Kenapa sih Kamu Ngebet Nikah? (Bagian 1)
... marry me, today and every day. Marry me If I ever get the nerve to say hello in this cafe. Say you will... (Train - Marry Me)
Judulnya ngeri-ngeri sedap ya, ibarat makan micin semangkok. Lirik lagunya juga asoy badai, jadi pengen nyawer deh. Kalau pertanyaannya “kenapa” pasti dijawab dengan alasan, terus ditambah kata “ngebet” yang merujuk ke rasa ingin cepat mendapatkan sesuatu, ya nikah itu. Nih ya, alasan orang ingin menikah itu banyak banget, masing-masing orang mungkin punya alasan yang unik, tapi gak usah dijelasin ya, kepanjangan (haha). Secara awam dan mengikuti konten kisah-kisah pernikahan yang sering ditemui (di FTV dan drakor wkwk), alasan paling umum untuk menikah adalah cinta. Nah, sayangnya tulisan ini gak membahas masalah cinta. Tulisan ini sebenarnya merupakan cerita dari penelitian (skripsi) saya di tahun 2014 yang dijabarkan dengan bahasa yang se“ramah” mungkin.
Kata “ngebet” di judul tulisan ini sebenarnya menjadi perias aja, karena dalam penelitian Putra (2014) istilah itu dinamakan desakan menikah. Penelitian itu menjelaskan pengaruh beberapa variabel terhadap desakan menikah, seperti relationship contingency dan orientasi motivasi (ribet ya istilahnya haha). Apaan sih itu? Tenang, saya akan bahas itu satu per satu kok. Sebagai tambahan, penelitian itu bersifat eksperimental dimana ada manipulasi pada variabel orientasi motivasi. Kuy lah takis sob!
Sebenernya di bagian ini mau disisipin lirik lagu Akad punya om-om Payung Teduh, tapi karena bosen dan banyak yg cover, jadi pake intronya aja ya “Teretet tet tet teret, teretet tet tet teret, teretet tet tet teret tereeeeet...”
Usia dewasa muda erat kaitannya dengan komitmen untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Baumeister dan Leary (1995) mengatakan bahwa hasrat untuk memiliki hubungan dengan orang lain adalah motivasi fundamental bagi manusia. Komitmen adalah salah satu bentuk manifestasinya, bisa pacaran atau menikah (kalau kids jaman now mungkin punya istilah yang lebih variatif lagi ya). Apa sih menikah itu? Ternyata ada definisi ilmiahnya loh, menikah adalah komitmen emosional dan legal dari dua orang yang berbagi keintiman fisik dan emosional, tugas-tugas kehidupan, dan sumber daya ekonomi (Olson dan DeFrain, 2006).
Di Indonesia khususnya Jabodetabek, pernikahan juga menjadi isu yang sangat hangat (atau malah panas ya) di kalangan dewasa muda. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara pra penelitian yang dilakukan oleh Putra dan tim payung penelitian (2014) terhadap 21 orang dewasa muda. Peneliti menemukan bahwa terdapat enam faktor umum yang mendorong individu untuk menikah, yaitu keluarga, lingkungan sosial, agama, biologis, dan companionship. Semakin besar faktor ini berpengaruh, semakin besar pula dorongan individu untuk segera menikah, lalu muncul lah desakan menikah. Sanchez, Good, Kwang, dan Saltzman (2008) melakukan studi yang melibatkan desakan menikah sebagai variabel moderator antara relationship contingency dan body shame. Nah, studi itu lah yang melandasi penelitian saya.
