Investasi Pendidikan pada Perempuan, Investasi Pasutri pada Keluarganya
Pendidikan telah terbukti meningkatkan produktivitas manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Pendidikan juga telah membuka akses kepada pekerjaan yang diganjar gaji yang lebih dari cukup buat ‘dapur ngebul’. Dewasa ini, dalam satu bentuk dan lainnya, pendidikan telah membawa banyak anak-anak muda Indonesia tidak hanya mencukupkan syarat gelar akademis tertentu, tapi juga mengunjungi berbagai tempat untuk belajar dari institusi dan orang-orang di berbagai penjuru dunia. Namun, bagaimana bila pendidikan tinggi dan pengalaman kerja pasca pendidikan ini dipakai (hanya) untuk mengasuh beberapa putra dan putri (saja)?
To invest or to sacrifice?
Pendidikan bisa dilihat sebagai jalan atau akses kepada penghidupan yang layak. Pendidikan juga bisa dinilai sebagai jalan pemuasan hasrat belajar dan keingintahuan. Pendidikan bisa jadi sekadar pemenuhan bucket list atau niat menjadi cucuk kebanggaan nenek. Pendidikan juga bisa dianggap sebuah investasi. Nah, yang terakhir ini cukup merepotkan, terutama terkait bagaimana seorang perempuan berpendidikan tinggi dapat mengalah untuk (sekadar) menjadi istri dan ibu penuh waktu.
Buat sampai di aula untuk sumpah dokter, misalnya, orangtua satu orang dokter perempuan sudah hampir pasti menghabiskan beberapa ratus juta rupiah (anak teknik non-Bidikmisi menghabiskan sekitar 100 juta rupiah buat uang semesteran, kosan, dan makan bulanan dalam 4 tahun masa studinya). Dalam kasus calon dokter perempuan, apakah orangtua akan legowo bila putrinya yang sudah jadi dokter (spesialis) memilih menjadi seorang ibu rumah tangga? Tentunya pertanyaan yang sama juga berlaku bagi mahasiswi jurusan lainnya yang disekolahkan orangtua.
Selain terkait investasi, pertanyaan lain yang juga berat dijawab adalah soal beban moral untuk 'mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan’. Belum lagi jika kuliahmu ke luar negeri dibiayai oleh negara, sampai S-3 pula. Pulang kuliah lalu sekadar mengasuh anak di rumah (setelah berkeluarga)? Pertanyaan yang cukup berat.
Sayangnya, profesi atau pekerjaan sebagai ibu rumah tangga masih dilihat sebelah mata. Padahal, mengasuh dan membesarkan para penerus mimpi dan cita-cita bangsa bukan hal sepele. Apalah arti beberapa juta rupiah tambahan uang bulanan bila anak-anak kita nanti hanya menjadi beban negara? Mengamalkan ilmu dan semua 'soft skill’ yang didapat semasa belajar dan berkarir di saat lajang pada sebuah institusi pendidikan dan kasih sayang bernama rumah tangga memang tidak seberat mengajar di kampus. Tapi, beban moralnya cukup besar, bukan?
Bagaimanapun, ada yang mengganjal jika kita membandingkan dua hal yang sama-sama elok lagi mulia, seperti menjadi dosen dan menjadi ibu rumah tangga. Tapi satu hal yang pasti, jika mengasuh anak dan berkarir dipilih di saat yang bersamaan, akan ada masa-masa dimana salah satunya harus dikorbankan. Semua kembali pada kerelaan kita mengorbankan masa emas pertumbuhan anak kita dan kesiapan pasangan suami-istri untuk berjuang ekstrakeras untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Satu hal yang cukup menarik untuk diperhatikan adalah sebagian besar para sarjana, dokter, master, dan doktor hari ini tidak banyak yang menyadari bahwa ibu-ibu mereka telah mengasuh mereka penuh waktu. Jika kamu diasuh oleh ibu dan ayahmu penuh waktu, kenapa kamu (laki-laki dan perempuan) tidak mengupayakan anak-anakmu juga diasuh penuh waktu?
Berkarir adalah pilihan, begitu pula memiliki anak dan mengasuh mereka penuh waktu itu juga pilihan. Jika kamu (perempuan) ingin berkarir sampai ke puncak, maka tirulah Angela Merkel. Beliau baru saja memenangkan pemilu Jerman untuk periode keempat. Dia adalah doktor di bidang Fisika, pernah menjadi menteri lingkungan, dan masih menjabat sebagai ketua partai konservatif di negaranya. Gampangnya, sejak selesai pendidikan S-3, ia menghabiskan usia produktifnya untuk negaranya dengan terjun langsung ke dunia politik. Dia menikah (lalu bercerai dan menikah lagi) dan tidak punya anak.
Commonsense?
Akhir-akhir ini, muncul tren baru bahwa makin tinggi pendidikan seorang perempuan, makin lama datangnya jodoh. Apalagi sejak ada LPDP, kuliah S-2 dan S-3 ke luar negeri menjadi sebuah kewajaran. Tapi, sebenarnya, apa kaitannya tingkat pendidikan dan jodoh?
Ada seorang teman yang bikin survei sederhana terkait hubungan gaji dan jenjang pendidikan terhadap kemungkinan (likelihood) seorang laki-laki memilih calon pasangan hidupnya. Bagaimana, bila gaji calon istrimu lebih besar? Bagaimana, istrimu seorang master sedangkan kamu cuma sarjana atau calon istrimu seorang doktor sedangkan kamu tidak? Hasilnya, memang ada kecenderungan laki-laki sedikit jiper dengan gaji dan gelar akademis. Bagaimanapun, menurut saya, kepelikannya sebenarnya bukan pada gaji dan tingkat pendidikan, melainkan pada proyeksi jangka panjang. Apakah calon istri mau mengalah untuk mengasuh anak penuh waktu?
