Hari-hari menuju pulang adalah hari-hari yang panjang. Adalah hari-hari yang melelahkan, juga menyenangkan. Adalah hari-hari yang mendebarkan, sekaligus mencemaskan.
Hari-hari menuju pulang, nggak tahu kenapa aku selalu saja merasa deg-degan. Banyak kekhawatiran yang berkelebat di pikiranku. "Ilfa, kamu kenapa sebenarnya?", tanyaku suatu hari pada diriku sendiri.
Aku hanya terlalu takut. Aku hanya terlalu mencemaskan banyak hal. Ketakutan terbesarku adalah, aku nggak jadi pulang. Hahaha.
Dulu, aku pernah ketinggalan kapal (iya, kapal yang ada di laut) untuk pulang. Waktu itu, jam keberangkatan kapal hanya sekali. Nggak ada next next-nya. Yaudah, aku akhirnya nggak pulang, dan orang tuaku kecewanya tak terbilang lagi. Aku pernah dijanjikan seseorang untuk berangkat ke suatu tempat yang aku sangat senang sekali waktu itu, tapi tiba-tiba dibatalkan karena beberapa alasan. Aku pernah menanti sesuatu, tapi penantianku hanya berujung sia-sia. Beberapa kali kenyataan mengkhianati harapanku. Duh, sakitnya bukan main.
Aku, yang beberapa kali dikecewakan oleh harapan, masih saja dihantui oleh ketakutan akan kekecewaan itu lagi. Sudah banyak bahkan aku tak bisa mengingat berapa kali aku dikecewakan oleh manusia, lebih tepatnya oleh harapanku sendiri. Aku terlalu takut bagaimana nanti jika begini, bagaimana jika begitu. Gimana kalau nanti ada gangguan di jalan ke bandara? Gimana nanti kalau tiba-tiba penerbangannya harus dibatalkan? Gimana nanti kalau tiba-tiba aku ketinggalan pesawat?
Aku, hanya takut kalau aku harus kecewa lagi. Banyaknya kekecewaan yang sudah aku rasakan membuatku takut akan hal-hal seperti ini. (is that what we called 'trauma'? I don't know and i don't want to have a trauma anyway, hihiiu)
Akhirnya aku harus selalu mengendalikan diriku agar jangan terlalu senang, jangan terlalu bahagia, dan jangan terlalu berharap. Aku lupa, bahwa aku juga tak boleh terlalu cemas. Aku harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja selama ada Allah. Take a deep breath, Ilfa. It's okay. It's okay. It will be okay.
Aku, harus happy and keep calm. Dirimu berhak untuk merasa tenang, Ilfa. Jangan overthinking. Just give it to Allah😊