"Hoy! Di ko sinabing itigil mo panlalandi mo sa 'kin. Kung manlalandi ka rin lang, ako lang. Ako lang ang pwede mong landiin. At ikaw lang ang pwedeng lumandi sa kin " #The18Ways
ladyatlas
seen from China
seen from T1
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from T1
seen from China

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from T1
seen from China
seen from United States

seen from Russia
seen from Philippines
seen from India
seen from T1

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
"Hoy! Di ko sinabing itigil mo panlalandi mo sa 'kin. Kung manlalandi ka rin lang, ako lang. Ako lang ang pwede mong landiin. At ikaw lang ang pwedeng lumandi sa kin " #The18Ways
ladyatlas
Ingatlahhhh
Apa yang gw rasain malem ini, pengen nangis dengan dada yang terasa sesak. Nggak bisa gw tumpahin airnya, nggak bisa gw ungkapin rasanya, dan bukan tentang apa yang udah gw buang beberapa waktu ini, bukan tentang kebodohan tapi lebih karena ternyata gw masih nggak berdaya karena dunia (fana) ini.
Gw takut, karena ini adalah rasa yang pernah gw rasain ketika gw tw apa yang gw lakukan adalah kesalahan, gw nggak berhenti dan terus menabrak semuanya sampai hancur dan nggak berdaya.
Tapi kali ini gw nggak boleh ngalamin hal yang sama, gw punya kondisi yang berbeda, gw punya anak - anak yang masih butuh gw, gw punya istri yang sampai saat ini bahkan selalu setia, gw punya jalur baru yang harus gw selesaikan untuk bisa balikin lagi semuanya kayak dulu, gw masih harus terus dan terus berjuang.
Ingatlahhhh, inilah momentnya, dan gw harap berhenti dari segala kegilaan ini, gw cuma butuh konsisten dengan komitmen yang gw buat. Bismillah, Ya Allah SWT lindungi hamba dan mudahkanlah segala urusan kami hingga kami benar - benar mampu menyelesaikan semuanya permasalahan ini dan selalu berada di jalan orang - orang yang engkau ridhai. Aamiin.
Berharap ini tidak hanya menjadi tulisan kosong tanpa tindakan saja.
Menuju “Pulang”
Kalimat akhirnya adalah : “Semua orang akan pulang pada waktunya”. Yes, this word mengulang - ulang di otak dan pikiran gw yang amat dalam. I know if so many thing that i’ve missed it.
Jadi ceritanya kayak perantau - perantau kebanyakan, ini tiba waktunya gw untuk pulang ke tanah kelahiran. Hehe. Dua tahun udah gw pergi dan sepertinya ini jadi waktu yang tepat untuk coming home.
Tapi bukan gw namanya kalo nggak nyiptain drama - drama dalam kehidupan gw. Di saat gw mw pulang, seolah - olah bayangan bahwa diri ini menolak untuk kembali lagi malah tercipta dengan bebas.
Raga ingin pulang, Jiwa tak ingin kembali. Meski sejujurnya gw lelah, tapi gw masih punya tanggung jawab besar yang belum terselesaikan. Jujur ini berat, sulit dan penuh keraguan. Tapi siapa yang tau akan hari esok ? Jangan pernah lelah untuk berhenti yakin dan teruslah maju karena kita ada dan hidup.
Cahaya Dalam Bayangan (2)
Siang itu aku sedang bermandikan peluh, terik yang terasa tidak mengurungkan niat ku untuk terus men dribble bola basket di tanganku. Ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengambil final step, aku melihat sedikit celah di bawah “Center” lawan. Kuterobos masuk sebelum mengambil arah sebaliknya dan melepaskan “fade away shoot”, 2 point tambahan untuk bagianku.
Terdengar tepukan tangan dari orang - orang di sekitarku, mereka tampak berjejer di depan pintu kelas masing - masing, menyaksikan kami yang tengah bermain basket di sela waktu istirahat siang sebelum pulang.
Sementara itu perhatianku jelas tertuju ke atas, di lantai 2 itu, gedung kelas 3 IPS 2, seorang wanita dengan rambut hitam panjangnya terurai jelas memperhatikanku, tersenyum dan membuatku mengerti apa yang dimaksud dari balik senyumannya tersebut.
Tiara, begitu diriku biasa memanggil sang kekasihku itu. Meskipun jelas terlihat banyak mata terlaihkan kepada dirinya, namun tak sedikitpun ia menunjukkan peduli terhadap sekitarnya. Hingga akhirnya suara bel istirahat selesai membuyarkan semuanya. Yang juga artinya pertandingan harus berakhir dan waktunya kembali ke kelas.
Tiara sudah segera masuk ke kelasnya, seolah tak memperdulikanku yang harus mengeringkan dahulu keringat di baju seragamku ini. Tak penting untuk ku, karena jelas setelah ini pun aku akan segera bertemu dengan dirinya, di waktu pulang sekolah nanti.
Cahaya Dalam Bayangan
