PUISI MATI
Menggantung hidup di langit-langit kamar,
menenggak tuak sampai batas bahkan melampauinya,
terjun di pinggir lembah yang siap memeluk hangat dalam kegelapan,
bercumbu dengan kuda mesin paling cepat di perempatan jalan,
menyelam kelam di laut temaram tak berpenjaga,
menusuk inti dari usapan ibu yang dijaga begitu hati-hati,
terbakar mengarang dengan erang yang menyakiti hati pemirsanya, dan
menyayat nadi yang tak pernah mau mengerti apa itu keji.
— Bandung, A.









