dominan ini tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan orang-orang baru. Bahkan di hari pertama itu, aku sengaja berkeliling ruangan untuk mencatat satu-satu nama teman baruku. Terlalu rajin memang. Ku jalani hari-hari berikutnya dengan tanpa beban. Oh jelas,, Hampir tiap minggu sengaja kami (aku dan teman 'geng'ku) sengaja wara-wiri ke setiap tempat yang ada di list akun "destinasi wisata Bandung". Materi kuliah? Ayolah, enam tahun di pondok benar-benar tiket emas bagiku kala itu (ingin rasanya menyombongkan diri hehe). Yang justru tanpa disadari semakin hari semakin ia menjelma menjadi bumerang, bahkan bola api, bagi diriku sendiri.
Banyak yang bilang bahwa itu adalah sebuah anugerah. Tak perlu berpikir terlalu sulit di bangku kuliah, karena semuanya sudah di lahap habis sejak di pondok dulu. Minggu-minggu pertama tidak ada masalah, dan justru karena itu aku mulai banyak dekat dengan orang-orang. Terlebih bila ada yang merasa kesulitan memahami ilmu-ilmu dasar nahwu, sharaf dan Bahasa Arab, tak jarang aku di panggil hingga ke sebrang kelas. Masalahnya adalah kian lama rasa risih itu kian hadir. Kala ada satu hal yang terlihat "tak seharusnya" muncul dari diri yang beratnya tak jua lebih dari 45 kg kala itu. Orang-orang baru itu mulai memasang "label" yang terlalu mulia bagi kami, orang-orang lulusan pesantren. Menurut mereka, segala ucapan, prilaku, bahkan pola pikir, harusnya jadi yang utama, hingga layak ditempatkan sebagai "contoh" bagi yang lain. Khususnya di jurusan yang memang kerap kali berurusan dengan serba-serbi per-akhirat-an ini.
Cobaan pertama datang saat beberapa teman baru yang ku kenal lewat grup online daftar ulang kala itu, mulai menjauh satu persatu. Aneh rasanya, namun belakangan aku tau alasan mereka, kami lulusan pondok tak bisa masuk ke zona mereka. Ntah orang-orang itu yang merasa insecure dengan kami yang lulusan pesantren, atau sebaliknya. Benar adanya, karena itu benar terjadi sesaat setelah mereka tau identitas kami yang sebenarnya. Masih ku anggap hal itu menjadi hal yang tidak cukup penting untuk dipikirkan. Karena mungkin baik mereka, ataupun kami hanya butuh waktu untuk sama-sama mengenal hingga memahami.
Cobaan kedua hadir justru dari kalangan mereka yang sesama lulusan pesantren. Bisa dibilang jurusanku itu jadi ajang saling unjuk diri dari mana masing-masing berasal. Untuk mata kuliah dan debat intelektual di kelas memang tak ada masalah, karena sesama kami bisa saling mengimbangi. Tapi justru di luar kelas. Kembali, ku ingatkan tentang pandangan mereka yang terlalu cepat menyematkan lebel "mulia" di tiap-tiap jidat kami lah yang justru kami rasa saat itu sebagai cobaan terberat.
Baiklah, mari berbicara tentang diri ini sendiri dengan segala kekurangannya. Sejak di pondok dulu, memang aku bukan termasuk orang-orang yang punya pendirian kuat dalam berpakaian. Dengan lingkungan keluarga yang juga pemahaman agamanya tidak setinggi para ajengan/kiai, aku terbiasa dan tumbuh dengan pemahaman agama seadanya, umum sekali. Terlebih, keinginan masa remaja yang selalu ingin merasa bagaimana rasanya jadi mahasiswa seperti yang ada di acara-acara televisi. Memakai baju sopan, kerudung model simple, tentunya masih menggunakan celana panjang bahan jeans (agar terlihat modis). Jujur saja, itu hal yang sangat menyemangati diri ini untuk bisa segera hadir di bangku universitas. Tapi ternyata, dengan jurusan yang ku ambil saat itu semua sulit sekali direalisasikan. Tak jarang jika ada dari kami yang menggunakan style itu ke kelas, beberapa dosen yang "fanatik" meminta dengan hormat untuk kami meninggalkan kelas. Maka mulai saat itu, aku berusaha untuk bisa beradaptasi dan menerima keputusan dan kebijakan jurusan atas norma yang memang harus bisa dipahami ini.
"Ya gapapa lah, masuk kelas doang kan. Main masih bisa pake style gitu", pikirku ringan.
Ternyata tak seringan itu kawan. Sudah ku bilang angkatan ku saat itu menjadi angkatan yang senang sekali berkumpul bersama membuat acara dan sebagainya. Maka tak jarang aku pribadi menggunakan style yang aku nyaman dengan itu. Beberapa kali memang ada dari mereka yang sedikit risih dan tunjukkan ketidaksukaan mereka. Bisa ku tebak mungkin dalam kepalanya banyak bisikan kemarahan
"KAMU TUH ANAK PONDOK PESANTREN, SEKARANG KULIAH DI JURUSAN AGAMA. HARUSNYA BERPAKAIAN SOPAN DONG. MENUTUP AURAT BERDASARKAN SYARIAH. KERUDUNG PANJANG DAN ROK/GAMIS. KAMU TUH KOQ GAK BISA JADI TELADAN SIH".
Ketidaknyamanan itu sempat ku bagi dengan beberapa teman dekat. Tapi kami sering kali menyimpulkan, toh memang ini kita apa adanya. Segini juga sopan dan menutup aurat, tapi memang jauh sekali dari ekspektasi mereka yang terlampau tinggi pada kita. Kami simpulkan, tak terlalu ambil pusing. Karena bagi kami lebih baik perubahan itu ada memang karena hati yang menginginkan, bukan perkataan atau bahkan penilaian orang lain.
Upaya menenangkan diri sendiri itu terus mengalir hingga satu waktu Tuhan berhenti menghitung. Hari itu kami bersiap untuk acara ngaliweut di salah satu rumah rekan angkatan kami. Seperti biasa kami saling tunggu di fakultas. Hari itu mungkin memang salahku mengenakan celana jeans dengan warna lebih terang dari biasanya dan atasan rajut serta kerudung yang dipakai layaknya anak SMA di luar (kebayang ya). Memang hari itu aku setengah hati ikut acara, selain karena tak ada baju yang 'cocok', badan ku pun sedikit meriang. Tapi rasa tak enak ku pada rekan yang lain, maka aku paksa diriku. Agak telat hadir hingga saat tiba di Fakultas, beberapa orang terlihat sinis. Sekali lagi mungkin memang salah ku hari itu. Hingga ada seorang dari mereka yang menyindir ku secara terang-terangan dan sempat menyindir pondokku. Aku maklum karena dia juga memang berasal dari suatu pesantren salafi modern, dia seorang laki-laki. Dengan hati yang terbiasa sensitif, aku memilih menyingkirkan diri sejenak dari tempat itu. Ada rasa perih yang gak bisa digambarkan. 'Nyesek' banget denger pondok mendapat nilai buruk dari orang lain karena bersanding dengan agennya yang lemah iman ini. Aku melangkah keluar gedung fakultas lalu memilih terjongkok di bawah pohon, menangis.
@sekotenggg @fadhila-trifani @gugunm @adhit21 @mathmythic