"Apa kamu yakin dengan niatanmu ?" Tanya sang kekasihku itu. "Aku tak pernah merasakan seyakin ini sayang". Jawabku tegas terhadap pertanyaan nya tadi.
"Tunggu beberapa minggu ke depan, dan aku datang bersama ayah ibuku menemui keluargamu". Kusambung ucapanku tadi, agar dirinya semakin yakin.
"Jika begitu, jangan lupa kau sampaikan niatmu ini dengan 'dia'. " kekasihku itu rupanya tau akan hal yang membuatku risau.
'Dia' yang sebenernya memang tak lagi memiliki hubungan apapun denganku, meski selalu hadir seolah menagih janji konyol yang pernah sengaja kuucap dalam hati.
Setelah beberapa lama aku memang tak penah bertemu dengan 'dia', namun kehadirannya beberapa waktu lalu seolah mengusik niat baik ku untuk melangkah ke arah yang lebih baik bersama kekasihku kini. Seorang wanita yang tepat berada di hadapanku dan memandang kosong ke gedung di seberang sana.
Ruang Hitam
Sesosok lelaki tua itu hanya duduk termenung, memikirkan apa yang akan terjadi pada putra tertuanya kini seakan membuat dunianya hampa. Pandangannya nanar, entah pada siapa lagi dirinya akan memohon pertolongan.
Tiba beberapa saat hingga pintu ruangan di depannya itu terbuka, dan berjalan sosok anak laki - laki tertuanya menghampirinya. Keduanya berpelukan hingga tak terasa sang ayah meneteskan air mata, menangis terisak tak tertahankan sesak di dadanya yang terluapkan.
Gw mencoba menguatkan hati gw sebelum akhirnya berani mengucapkan kalimat penyesalan. "Maafin saya pah". Berontak rasanya dalam hati ini ingin ikut menangis hingga gw sadar ini tidak akan merubah apapun.
Saat itulah gw benar - benar sadar bahwa sosok yang selalu gw liat tegar menghadapi semua beban hidupnya bisa terlihat begitu rapuh menerima kenyataan yang menimpa gw, anak laki - laki tertuanya ini.
Andai bisa gw ulang, jelas bakalan gw hapus semua kenangan buruk di saat dengan sombongnya gw menolak setiap nasehatnya dulu. Maafkan anakmu pah. Maaf atas segalanya hal buruk yang pernah terjadi antara kita berdua.
Dilema Cinta Lia
"Sudahlah Lia, pada akhirnya ini tidak akan baik". Gw coba mengulangi kalimat yang sama kepada sosok wanita di hadapan gw ini. "Akan tiba waktu dimana kalian mengambil jalan masing - masing. Pikirkanlah itu, jelas dia akan mengambil keputusan yang seharusnya".
Lia yang semula hanya tertegun, akhirnya mulai berani mengangkat wajahnya menatap ke gw. "Aku terlalu bodoh ya mas". Ucapnya lirih.
Gw terdiam sesaat. "Nggak ada yang salah li, hubungan antara seorang laki - laki dan perempuan seperti ini adalah hal yang wajar, kondisi aja yang tampaknya nggak memihak kepada kalian".
Hening sesaat, sebelum akhirnya Lia kembali berani untuk berkata. "Lalu aku harus bagaimana mas ?".
Gw tersenyum, lalu maju untuk memeluk tubuhnya perlahan. "Jalanin aja li, kamu masih terlalu muda untuk menghabiskan waktumu hanya memikirkan hal ini. Yang penting kamu tw batasan nya, berpikir positif aja. Dan jangan lupa untuk terus meminta. Kelak akan hadir yang terbaik untukmu."
Pernah kah Kau Merasa ?
Pernah nggak kalian semua merasa hidup ini adalah dimana diri lu sebagai pemeran utama nya ? Dan itu yang selalu gw rasain.
Waktu masih kecil dulu gw sering ngerasa dan bertanya sama diri gw sendiri, gw ini siapa? Gimana gw bisa lahir? Dan buat apa nantinya gw ini ada? Semacam pertanyaan random yang gak pernah gw bayangin bakal bawa gw dalam posisi sekarang.
Dan sekarang, setelah cerita hidup yang berputar layaknya permainan "roller coaster" gw selalu berpikir 'apakah ini bakalan berakhir indah layaknya cerita - cerita sukses orang besar itu?'
Gw jauh dari orang yang lebih baik lagi, meski sempat merasakan titik balik dari pengalaman "mondok" yang lalu, pada kenyataanya sekarang gw belum bisa merangkai cerita indah layaknya orang - orang itu.
Gw berharap nggak jadi orang yang kufur nikmat, karena inilah yang saat ini mungkin gw butuhin. Allah nggak akan langsung buat keinginan gw terealisasi. Apalagi mungkin ini nggak sepadan dengan kesalahan yang gw buat.
Akhir - akhir ini gw ngerasa lelah, capek dengan segala permasalahan yang emang nggak bisa gw handle sendirian. Tapi yang parah harusnya gw capek dan sadar dengan kebodohan berulang yang gw lakuin.
Allah nggak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah nasib nya sendiri (qs. Ar-Rad :11). Gw yakin tapi masih bingung harus memulai dari yang mana? :(