Apa sih relationship contingency itu? Agak sulit menemukan padanan kata Bahasa Indonesia yang pas untuk relationship contingency (RC), definisinya secara ilmiah aja lah ya. RC adalah salah satu sumber self-esteem individu yang berasal dari adanya hubungan romantis dengan orang lain (Sanchez & Kwang, 2007). Masih bingung ya? Sama kalau begitu haha. Jadi, si RC ini merupakan salah satu bagian dari model pendekatan self-esteem yang dinamakan contingencies of self-worth (CSW). CSW dikembangkan oleh Crocker dan Wolfe pada tahun 2001 yang memiliki definisi area-area yang menjadi sumber harga diri seseorang sehingga persepsi akan keberhasilan dan kegagalan akan memengaruhi evaluasi diri. Contohnya, si Ujang rajin banget kuliah dan ngerjain tugas, maka ia punya area CSW di “kompetensi akademik”; si Asep selalu shalat tepat waktu dan rajin mengaji, maka ia punya area CSW di “cinta kepada Tuhan”; nah si Samsul gak pernah jomblo, tiap putus cinta pasti langsung punya pacar lagi, maka ia punya area CSW di “relationship contingency”.
Orang-orang yang punya relationship contingency akan berusaha menjalin hubungan atau meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain untuk mempertahankan self-esteem. Kalau mereka gagal dalam membina hubungan dengan orang lain, maka akan menurunkan tingkat self-esteem-nya. Nah, ketika terjadi perubahan signifikan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, orang-orang yang memiliki relationship contingency akan mengalami pengalaman emosional yang besar (Knee, Bush, Canavello & Cook, 2008)
Nah, itu tadi penjelasan yang lumayan singkat mengenai variabel RC dalam penelitian saya. Lanjut ke hasil penelitian untuk variabel RC ya. Hasil penelitian dari 133 partisipan dewasa muda menunjukkan bahwa tingkat RC memengaruhi desakan menikah. Maksudnya, partisipan yang memiliki tingkat RC tinggi lebih merasa terdesak untuk menikah dibandingkan partisipan yang memiliki RC rendah. Hal ini membuktikan adanya mekanisme contingencies of self-worth (CSW) yang salah satu areanya adalah RC. Secara umum, mekanisme CSW akan teraktivasi ketika individu berhadapan dengan situasi yang relevan dengan area CSW yang dimiliki (Crocker & Wolfe, 2001) Bagi orang-orang yang memiliki relationship contingency tinggi, membina komitmen dalam hubungan romantis menjadi situasi yang relevan. Kepemilikan komitmen hubungan romantis akan membuat self-esteem individu cenderung naik sehingga desakan menikah dinilai sebagai kondisi untuk mencapai komitmen tersebut. Selain alasan tersebut, bagi dewasa muda, kepemilikan komitmen hubungan romantis menjadi hal yang penting dalam tahap perkembangan psikososialnya.
Jadi, kamu yang ngerasa ngebet banget nikah, mungkin salah satu faktor pendorongnya adalah tingkat RC kamu yang tinggi. Lalu, mungkin juga self-esteem kamu hanya bertumpu pada satu sumber aja, yaa si RC itu. Tapi ingat, RC hanya salah satu faktor yang bepengaruh, masih ada beberapa faktor lain, salah satunya adalah orientasi motivasi. Variabel orientasi motivasi, metode penelitian, dan alat ukur akan saya bahas pada bagian kedua. Semoga pembahasan ecek-ecek ini memberikan wawasan baru ya, ini studi empiris lho! Hahaha.
Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The need to belong: Desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497-529.
Crocker, J., & Wolfe, C. T. (2001). Contingencies of self-worth. Psychological Review, 108(3), 593-623
Olson, D. H., & DeFrain, J. (2006). Marriages and families: Intimacy, strengths, and diversity (5th ed.). NewYork, NY: McGrawHill
Putra, A. P. (2014). Pengaruh Relationship Contingency dan Orientasi Motivasi terhadap Desakan Menikah pada Dewasa Muda. Skripsi. Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Sanchez, D. T., Good, J. J., Kwang, T., & Saltzman, E. (2008). When finding a mate feels urgent: Why relationship contingency predicts men's and women's body shame. Social Psychology, 39(2), 90-102
Sanchez, D. T., & Kwang, T. (2007). When the relationship becomes her: Revisiting women's body concerns from a relationship contingency perspective. Psychology of Women Quarterly, 31 (4), 401-414
Foto-foto merupakan dokumentasi pribadi