Lebih dari itu, mencari pasangan juga seperti mencari pekerjaan secara tidak langsung. Headhunter akan mencari applicant cocok, bukan yang overqualified maupun underqualified. Jadi, apapun pilihan yang diambil seorang perempuan, tidak ada salahnya. Toh, pilihan-pilihan hidup yang diambil akan mengarahkanmu padanya atau dia pada dirimu. Eaaa~
Baik bagi laki-laki maupun perempuan, memang cinta bukan soal memilih, tapi dipilih--buat laki-laki tentu saja kamu dipilih oleh calon mertuamu. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri agar bisa dipilih oleh orang yang didambakan. Bagaimanapun, sebanyak perempuan yang memilih untuk berkarir, sebanyak itu pula laki-laki yang sadar pentingnya pengasuhan penuh waktu pada anak mereka nanti.
Mau mengalah?
Lalu, bagaimana bila keduanya (suami-istri) memilih berkarir? Itu pilihan yang masuk akal. Karena tidak ada pemaksaan dalam pilihan hidup bukan? Semua dipilih secara sadar. Saya tentu tidak dalam kapasitas mempertanyakan keseriusan sepasang suami-istri PNS, sepasang suami-istri mengambil PhD di kampus berdekatan, atau sepasang suami istri yang menjadi dosen/peneliti di kota yang sama untuk memiliki momongan. Semua orang berjibaku memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil mereka. Seiring berjalannya waktu, kedua pasangan suami-istri belajar mengatur waktu secara efisien, membagi tugas, dan lain sebagainya--di situlah kelebihan orang berpendidikan tinggi dengan tidak. Orang berpendidikan tinggi itu berkomitmen, cerdas, punya kemampuan komunikasi yang terasah, manajemen waktu yang mumpuni, bi(a)sa bekerja dalam tekanan, bisa multitasking, IT-literate, punya daya serap dan adaptasi yang tinggi, dan seterusnya. Bagaimanapun, akan ada masanya salah seorang harus mengalah lebih banyak karena pendidikan lanjutan atau promosi karir. Sejenak, kadang kita perlu berkompromi.
Seorang teman (bapak tiga anak) pernah bercerita bagaimana putra-putrinya tidak seberprestasi mereka (dia dan istrinya) dulu. Dia dan istrinya bekerja di instansi yang sama. Teman yang lain berbagi keheranan, mengapa adik bungsunya jauh lebih berprestasi dibandingkan dia dulu saat di bangku SD dan SMP. Setelah digali, ternyata saat si bungsu kecil, ibunya sudah di rumah karena pensiun dini. Sedangkan ada juga yang bercerita dia dan semua saudara adalah para juara dari SD sampai SMA. Ayahnya hanya wirausahawan kecil lulusan madrasah tsanawiyah, sedangkan ibunya tidak lulus SD. Tapi, ibunya mengasuh mereka penuh waktu di rumah.
Faktor lain yang jarang diperbincangkan adalah faktor gizi dan perhatian ayah. Seorang teman bercerita bahwa saat baru punya anak satu, buat susu anak, mereka beli yang paling mahal. Tapi tidak begitu untuk anak kedua dan ketiga. Setelah mereka tumbuh remaja, anak pertama ternyata lebih cepat menangkap pelajaran dan lebih peka dibandingkan dua adiknya. Ini tergambar dari nilai rapor, lomba-lomba yang diikuti, dan perlakuan si anak pada orang-orang di lingkungan keluarganya. Sedangkan, satu lagi bercerita, bahwa di keluarganya semua anak diberikan perlakuan yang sama baiknya dan mereka tumbuh menjadi juara di bangku SD hingga SMA. Ibunya menambahkan daging belut di bubur tim mereka, katanya. Mungkin, ini rahasianya ibunya para juara!
Faktor yang tak kalah penting adalah sumbangsih ayah. Mengasuh anak bukan hal mudah. Maka para ibu butuh dukungan para ayah. Anak-anak yang mendapat perhatian ayah di masa kecilnya tumbuh menjadi orang yang lebih berani, baik dalam berkomunikasi maupun mengambil pilihan hidup (sumber: pengamatan pribadi). Tak dapat dipungkiri, ayah punya cara dan pendekatan yang berbeda dengan ibu dalam melihat hal baru (protektif/eksploratif), mengatasi krisis, memberikan reward and punishment, dan sebagainya. Dengan sentuhan keduanya, anak akan tumbuh lebih bijak dan luas pandangannya.
Sebagai penutup, barangkali memang ada kaitannya antara pendidikan tinggi yang diambil perempuan dengan jodoh yang tidak kunjung tiba. Tapi, menghambat aspirasi seorang anak bangsa, apapun gendernya, untuk belajar dan menimba ilmu tidaklah elok. Di setiap pilihan hidup yang kita ambil, kita baru saja mengambil satu atau beberapa langkah mendekati (atau menjauhi) sang jodoh kita idam-idamkan. Terlepas dari preferensi para akhwat sholihah intelektual dalam memilih pasangan hidup, jangan sampai ada yang menyalahkan jodoh yang belum juga datang melamar. Salahin yang lain gitu, apa kek--kurang banyak sedekah, kurang banyak istighfar, kurang banyak berbuat baik pada kedua orangtua. Pepatah bilang, semua akan indah--juga basi--pada waktunya.











